Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa Gen Z, mengubah orientasi kariernya: kembali ke desa dan menjadi penggerak ekonomi berbasis koperasi. Ajakan itu disampaikan dalam Soemitro Fest – Koperasi Goes To Campus di UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Kota Serang, Banten, Selasa, 24 Februari.
“Generasi muda ketika kembali ke desa, harus mampu mengembangkan jiwa kewirausahaan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” kata Farida.
Ia menyinggung ironi yang kerap terjadi: sumber daya alam berlimpah berada di desa, namun pengelolaannya justru didominasi pihak luar. Sementara itu, sumber daya manusia desa memilih hijrah ke kota untuk kuliah dan mencari kerja. “Adanya Kopdes Merah Putih ini salah satunya untuk menghapus ironi tersebut,” ujarnya.
Menurut Farida, mahasiswa dapat memulai dengan memetakan potensi ekonomi di desa asal—mulai dari pertanian, peternakan, hingga perkebunan—lalu mengolahnya menjadi usaha produktif bernilai tambah. Ia memberi contoh sederhana: desa penghasil tomat tak berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi mengembangkan produk turunan seperti saus sambal atau minuman kemasan.
Seluruh potensi itu, kata dia, dapat dikonsolidasikan dalam Kopdes Merah Putih. Melalui koperasi, jaringan pemasaran antarwilayah dapat dibangun lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Farida menegaskan koperasi modern dan profesional merupakan ruang strategis bagi Gen Z untuk berekspresi dan berkarier. “Anak muda, jangan ragu menjadi anggota koperasi, jangan ragu berkarya di koperasi, dan jangan ragu berkarier di koperasi,” ujarnya. Ia menambahkan, koperasi bukan pilihan kedua atau tempat singgah sementara, melainkan wadah membangun masa depan bersama.
Melalui koperasi, mahasiswa dapat mempraktikkan kepemimpinan secara langsung—mulai dari bernegosiasi, mengambil keputusan, mengelola risiko, hingga membangun kepercayaan. “Ini adalah wadah praktik kepemimpinan yang sangat nyata,” kata Farida.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kementerian Koperasi Destry Anna Sari menambahkan, kolaborasi dengan perguruan tinggi akan terus diperluas, terutama di wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam besar. “Ini inisiatif yang mempertemukan dunia kebijakan, dunia koperasi, dan dunia kampus. Tiga kekuatan yang jika bersatu mampu mengubah wajah perekonomian bangsa,” ujarnya.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, menilai tren global menunjukkan koperasi berkembang pesat di berbagai negara. Ia mencontohkan Kanada dengan sekitar 70 persen penduduknya menjadi anggota koperasi, Prancis 35 persen, hingga kontribusi koperasi terhadap PDB Brasil yang mencapai 34,7 persen. Di Kuwait, lebih dari 70 persen perdagangan ritel disebut dikuasai koperasi.
Melihat tren tersebut, Ishom mendorong mahasiswa menciptakan produk yang dapat dikembangkan melalui koperasi. Kampus, kata dia, akan mendukung penguatan literasi perkoperasian, termasuk rencana pembentukan program studi khusus koperasi.
Ajakan kembali ke desa itu, pada akhirnya, bukan sekadar romantisme kampung halaman. Bagi pemerintah, ia menjadi strategi membangun ekonomi dari pinggiran—dengan Gen Z sebagai motor penggeraknya.





