Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat kolaborasi dengan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) untuk mengembangkan ekosistem media digital, meningkatkan kapasitas talenta kreatif, serta memperluas peran media siber dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan jajaran pengurus SMSI di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas sejumlah peluang kerja sama, mulai dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis media digital, pelatihan talenta kreatif, hingga penguatan kapasitas perusahaan media siber agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat.
Teuku Riefky mengatakan ekonomi kreatif kini menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus mendorong penguatan kelas menengah. Menurut dia, sektor tersebut memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan teknologi digital dan industri media.
“Saat ini ekonomi kreatif menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah. Salah satu tantangannya adalah bagaimana menghadirkan regulasi dan ekosistem yang mendukung lahirnya produk, karya, dan talenta kreatif yang semakin kompetitif,” kata Riefky.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif karena ditopang kekayaan budaya yang beragam. Potensi tersebut dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi melalui berbagai platform digital, termasuk media siber dan industri konten.
Riefky menilai kolaborasi dengan SMSI dapat membuka peluang pengembangan program pelatihan digital bagi pelaku media di daerah, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak konten yang mengangkat potensi ekonomi kreatif lokal ke tingkat nasional maupun internasional.
“Ekonomi kreatif dapat menjadi solusi dalam menyerap tenaga kerja generasi muda. Karena itu, penguatan kapasitas digital dan peningkatan kompetensi talenta kreatif menjadi sangat penting agar mereka mampu tumbuh dan naik kelas,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Dewan Penasehat SMSI Taufiqurochman mengapresiasi perhatian Kementerian Ekraf terhadap pengembangan industri media digital. Ia mengatakan organisasi yang dipimpinnya siap mendukung berbagai program pemerintah untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif.
SMSI juga mengusulkan program pelatihan bagi perusahaan media siber agar dapat mengembangkan model bisnis baru melalui platform digital, termasuk optimalisasi konten video dan monetisasi kanal YouTube.
“Kami berharap ada bimbingan dan pendampingan dari Kementerian Ekraf sehingga media siber tidak hanya berperan sebagai penyedia informasi, tetapi juga menjadi bagian dari penggerak ekonomi kreatif nasional,” kata Taufiqurochman.
Menurut data SMSI, organisasi tersebut saat ini menaungi lebih dari 3.100 perusahaan media siber yang tersebar di seluruh Indonesia. Jaringan tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung penyebaran informasi, promosi ekonomi kreatif daerah, hingga pengembangan konten digital berbasis komunitas.
Direktur Media Krisis Center SMSI, Nishal Dillon, mengatakan perkembangan teknologi digital telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. Karena itu, media siber perlu terus berinovasi agar tetap relevan sekaligus mampu menciptakan nilai ekonomi baru.
“Generasi muda saat ini merupakan digital native yang sangat dekat dengan teknologi. Karena itu, media digital memiliki peluang besar untuk ikut membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas dan berkualitas,” ujarnya.
Kementerian Ekraf berharap sinergi dengan SMSI dapat memperkuat transformasi media siber Indonesia sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak talenta kreatif yang mampu bersaing di era ekonomi digital. Kolaborasi tersebut juga diharapkan memperluas peran media dalam mempromosikan karya kreatif lokal serta memperkuat kontribusi ekonomi kreatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.





