Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai salah satu negara penghasil produk kerajinan terbesar di dunia. Kekayaan budaya, keberagaman suku, serta tradisi kriya yang tumbuh di berbagai daerah membuat produk kerajinan Indonesia memiliki karakter khas yang sulit ditiru negara lain.
Produk-produk handmade asal Indonesia kini semakin diminati pasar global, mulai dari dekorasi rumah berbahan rotan, ukiran kayu, perhiasan logam dan batu mulia, hingga kain batik dan tenun. Permintaan yang terus meningkat itu membuka peluang besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menembus pasar internasional.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan sektor furnitur dan kerajinan Indonesia mencatat nilai ekspor lebih dari US$ 3 miliar sepanjang 2025. Kontribusi terbesar berasal dari produk berbahan kayu, rotan, anyaman, tekstil kriya, serta dekorasi rumah yang banyak diekspor ke Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Timur Tengah.
Sementara itu, laporan IMARC Group menyebut pasar kerajinan global diproyeksikan terus tumbuh hingga mencapai lebih dari US$ 2 triliun pada 2034. Tren konsumen dunia saat ini bergerak menuju produk handmade, ramah lingkungan, dan memiliki nilai budaya yang kuat.
Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Muchsin Ridjan mengatakan Indonesia memiliki kekuatan besar dalam industri kerajinan karena ditopang kekayaan tradisi dan keterampilan tangan para perajin di berbagai daerah.
“Kerajinan Indonesia bukan sekadar produk, tetapi representasi budaya dan identitas bangsa. Itu yang membuat produk kita memiliki daya tarik tinggi di pasar global,” kata Muchsin Ridjan.
Menurut dia, pasar internasional kini semakin menghargai produk dengan sentuhan personal dan proses produksi manual dibanding barang massal pabrikan. Karena itu, produk kriya Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang selama mampu menjaga kualitas, desain, dan kesinambungan produksi.
“Dunia sekarang mencari produk yang autentik, punya cerita, dan memiliki nilai keberlanjutan. Indonesia punya semua itu,” ujarnya.
Produk berbahan rotan menjadi salah satu komoditas kerajinan yang paling diminati pasar internasional. Indonesia diketahui merupakan salah satu produsen rotan terbesar dunia dengan pasokan bahan baku melimpah. Produk furnitur dan dekorasi berbahan rotan asal Indonesia banyak digunakan untuk interior rumah, hotel, restoran, hingga resort di berbagai negara.
Selain rotan, ukiran kayu dari daerah seperti Jepara, Bali, dan Toraja juga tetap menjadi primadona ekspor. Keunikan motif dan detail pengerjaan manual membuat produk ukiran Indonesia memiliki nilai jual tinggi di pasar premium.
Laporan Craft Industry Alliance menyebut dekorasi rumah artisan dan produk berbahan alami menjadi salah satu kategori dengan pertumbuhan tercepat di pasar global. Konsumen dunia kini cenderung memilih produk yang unik dan tidak diproduksi massal.
Produk perhiasan berbahan logam dan batu mulia asal Indonesia juga semakin mendapat perhatian internasional. Sentra perak seperti Celuk di Bali dan Kotagede di Yogyakarta dikenal luas sebagai penghasil perhiasan handmade dengan desain artistik dan bernilai budaya.
Di sektor tekstil kriya, kain batik dan tenun masih menjadi ikon kerajinan Indonesia di mata dunia. Pengakuan batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO turut memperkuat posisi produk tersebut di pasar internasional. Produk tenun dari Nusa Tenggara, Sumatera, hingga Kalimantan kini banyak digunakan dalam industri fesyen global berbasis sustainable fashion.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah terus mendorong ekspor produk UMKM dan kerajinan melalui penguatan promosi dagang, digitalisasi pemasaran, hingga kemudahan akses ekspor bagi pelaku usaha kecil.
“Produk kerajinan Indonesia memiliki keunggulan karena berbasis budaya dan kreativitas lokal. Pemerintah ingin UMKM kriya semakin mudah masuk pasar ekspor,” kata Budi Santoso.
Pelaku industri kriya internasional juga mulai melihat Indonesia sebagai salah satu pusat produk artisan dunia. Kurator desain dan kriya asal Inggris, Richard Goldsworthy, dalam London Craft Week 2026 menyebut produk handmade Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki kekuatan pada identitas budaya dan teknik tradisional yang semakin langka di dunia modern.
“Pasar global saat ini menghargai produk yang dibuat manusia, bukan mesin. Produk Indonesia punya kekuatan besar karena memiliki warisan budaya yang hidup,” ujarnya.
Dengan tren global yang semakin mengarah pada produk berkelanjutan dan handmade, industri kerajinan Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk terus memperluas pasar ekspor sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu pusat kriya dunia.





