Sebuah lembaga pendidikan keagamaan berbasis tahfiz Al-Qur’an resmi mulai beroperasi di Bandar Lampung. Lembaga yang diberi nama Pendidikan Tahfiz Quran Baitul Muchsinin itu berdiri di Jl. Raden Fatah No. 88, RT 010, LK II, Kelurahan Palapa, Kecamatan Tanjung Karang, Bandar Lampung, di bawah naungan Yayasan Erni Hastuti Muri Palapa.
Ketua yayasan, Dr. Muchsin Ridjan, mengatakan pendirian lembaga ini dilandasi semangat untuk memperluas akses pendidikan Al-Qur’an bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang belum mampu membaca dengan baik.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat, pada tahap awal ini secara gratis,” kata Muchsin saat ditemui dalam wawancara, Selasa.
Menurut dia, program pendidikan tersebut terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat, tidak terbatas hanya bagi keluarga kurang mampu. Yayasan, kata dia, memilih membuka akses pendidikan tanpa biaya sebagai bentuk pengabdian sosial dan dakwah.
“Bukan hanya untuk masyarakat yang tidak mampu, tetapi untuk semua. Bagi yang ingin berinfak, tentu kami persilakan,” ujarnya.
Muchsin menjelaskan, untuk saat ini lembaga masih berfokus pada pendidikan agama Islam, khususnya tahfiz dan kemampuan membaca Al-Qur’an. Status kelembagaan formal masih dalam proses pengurusan perizinan, termasuk koordinasi dengan instansi terkait.
Ia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah pendidikan agama, terutama pembinaan dasar baca Al-Qur’an dan hafalan. Tenaga pengajar yang terlibat, menurut Muchsin, berasal dari lulusan pesantren dan memiliki latar belakang pendidikan keislaman. “Pengajar-pengajarnya dari lulusan pesantren,” ujarnya.
Sejauh ini, jumlah santri yang telah mendaftar dan mengikuti pembelajaran mencapai 81 murid. Angka tersebut dinilai cukup menggembirakan untuk lembaga yang baru mulai beroperasi.
Untuk masa pendidikan, yayasan menyatakan akan mengikuti kurikulum pendidikan agama yang berlaku dan tunduk pada ketentuan dari instansi terkait, termasuk Kementerian Agama Republik Indonesia.
Muchsin mengatakan, konsep pembelajaran saat ini belum berbentuk boarding school atau pesantren berasrama. Model asrama masih menjadi rencana pengembangan pada tahap berikutnya. “Untuk sekarang belum boarding, nanti ke depan,” katanya.

Ia berharap kehadiran Baitul Muchsinin dapat menjadi ruang awal bagi anak-anak yang belum mampu membaca Al-Qur’an. “Kami berharap anak-anak yang belum mampu membaca Al-Qur’an bisa belajar gratis pada tahap pertama ini,” ujar Muchsin.
Menurut dia, tujuan lembaga ini tidak berhenti pada kemampuan membaca atau menghafal semata, tetapi juga mendorong pemahaman isi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. “Yang penting bukan hanya dibaca. Al-Qur’an juga harus dipahami sebagai pegangan hidup. Kalau tidak bisa membaca, bagaimana mereka bisa memahami isinya,” kata Muchsin.
Nama Baitul Muchsinin, kata dia, dipilih sebagai identitas lembaga pendidikan, sementara yayasan yang menaunginya menggunakan nama Yayasan Erni Hastuti Muri Palapa, yang didedikasikan sebagai bagian dari nilai kekeluargaan dan pengabdian sosial.
Pendirian lembaga ini menambah daftar inisiatif pendidikan keagamaan berbasis masyarakat di Bandar Lampung, di tengah meningkatnya kebutuhan akan pembelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak usia dini dan remaja.





