Pemerintah ingin mengubah museum dari tempat penyimpanan koleksi sejarah menjadi ruang publik yang mampu menarik pengunjung sekaligus menggerakkan ekonomi. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan agenda itu dalam peringatan Hari Museum Indonesia 2026 di Museum Rudana, Ubud, Bali.
Fadli mengatakan pembentukan Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian mandiri pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membuka ruang untuk mempercepat perlindungan, pemanfaatan, dan diplomasi kebudayaan. Dalam peringatan yang mengusung tema “Kebudayaan Soko Guru Bangsa, Museum sebagai Rumah Budaya” tersebut, ia meminta museum milik pemerintah, swasta, maupun perorangan dikelola agar lebih dekat dengan masyarakat.
“Museum bukan sekadar tempat menyimpan artefak atau cost center, melainkan ruang hidup, pusat inspirasi, serta potensi besar sebagai new engine of economic growth,” kata Fadli. Menurut dia, pameran yang tertata, narasi koleksi yang kuat, dan pemanfaatan teknologi imersif dapat meningkatkan minat publik, terutama generasi muda.
Kementerian Kebudayaan menempatkan revitalisasi museum sebagai salah satu program prioritas. Fadli mencontohkan Museum Sriwijaya Dharmakirti di Muara Jambi yang diresmikan pada Agustus 2026. Meski lokasinya belum didukung transportasi umum yang memadai, museum tersebut diklaim mampu menarik 3.000 hingga 4.000 pengunjung per hari pada akhir pekan setelah ditata dengan pendekatan modern dan teknologi.
Selain pembenahan fisik dan tata pamer, pemerintah menyebut sejumlah langkah lain untuk memperkuat ekosistem permuseuman, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, riset, dukungan pendanaan swasta dan filantropi, penguatan registrasi nasional, serta pengembangan program yang menyasar generasi muda.
Namun, menjadikan museum sebagai penggerak ekonomi tidak cukup hanya dengan memperbarui tampilan dan menambahkan teknologi. Pengelolaan koleksi, mutu informasi sejarah, aksesibilitas, dan keberlanjutan program juga menentukan apakah museum dapat menjadi ruang belajar yang relevan bagi masyarakat.
Dalam acara tersebut, Museum Rudana memberikan Ksatria Award kepada sejumlah tokoh. Prof. Dr. RM. Soemitro Djojohadikoesoemo menerima Anugerah Ksatria Mahottama Nagara, sedangkan seniman Nyoman Nuarta memperoleh Anugerah Ksatria Mahottama Budaya. Fadli Zon juga menerima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara.
Fadli sekaligus membuka pameran tunggal perupa Wayan Kun Adnyana bertajuk Gunung Suwung: Enigmatic Color Triumph through a Retrospective Journey. Acara tersebut dihadiri Founder Museum Rudana Nyoman Rudana, Duta Besar Rumania untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Dan Adrian Bălănescu, serta perwakilan perguruan tinggi dan komunitas budaya.
Fadli menegaskan pemajuan museum membutuhkan kerja sama pemerintah, lembaga swasta, komunitas, dan masyarakat. Ia memandang museum bukan hanya tempat merawat benda bersejarah, tetapi juga ruang untuk pendidikan, penelitian, dialog, dan kreativitas.
“Mari kita jadikan museum bukan hanya sebagai rumah bagi koleksi, melainkan juga sebagai rumah bagi gagasan, ingatan kolektif, dialog, dan masa depan kebudayaan Indonesia,” ujar Fadli.



