• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Art

Sisa Batu Menjadi Mahakarya Interior, Hadirkan Sentuhan Alam ke Dalam Rumah

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
May 25, 2026
in Art, Design
0
Sisa Batu Menjadi Mahakarya Interior, Hadirkan Sentuhan Alam ke Dalam Rumah

Image credit: Suryan Dang

0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah industri desain global yang semakin didominasi produksi massal dan material seragam, studio desain asal Los Angeles, Borrowed Earth Collaborative, justru menempuh arah berbeda. Lewat eksplorasi batu alam bekas dan pendekatan kriya berkelanjutan, studio yang dipimpin seniman sekaligus entrepreneur Ruchika Grover itu menghadirkan permukaan interior yang menyerupai karya seni arsitektural.

Borrowed Earth Collaborative dikenal memproduksi panel, ubin, hingga bata dekoratif dari limbah marmer dan batu kapur yang sebelumnya terancam berakhir di tempat pembuangan. Melalui pengolahan ulang berbasis craft dan teknologi presisi, material sisa tersebut diubah menjadi elemen interior bertekstur yang menghadirkan nuansa alam ke dalam ruang modern.

Grover, seniman otodidak kelahiran India yang kini berbasis antara Los Angeles dan New Delhi, mengembangkan pendekatan desain yang menonjolkan karakter asli batu alam. Retakan, urat batu, hingga ketidaksempurnaan material justru dipertahankan sebagai identitas visual utama.

Selama lebih dari 16 tahun, Grover mengembangkan studio terintegrasi yang menggabungkan seni, arsitektur, dan teknologi manufaktur modern. Ia memadukan teknik kriya tradisional dengan mesin berteknologi tinggi untuk menciptakan pola dan struktur batu yang sebelumnya sulit diwujudkan secara manual.

Hasilnya adalah permukaan interior dengan tampilan organik, dramatis, sekaligus artistik. Produk-produknya banyak digunakan sebagai aksen dinding, panel arsitektural, hingga instalasi skulptural pada proyek hunian maupun komersial.

Pendekatan tersebut membuat Borrowed Earth Collaborative memperoleh berbagai penghargaan internasional di bidang desain permukaan inovatif. Salah satu koleksinya, Aurum Series: Weave, meraih penghargaan Interior Design HIP Award untuk kategori Hard Surface. Sementara lini Barococo memenangkan NYCxDesign Awards pada kategori Stone + Tile Wall.

Di tengah berkembangnya konsep indoor-outdoor living, produk-produk berbahan batu alam dengan tekstur natural semakin diminati pasar interior premium. Borrowed Earth menghadirkan permukaan yang tidak sekadar dekoratif, tetapi juga menghadirkan pengalaman visual dan emosional yang menyerupai lanskap alam.

Grover menyebut ketertarikannya terhadap batu alam bermula sejak remaja ketika mengikuti ayahnya, seorang pedagang marmer dan granit, mengunjungi tambang batu di berbagai negara. Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya terhadap material alam sebagai medium artistik sekaligus ruang eksplorasi desain.

“Batu memiliki warna, tekstur, dan pola yang tidak pernah benar-benar sama. Itu yang membuatnya hidup,” katanya.

Salah satu proyek yang paling berkesan bagi Grover adalah kolaborasinya dengan arsitek Amerika Tony Ingrao. Bersama Ingrao, ia mengembangkan instalasi batu skala besar di New York, Miami, hingga Los Angeles.

Menurut Grover, proyek-proyek tersebut membuktikan bahwa batu alam tidak hanya berfungsi sebagai material pelapis, tetapi juga dapat menjadi “kulit arsitektur” yang membentuk identitas ruang secara utuh.

“Banyak orang masih melihat batu hanya sebagai elemen dekoratif. Padahal material ini bisa menjadi medium artistik berskala monumental,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap isu keberlanjutan, Borrowed Earth Collaborative menempatkan praktik ramah lingkungan sebagai inti produksi. Studio tersebut berupaya mengurangi limbah material sekaligus memperpanjang siklus hidup batu alam melalui desain bernilai tinggi.

Grover menilai dunia desain saat ini masih terlalu berfokus pada produksi cepat dan keuntungan komersial, sehingga kehilangan kedalaman artistik dan hubungan emosional dengan material.

“Craftsmanship hari ini harus mampu menjaga kualitas, identitas, dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” katanya.

Produk berbahan batu asli Gunung Merapi ini merupakan karya seni dekoratif berbentuk kucing bergaya minimalis dengan sentuhan klasik kontemporer. Karya ciptaan Farhan Adi Assyidiq tersebut berhasil meraih penghargaan INACRAFT Award 2024.

Pendekatan tersebut juga memengaruhi arah desain interior global, termasuk di Indonesia. Dalam sejumlah pameran kriya dan desain interior seperti INACRAFT 2026, penggunaan material alam, teknik handmade, dan pendekatan berkelanjutan semakin mendapat perhatian pasar internasional.

Kecenderungan itu menunjukkan bahwa desain masa depan tidak lagi hanya mengejar estetika modern, tetapi juga narasi material, keberlanjutan, dan nilai craft yang lebih manusiawi.

Previous Post

Warna Primer Bauhaus Kembali Menginspirasi Desain Home Decor Modern

Next Post

Pemerintah Siapkan Aturan Baru, KemenUMKM dan Komdigi Perkuat Perlindungan Pedagang Marketplace

Next Post
Pemerintah Siapkan Aturan Baru, KemenUMKM dan Komdigi Perkuat Perlindungan Pedagang Marketplace

Pemerintah Siapkan Aturan Baru, KemenUMKM dan Komdigi Perkuat Perlindungan Pedagang Marketplace

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo