Industri hadiah (gifts) dan kerajinan di kawasan ASEAN dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas pasar jika negara-negara anggota tidak lagi melihat kawasan sebagai kumpulan pasar nasional yang terpisah. Kolaborasi lintas negara dinilai dapat memperkuat posisi pelaku usaha kriya ASEAN di pasar global.
Presiden ASEAN Gifts and Craft Federation, Ivan Loo, menyampaikan hal tersebut dalam INACRAFT Business Forum dengan tema Breaking Global Export Barriers yang menjadi bagian dari program Insight INACRAFT October 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurut Ivan, ASEAN memiliki kekuatan ekonomi dan keragaman budaya yang dapat menjadi modal bagi industri hadiah dan kerajinan. Ia menyebut ASEAN memiliki sekitar 693 juta penduduk dengan nilai ekonomi gabungan lebih dari US$4,2 triliun serta perdagangan barang tahunan yang melampaui US$4,5 triliun.
“ASEAN harus berpikir sebagai satu pasar, bukan pasar nasional yang terpisah,” ujar Ivan dalam forum bertema Scaling Up ASEAN Gift and Craft, Sustainability and Global Market Access.
Ivan yang juga merupakan founder and director Bluedge Sdn Bhd mengatakan setiap negara ASEAN memiliki keunggulan berbeda, baik dari sisi budaya, keterampilan perajin, material, desain maupun kemampuan produksi. Keragaman tersebut, kata dia, semestinya menjadi kekuatan untuk membangun ekosistem industri regional.
Menurut dia, pelaku usaha tidak cukup hanya bersaing dengan sesama negara ASEAN. Mereka perlu melihat peluang untuk saling melengkapi. Perajin dari satu negara, misalnya, dapat terhubung dengan kemampuan produksi, teknologi, desainer, distributor, maupun jaringan pasar dari negara lain.
“Alih-alih hanya melihat bagaimana kita bersaing satu sama lain, kita juga harus bertanya bagaimana kita dapat saling melengkapi,” kata Ivan.
Dari Kerajinan Lokal ke Pasar Dunia
Ivan menilai perubahan pasar global membuat persaingan industri kriya tidak lagi semata-mata ditentukan oleh harga. Konsumen dan pembeli semakin mempertimbangkan desain, inovasi, kualitas, keberlanjutan, keaslian, serta cerita yang melekat pada sebuah produk.
Karena itu, produk yang bagus saja dinilai belum cukup. Pelaku industri harus mampu menghadapi sejumlah persoalan, seperti akses pasar, standar internasional, tuntutan keberlanjutan, digitalisasi, perdagangan lintas batas, hingga jaringan pembeli dan distributor internasional.
Ivan menilai tantangan tersebut sulit diselesaikan oleh satu asosiasi atau satu negara secara sendiri-sendiri. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, asosiasi, pelaku usaha, perajin dan pemangku kepentingan industri di kawasan.
“Ketika pemerintah memahami tantangan yang dihadapi industri dan industri memahami arah pemerintah, kita dapat membangun solusi yang lebih baik bersama-sama,” ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Hatman M. Has sebelumnya mengatakan Business Forum menjadi ruang untuk memperkuat jejaring dan membuka peluang bisnis bagi pelaku industri kerajinan.
Menurut Hatman, industri kerajinan menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya saing, keberlanjutan, inovasi, serta akses ke pasar global. Karena itu, forum tersebut diharapkan menjadi tempat bertemunya pemerintah, pelaku usaha, buyer, dan pemangku kepentingan di kawasan ASEAN.
ASEAN sebagai Jaringan Bisnis
Bagi Ivan, peran ASEAN Gifts and Craft Federation bukan menggantikan asosiasi nasional di masing-masing negara. Federasi tersebut, kata dia, berfungsi sebagai penghubung antarasosiasi dan pelaku usaha.
“Peran kami adalah menghubungkan asosiasi dengan asosiasi, bisnis dengan bisnis, perajin dengan pasar, dan pada akhirnya menghubungkan ASEAN dengan dunia,” kata Ivan.
Ia juga menilai INACRAFT memiliki posisi strategis karena memperlihatkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berkembang secara bersamaan. Pameran bukan hanya menjadi ruang untuk menampilkan produk, tetapi juga mempertemukan kerajinan dengan kewirausahaan dan budaya dengan peluang bisnis.
Ivan berharap INACRAFT dapat berkembang sebagai jembatan yang menghubungkan industri kerajinan Indonesia dengan komunitas gift and craft yang lebih luas di ASEAN serta pasar internasional.
Ia merangkum arah kerja sama tersebut dalam tiga kata: koneksi, kolaborasi, dan peluang. Menurut Ivan, koneksi lintas negara perlu diterjemahkan menjadi kemitraan dan transaksi bisnis yang nyata.
“Secara individu kita mewakili negara masing-masing, bersama-sama kita mewakili ASEAN,” ujarnya.
Melalui kerja sama tersebut, Ivan berharap pelaku UMKM, perajin dan industri kreatif di kawasan tidak berhenti pada pasar domestik. Produk dan kreativitas ASEAN, menurut dia, perlu dibawa bersama menuju pasar dunia.





