Pengelolaan sampah secara terstruktur menjadi fokus utama Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) pada gelaran Inacraft October 2026.
Lewat program ASEPHI Go Green, pameran ini mempraktikkan langsung ekonomi sirkular dengan menyortir limbah pengunjung dan tenant agar dapat didaur ulang dan tidak membebani TPA.
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab pelaku industri kriya terhadap kelestarian lingkungan hidup. Perwakilan ASEPHI, Yanna Diah Kusumawati, menyadari bahwa pameran yang telah terselenggara lebih dari 26 kali ini menghasilkan dampak lingkungan yang harus segera ditangani secara serius.
“Sudah bertahun-tahun kita mengambil bahan dari alam untuk produksi kriya. Apabila kita hanya fokus pada nilai transaksi tanpa memikirkan proses produksi dan pengelolaan limbahnya, lingkungan akan terus menjadi korban. Keresahan ini memacu ASEPHI untuk memastikan limbah pameran tidak berujung mencemari bumi,” tegas Yanna dalam sesi ASEPHI Go Green Craft Talks, Minggu (11/10/2026).
Kolaborasi Strategis untuk Tekan Residu
Dalam pelaksanaannya, ASEPHI Go Green menggandeng Wastehub, sebuah lembaga yang berfokus pada ekonomi sirkular dan tata kelola event berkelanjutan.
Kolaborasi ini bertujuan mencegah berton-ton sampah pameran menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Berdasarkan data historis awal dari penyelenggaraan sebelumnya, limbah buangan dari area pameran dan stan kuliner (Talam Inacraft) dapat mencapai 1,5 ton. Angka ini memicu penerapan sistem manajemen sampah yang sangat ketat pada Inacraft tahun ini.
Sustainability Consultant sekaligus Managing Director Wastehub, Ranitya Nurlita, memaparkan bahwa pihaknya menerapkan sistem pemilahan sampah yang detail sejak dari sumbernya.
Tim Wastehub disebar di setiap hall pameran untuk memastikan sampah tidak tercampur. Edukasi kepada pengunjung dan peserta pameran dilakukan secara langsung. Salah satu metode yang diterapkan adalah penggunaan tempat sampah transparan khusus untuk material daur ulang dan residu.
“Tujuan penggunaan tempat sampah bening ini adalah agar pengunjung dapat melihat langsung isinya, sehingga mereka lebih sadar dan tidak sembarangan mencampur sampah organik dengan daur ulang,” jelas Lita.
Sampah yang terkumpul kemudian dibawa ke area sortir di loading dock JICC untuk dipilah kembali ke dalam kategori spesifik, seperti plastik PET, HDPE, kertas, hingga kaleng aluminium, agar dapat disalurkan kepada mitra daur ulang.
Olah 55 Persen Sampah Organik
Penerapan skema ekonomi sirkular di INACRAFT 2026 menunjukkan hasil yang sangat terukur.
Memasuki hari keempat pameran, data real-time Wastehub mencatat bahwa 55 persen dari total limbah yang terkumpul adalah sampah organik sisa makanan. Seluruh sampah organik ini berhasil diselamatkan dan diolah menjadi pakan maggot.
Sementara itu, volume sampah residu yang harus dikirim ke TPA berhasil ditekan secara signifikan hingga menyentuh angka 27 persen.
Wastehub dan ASEPHI menargetkan angka residu ini dapat terus ditekan hingga mencapai 20 persen di akhir penyelenggaraan pameran.
Upaya pengelolaan sampah ini sejalan dengan tagline visi ASEPHI Go Green, yakni “Menjaga Bumi, Merawat Budaya”.
Adapun Inacraft 2026 membuktikan bahwa pameran kriya berkelas dunia dapat berjalan berdampingan dengan komitmen pelestarian lingkungan hidup demi kelangsungan ekosistem di masa depan. (Disya Shaliha)




