Penyelenggaraan INACRAFT October 2026 menjadi panggung pembuktian bahwa industri kriya dan wastra Nusantara mampu naik kelas melalui sentuhan riset serta teknologi. Melalui sesi Craft Talk bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), para peneliti memaparkan terobosan eco-wastra berbasis bahan alam hingga teknologi otentikasi untuk melindungi keaslian karya perajin lokal.
Mengusung semangat Technocraft, sesi diskusi yang berlangsung di area panggung utama INACRAFT October 2026, Rabu (7/10/2026) ini menghadirkan dua peneliti dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, yakni Dr. Maya Ismayanti dan Dr. Harits Atika.
Diskusi interaktif ini mengupas tuntas bagaimana riset sains hadir untuk memberikan nilai tambah sekaligus proteksi bagi produk kerajinan ramah lingkungan di Indonesia.
Dalam paparannya bertajuk “Eco-wastra: Inovasi Pewarna Alami untuk Industri Kreatif Ramah Lingkungan”, Maya Ismayanti, menggarisbawahi pentingnya menekan penggunaan pewarna sintetis yang berpotensi merusak lingkungan akibat maraknya dampak fast fashion.
Menurutnya, kekayaan flora Nusantara seperti tanaman ketapang, secang, hingga mangrove memiliki kandungan yang tak hanya menghasilkan warna khas earth tone, tetapi juga memberi fitur perlindungan kesehatan.
“Ternyata dari heritage leluhur kita, kain dengan pewarna alami itu punya fungsi ekstra seperti anti-UV dan anti-bakteri. Setelah kami uji sampelnya, nilai Ultraviolet Protection Factor (UPF) pada kain tenun maupun batik pewarna alami ini bisa mencapai angka 45 hingga 50 plus,” jelas Maya.
Inovasi Carbon Dots dan Penanda Anti-Pemalsuan Wastra
Tantangan industri kriya tekstil tidak hanya berputar pada isu lingkungan, melainkan juga maraknya pemalsuan produk kain tradisional bernilai tinggi. Menjawab permasalahan tersebut, Harits Atika memperkenalkan inovasi penanda keaslian tersembunyi memanfaatkan material nano bernama carbon dots.
Harits memaparkan bahwa limbah biomassa seperti lignin dapat diolah menjadi carbon dots yang efisien dan terjangkau. Material ini memiliki sifat fluoresensi yang dapat ditanamkan ke dalam serat benang, lapisan coating, hingga cap pada kain tanpa merubah tampilan visual asli produk.
“Keaslian kain tidak cukup hanya terlihat, ia perlu dibuktikan. Carbon dots ini tidak kasat mata di bawah cahaya normal. Namun, ketika di bawah sinar ultraviolet (UV), kain akan memancarkan pendaran warna yang menjadi bukti otentikasi bahwa produk tersebut adalah karya asli,” ungkap Harits.
Kendati menawarkan potensi besar bagi industri tekstil nasional, Harits menegaskan bahwa inovasi ini masih membutuhkan pengembangan dan pengujian lanjutan. Tantangan utamanya terletak pada standarisasi bahan baku biomassa yang bervariasi di alam serta pengujian durabilitas pendaran saat kain dicuci berulang kali.
“Karena bahan baku carbon dots berasal dari alam, intensitas pendarannya bisa berbeda-beda. Kami masih perlu meneliti lebih lanjut tingkat ketahanannya pada kain, termasuk sampai berapa kali pencucian pendaran tersebut dapat bertahan,” terang Harits.
Kolaborasi antara BRIN dan ASEPHI di panggung INACRAFT October 2026 diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendekatkan dunia riset dengan kebutuhan praktis para perajin. Melalui hal ini, inovasi berbasis sains diharapkan dapat terus berkembang agar benar-benar dapat diterapkan secara terukur oleh para pelaku industri kriya nasional. (Disya)





