Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian bangunan cagar budaya dan pengembangan fasilitas modern dalam rencana revitalisasi Galeri Nasional Indonesia. Revitalisasi kawasan tersebut diarahkan untuk menghadirkan ruang kebudayaan yang lebih terbuka dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan karakter arsitektur bangunan yang telah ada.
Pembahasan revitalisasi dilakukan Fadli Zon dalam pertemuan strategis bersama arsitek Jasin Tedjasukmana di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta. Galeri Nasional menjadi salah satu aset budaya nasional yang tengah masuk dalam agenda revitalisasi Kementerian Kebudayaan.
Fadli Zon menilai pengembangan kawasan harus memiliki konsistensi visual. Menurut dia, bangunan lama dan fasilitas baru perlu disatukan dalam bahasa arsitektur yang selaras.
“Karakter bangunan yang ada di kawasan ini perlu mengusung satu bahasa arsitektur yang sama dan selaras,” ujar Fadli Zon.
Jasin Tedjasukmana mengatakan revitalisasi bangunan cagar budaya membutuhkan pendekatan yang hati-hati. Penambahan struktur baru, menurut dia, tidak boleh mendominasi bangunan utama yang memiliki nilai sejarah dan karakter arsitektur tersendiri.
“Bangunan lamanya tidak boleh tenggelam dari bangunan baru,” kata Jasin. Ia juga mengusulkan penataan lanskap yang lebih terbuka agar kawasan Galeri Nasional terasa lebih ramah dan mudah diakses masyarakat.
Rencana revitalisasi tidak hanya mencakup pemugaran Gedung A dan Gedung Aula. Pemerintah juga menyiapkan pengembangan fasilitas penunjang dengan pendekatan adaptif. Desain baru direncanakan menghadirkan akses masuk modern yang terintegrasi dengan transportasi umum serta fasilitas di bagian atap bangunan yang memungkinkan pengunjung menikmati kawasan budaya Jakarta.
Selain perubahan fisik, Kementerian Kebudayaan juga menaruh perhatian pada penataan alur tata pamer. Revitalisasi diharapkan tidak sekadar memperbarui bangunan, tetapi juga memperkuat fungsi Galeri Nasional sebagai ruang publik kebudayaan.
Upaya tersebut, menurut Kementerian Kebudayaan, menjadi bagian dari komitmen untuk merawat sekaligus mengembangkan ekosistem kebudayaan Indonesia. Dengan pelestarian sebagai pijakan, transformasi Galeri Nasional diharapkan menghasilkan ruang yang lebih inklusif, edukatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat masa kini.





