Tren desain interior global yang mengedepankan bentuk organik, material alami, dan sentuhan kerajinan tangan diperkirakan akan semakin mendominasi pasar furnitur pada 2026. Salah satu produk yang mulai mencuri perhatian adalah bangku dapur atau kitchen stool berbentuk skulptural berbahan kayu dengan lekukan alami yang menggabungkan fungsi, kenyamanan, dan nilai artistik.
Di berbagai pameran desain internasional, furnitur berbentuk organik kini menjadi bagian dari pergeseran selera konsumen yang menginginkan produk lebih personal, hangat, dan dekat dengan alam. Bangku dapur yang sebelumnya hanya dianggap elemen pelengkap kini berkembang menjadi pusat perhatian dalam desain ruang modern.
Desainer interior internasional menilai tren tersebut lahir dari meningkatnya minat terhadap estetika alami yang menonjolkan tekstur kayu, bentuk melengkung, serta sentuhan kerajinan tangan. Selain berfungsi sebagai tempat duduk, furnitur jenis ini juga diposisikan sebagai karya seni yang memperkuat karakter ruang.
Perkembangan tren global tersebut dinilai membuka peluang besar bagi industri kriya Indonesia yang selama ini dikenal memiliki kekuatan pada pengerjaan kayu, rotan, bambu, hingga berbagai material alami lainnya.
Sejumlah laporan industri global menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Lembaga riset pasar Global Growth Insights memperkirakan nilai pasar furnitur kayu dunia mencapai US$126 miliar pada 2026, naik dibandingkan US$120 miliar pada 2025. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan furnitur rumah tangga, produk dekorasi premium, serta kecenderungan konsumen memilih material alami dan berkelanjutan.
Tren serupa juga tercermin dalam laporan IMARC Group yang menyebutkan pasar furnitur kayu global akan terus bertumbuh dengan laju sekitar 4 persen per tahun hingga 2034. Faktor pendorong utamanya adalah urbanisasi, pertumbuhan kelas menengah, serta meningkatnya kesadaran konsumen terhadap penggunaan material yang ramah lingkungan.
Mengutip catatan Wood Furniture Market Analysis dari Mordor Intelligence, kawasan Asia-Pasifik menjadi pasar sekaligus pusat produksi furnitur kayu yang paling dinamis. Pada 2025 wilayah ini menguasai lebih dari 38 persen pangsa pasar furnitur kayu dunia dan diproyeksikan menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat hingga beberapa tahun ke depan.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi peluang strategis. Industri furnitur nasional memiliki keunggulan berupa ketersediaan bahan baku, keterampilan perajin, serta kekayaan desain berbasis budaya lokal yang semakin diminati pasar global. Sentra furnitur seperti Jepara, Pasuruan, Cirebon, Bali, dan Sukoharjo selama ini menjadi pemasok berbagai produk furnitur kayu untuk pasar Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, hingga Asia Timur.
Ketua Umum ASEPHI, Muchsin Ridjan menekankan bahwa masa depan industri kriya Indonesia tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi, tetapi juga pada kemampuan membaca perubahan tren global. Produk kerajinan yang mengedepankan keberlanjutan, desain kontemporer, dan identitas budaya lokal kini menjadi incaran pasar internasional.
Fenomena tersebut juga menjadi sinyal positif bagi penyelenggaraan INACRAFT yang selama ini menjadi etalase utama produk kriya nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, INACRAFT menunjukkan perubahan signifikan pada karakter produk yang ditampilkan. Jika sebelumnya didominasi produk dekoratif tradisional, kini semakin banyak perajin menghadirkan furnitur, home décor, dan produk gaya hidup yang mengadopsi tren desain global tanpa meninggalkan identitas lokal.

Penggunaan material alami seperti kayu jati, mahoni, suar, bambu, dan rotan menjadi salah satu kekuatan utama yang dimiliki Indonesia. Material tersebut selaras dengan tren global yang mengedepankan konsep keberlanjutan dan desain ramah lingkungan.
Pelaku industri menilai produk furnitur kriya Indonesia memiliki peluang besar untuk masuk ke segmen premium internasional karena menawarkan nilai yang sulit ditiru produk manufaktur massal, yakni sentuhan kerajinan tangan, keunikan bentuk, serta cerita budaya di balik proses pembuatannya.
Dalam konteks ini, upaya ASEPHI melalui berbagai program pembinaan, promosi ekspor, dan penyelenggaraan INACRAFT menjadi semakin relevan. Organisasi tersebut terus mendorong perajin untuk tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam desain yang sesuai dengan kebutuhan pasar global.
Perubahan tren dari furnitur serba minimalis menuju bentuk yang lebih organik dan artistik dipandang sebagai momentum bagi industri kriya nasional untuk memperluas pasar. Produk-produk berbahan alami yang sebelumnya dianggap tradisional kini justru menjadi simbol kemewahan baru di pasar internasional.
Dengan kekayaan material, keterampilan perajin, dan dukungan promosi melalui INACRAFT, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam pasar furnitur dan dekorasi rumah berbasis kriya yang terus tumbuh di tingkat global. Di tengah meningkatnya permintaan terhadap produk yang autentik dan berkelanjutan, karya para perajin Indonesia berpotensi tidak hanya menjadi pelengkap ruang, tetapi juga bagian dari gaya hidup dunia.





