Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperluas kerja sama internasional guna mempercepat transformasi industri nasional dan memperkuat daya saing manufaktur Indonesia di pasar global. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjajaki peluang kemitraan strategis dengan Pemerintah Kota Xiamen, Tiongkok, di sela penyelenggaraan BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan forum BRICS PartNIR menjadi wadah penting bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat kolaborasi industri, adopsi teknologi, dan pengembangan manufaktur berbasis inovasi.
“Indonesia berkomitmen memperluas kerja sama internasional yang mampu memberikan nilai tambah nyata bagi pengembangan industri nasional, terutama dalam menghadapi percepatan transformasi industri global,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta.
Upaya tersebut ditindaklanjuti melalui pertemuan bilateral antara delegasi Indonesia yang dipimpin Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, dengan Wali Kota Xiamen, Wu Bin, di Xiamen, pekan lalu.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas peluang kerja sama di berbagai sektor strategis, termasuk investasi industri, pengembangan kawasan industri, transfer teknologi, hingga penguatan rantai pasok global. Xiamen dinilai memiliki posisi penting sebagai salah satu Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zone/SEZ) paling maju di Tiongkok dengan ekosistem industri yang berkembang pesat.
“Kami melihat Xiamen memiliki ekosistem industri yang sangat maju dan sejalan dengan arah pengembangan industri Indonesia. Melalui kerja sama yang lebih erat, kami berharap dapat mendorong masuknya investasi, transfer teknologi, serta penguatan rantai pasok yang mendukung pengembangan industri nasional,” ujar Tri.
Menurut Tri, Indonesia membuka peluang yang luas bagi investor asal Xiamen untuk berinvestasi di berbagai sektor unggulan. Pemerintah Kota Xiamen bahkan telah mengajukan sejumlah bidang potensial yang dapat menjadi fokus kerja sama, antara lain industri otomotif, pusat data (data center), layanan kesehatan, pariwisata digital, sektor perikanan, hingga konstruksi prefabrikasi.
Sebagai salah satu kota industri terkemuka di Tiongkok, Xiamen dikenal memiliki kekuatan pada sektor semikonduktor, komponen elektronik, peralatan listrik pintar, logistik pelabuhan, serta industri pemeliharaan dan perbaikan pesawat atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO). Keunggulan tersebut dinilai relevan dengan agenda transformasi industri nasional yang tertuang dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.
Dalam kesempatan itu, delegasi Indonesia juga mempromosikan potensi kawasan industri nasional sebagai tujuan investasi. Saat ini Indonesia memiliki 175 kawasan industri dengan total luas lebih dari 98 ribu hektare yang tersebar di berbagai wilayah. Pemerintah menawarkan berbagai insentif fiskal dan nonfiskal guna menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di sektor manufaktur.
Hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok sendiri terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Tiongkok masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar US$154,5 miliar pada tahun lalu. Selain itu, negeri tersebut juga menjadi salah satu sumber investasi terbesar, terutama pada sektor hilirisasi, manufaktur, dan pembangunan infrastruktur industri.
Melalui partisipasi aktif dalam forum BRICS PartNIR 2026, Indonesia berupaya memperluas akses terhadap pasar, teknologi, dan investasi global. Kerja sama yang tengah dijajaki dengan Pemerintah Kota Xiamen diharapkan mampu mempercepat transformasi manufaktur nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri dunia.
Kemenperin menilai kolaborasi internasional yang berbasis pada investasi, inovasi, dan transfer teknologi akan menjadi salah satu kunci untuk membangun industri nasional yang lebih modern, berdaya saing, dan berkelanjutan di tengah perubahan lanskap ekonomi global.





