Kain tenun Sumba Pahikung dan songket Palembang menjadi bagian utama dari koleksi tas perempuan Herviolet. Brand yang dirintis Heriroe sejak 2010 itu memadukan kain tradisional dengan kulit untuk menghasilkan tas dengan karakter warna dan bentuk yang khas.
Herviolet membawa koleksi tersebut dalam INACRAFT October 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Heriroe, pemilik Herviolet, mengatakan fokus pada produk tas dimulai pada 2015, setelah sebelumnya mengembangkan usahanya dalam produk fesyen dan kerajinan.
“Yang kami tawarkan khususnya tas wanita dengan memakai kain tradisional Indonesia, sebagian besar tenun Sumba Pahikung, tenun dari NTT, dan songket Palembang yang dikombinasikan dengan kulit sapi,” kata Heriroe.
Menurut Heriroe, tantangan utama justru muncul saat mengolah kain tenun menjadi bagian dari struktur tas. Kain yang dibuat secara tradisional tidak selalu memiliki pola dan ukuran yang simetris. Perajin harus cermat menentukan bagian kain yang dipotong agar motif tetap terlihat utuh ketika disatukan dengan material kulit.
Meski demikian, proses produksi berlangsung relatif cepat. Sebuah tas dapat diselesaikan dalam satu hari, sementara kapasitas produksi Herviolet mencapai sekitar 100 tas per pekan dengan ukuran yang beragam.
Heriroe tidak membatasi sumber kain pada satu perajin. Ia memilih kain dari berbagai pembuat untuk mendapatkan variasi motif dan warna. Cara tersebut membuat koleksi Herviolet tidak terpaku pada pola yang sama.
“Kalau kita bekerja sama dengan banyak perajin, variasi yang mereka buat dari warna dan model juga akan berbeda,” ujar dia.
Pilihan warna turut disesuaikan dengan pasar. Konsumen Indonesia cenderung memilih warna-warna dasar seperti biru, merah, cokelat, dan bata. Tas berukuran medium menjadi salah satu produk yang paling banyak diminati.
Sementara itu, pasar luar negeri lebih menyukai warna-warna alam. Herviolet telah mengirim produknya ke sejumlah negara ASEAN dan menjajaki pasar lainnya.

Selain mengikuti selera konsumen, Heriroe mempertahankan keleluasaan dalam merancang produk. Ia sendiri yang membuat desain tas, termasuk menentukan komposisi kain, kulit, warna, hingga bentuk.
Salah satu pendekatannya adalah menggabungkan dua warna kulit dalam satu tas. Pada beberapa desain, warna handle kanan dan kiri pun dibuat berbeda. Kombinasi tersebut menjadi salah satu penanda visual Herviolet.
“Dari bentuk, warna, sampai penempatan motifnya, orang sudah bisa melihat itu Herviolet,” kata Heriroe.
Produk Herviolet tidak hanya menyasar konsumen individu. Pesanan khusus juga datang dari perusahaan untuk kebutuhan corporate gift. Konsumen personal juga dapat memesan desain tertentu.
Harga tas Herviolet berada pada kisaran Rp200 ribu hingga Rp5 juta, bergantung pada desain, material, dan tingkat pengerjaannya.
Untuk memperluas akses konsumen, Herviolet memiliki gerai di lantai satu Sarinah Thamrin, Jakarta, serta di Pendopo Living World Alam Sutera, Tangerang.
Heriroe melihat penggunaan kain tradisional sebagai ruang untuk terus bereksperimen. Motif yang berbeda dari satu perajin dengan perajin lain memberikan kemungkinan baru dalam merancang produk.
Melalui tas, Herviolet membawa tenun yang selama ini lekat dengan tradisi ke dalam produk fesyen yang mengikuti kebutuhan pasar tanpa melepaskan karakter material asalnya.





