Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengenang maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, sebagai seniman yang meninggalkan jejak penting dalam perjalanan seni rupa nasional. Menurut dia, kepergian Nasirun bukan hanya kehilangan bagi keluarga, melainkan juga bagi kalangan seniman, kolega, dan pecinta seni di Indonesia.
Fadli menyampaikan hal itu saat menghadiri takziah yang diselenggarakan keluarga Nasirun di Yogyakarta, Sabtu, 29 Agustus 2026. Ia mengatakan telah mengenal Nasirun sejak belasan tahun lalu dan melihat langsung kedekatan sang seniman dengan dunia seni serta lingkungan sekitarnya.
Nasirun meninggal pada 1 Agustus 2026. Fadli menyebut almarhum sebagai salah satu tokoh yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan seni rupa Indonesia.
Bagi Fadli, Nasirun bukan sekadar dikenal melalui karya-karyanya. Ia juga mengingat almarhum sebagai pribadi yang hangat, terbuka, dan mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Rumah dan galeri Nasirun, kata dia, selama ini menjadi ruang perjumpaan yang terbuka bagi para seniman, sahabat, dan siapa pun yang ingin datang untuk berbincang atau menikmati proses berkesenian.
“Beliau adalah sosok yang saya kenal, suka tertawa, sangat terbuka, inklusif, tidak ada batas, bergaul dengan siapa saja,” kata Fadli.
Keterbukaan itu, menurut Fadli, juga tercermin dalam proses kreatif Nasirun. Sang maestro terus berkarya dengan menjadikan berbagai unsur tradisi dan spiritualitas sebagai bagian penting dari ekspresi artistiknya. Wayang, tradisi Jawa, serta nilai-nilai spiritual hadir dalam karya-karya yang kemudian menjadi salah satu ciri perjalanan kreatif Nasirun.
Fadli menilai karya Nasirun memiliki hubungan kuat dengan kepribadian dan dunia batin sang seniman. Ekspresi budaya dalam karya-karyanya, menurut dia, tidak hadir sekadar sebagai bentuk visual, melainkan menyatu dengan pengalaman hidup dan jiwa kreatif Nasirun.
Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya, Kementerian Kebudayaan merencanakan pameran karya-karya Nasirun di Galeri Nasional Indonesia. Pameran tersebut direncanakan berlangsung dalam rangka 40 hari wafatnya Nasirun dan menjadi ruang bagi publik untuk kembali melihat perjalanan serta karya sang maestro.
Pameran itu juga akan menjadi salah satu pameran terakhir yang digelar di Galeri Nasional Indonesia sebelum gedung tersebut memasuki tahap renovasi. Kementerian Kebudayaan berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang pertemuan bagi keluarga, seniman, dan masyarakat untuk mengenang kontribusi Nasirun terhadap seni rupa Indonesia.
Istri Nasirun, Supartilah, menyampaikan terima kasih atas dukungan dan penghormatan yang diberikan kepada almarhum. Ia berharap karya dan semangat Nasirun terus hidup dan memberi warna bagi perkembangan dunia seni Indonesia.
Kepergian Nasirun menutup perjalanan seorang seniman yang sepanjang hidupnya terus bekerja dan berkarya. Namun, bagi dunia seni rupa, karya-karyanya tetap menjadi jejak dari seorang maestro yang menemukan bahasa artistiknya melalui pertemuan antara tradisi, spiritualitas, dan kebebasan berekspresi.
Kementerian Kebudayaan berharap dedikasi Nasirun selama hidupnya dapat terus dikenang, sementara karya-karyanya tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang seni rupa Indonesia.




