The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 resmi dibuka di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026. Forum internasional bertema Inclusively Creative: Collective Continuity ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan komunitas kreatif untuk membahas pengembangan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Presiden Prabowo Subianto, melalui sambutan yang disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, menegaskan peran ekonomi kreatif sebagai penggerak pertumbuhan nasional sekaligus sarana memperkuat diplomasi budaya.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan ekonomi kreatif memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Berdasarkan data UN Trade and Development (UNCTAD), ekspor barang dan jasa kreatif global mencapai US$ 1,7 triliun pada 2024. Di Indonesia, sektor ini menyumbang 7,38 persen terhadap produk domestik bruto dan menyerap 27,4 juta tenaga kerja.

Teuku Riefky menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, kreator, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Salah satu agenda utama WCCE 2026 adalah penyusunan Jakarta Vision on Creative Economy, yang mencakup pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), ekonomi sirkular, pengembangan ekosistem inklusif, serta perlindungan kekayaan intelektual.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon turut menegaskan bahwa budaya bukan sekadar beban belanja pemerintah, melainkan modal produktif bagi inovasi ekonomi kreatif. Menurut dia, kekayaan budaya Indonesia menjadi fondasi bagi pengembangan film, musik, kriya, dan berbagai produk kreatif lainnya.
Fadli mendorong penguatan ekosistem budaya dari hulu hingga hilir, mulai dari pelindungan warisan dan pengetahuan tradisional, pembinaan talenta, hingga perluasan pemasaran karya ke tingkat internasional. Ia juga menekankan pentingnya ekonomi budaya sirkular agar manfaat ekonomi dari karya kreatif dapat kembali mendukung komunitas budaya dan regenerasi pencipta.
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyoroti peran riset dan teknologi dalam meningkatkan daya saing produk kreatif Indonesia. Pemanfaatan warisan budaya untuk pengembangan gim lokal serta inovasi teknologi pangan menjadi contoh bagaimana pengetahuan dan teknologi dapat memperluas nilai ekonomi produk berbasis budaya.
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, ekonomi digital, dan kecerdasan buatan. Adapun Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menekankan perlindungan kekayaan intelektual agar kreator memperoleh manfaat ekonomi yang lebih adil dari karya mereka.

ASEPHI Dorong Inovasi dan Perlindungan Produk UKM
Hadir dalam pertemuan WCCE 2026 tersebut Ketua Umum ASEPHI Hatman, Wakil Ketua Umum I ASEPHI Bidang Kerja Sama Antar-Lembaga, Regional dan Internasional Baby Jurmawati, serta Sekretaris Jenderal ASEPHI Subchi Subekti.
ASEPHI melihat forum tersebut sebagai kesempatan untuk memperkuat kapasitas anggota, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di bidang kerajinan atau craft. Pengembangan produk, pemanfaatan teknologi digital dan AI, serta perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi perhatian utama organisasi tersebut.
Sekretaris Jenderal ASEPHI Subchi Subekti mengatakan keikutsertaan organisasinya di WCCE diharapkan memberikan manfaat nyata bagi anggota dan UKM binaan.
“Kehadiran ASEPHI dalam forum World Conference on Creative Economy yang diselenggarakan oleh Kementerian Ekraf RI, kami berharap bisa memberikan manfaat bagi anggota kami dalam hal pengembangan produk dan perlindungan produk hasil kreativitas UKM-UKM binaan ASEPHI,” ujarnya.
Menurut Subchi, ada dua hal yang ingin didorong melalui partisipasi tersebut. Pertama, pengembangan produk melalui pelatihan dan pemanfaatan teknologi, terutama digitalisasi dan AI, untuk memperkuat inovasi serta kreativitas pelaku UKM Indonesia.
Kedua, perlindungan produk melalui pengakuan dan pendaftaran hak kekayaan intelektual. Ia berharap produk hasil kreativitas UKM memperoleh perlindungan resmi sehingga memiliki kepastian hukum dan peluang lebih besar untuk bersaing di pasar.
Subchi juga berharap manfaat tersebut dapat dirasakan oleh pelaku usaha kriya, craft, dan produk hadiah khas Indonesia atau gift Indonesia, khususnya anggota ASEPHI.
WCCE 2026 menghadirkan delegasi dari lebih dari 80 negara dan tujuh organisasi internasional, termasuk 38 menteri serta perwakilan tingkat tinggi. Forum ini melibatkan 183 pembicara dan moderator, dengan target lebih dari 6.000 peserta. Adapun Creativillage diperkirakan menarik sekitar 20 ribu pengunjung.
Melalui forum ini, pemerintah mendorong kolaborasi antara kebudayaan, teknologi, industri, dan perlindungan hukum. Bagi pelaku UKM, tantangan berikutnya ialah menerjemahkan gagasan konferensi menjadi peningkatan kualitas produk, perlindungan kekayaan intelektual, perluasan akses pasar, dan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.




