Aksara Bali, Jawa, dan Pegon mulai mendapat ruang dalam sistem nama domain internet internasional. Peluncuran Nama Domain Internasional atau Internationalized Domain Names (IDN) berbasis tiga aksara tersebut diumumkan dalam Gala Dinner Pertemuan Umum Tahunan ke-87 Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN87) di Nusa Dua, Badung, Bali, pada 19 Oktober 2026.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan integrasi aksara Nusantara ke dalam infrastruktur internet global menjadi salah satu upaya menjaga warisan budaya di tengah perkembangan teknologi. Menurut dia, aksara tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sistem tulisan, tetapi juga menyimpan identitas, pengetahuan, dan sejarah masyarakat.
“Kemajuan teknologi harus merangkul pemajuan kebudayaan. Seiring dengan peresmian peluncuran Nama Domain Internasional untuk aksara Nusantara, kita mengambil langkah penting menuju terwujudnya visi agar warisan budaya tetap menjadi bagian yang hidup dari masa depan digital kita,” kata Fadli dalam acara tersebut.
ICANN87 menjadi pertemuan publik pertama organisasi pengelola sistem nama domain internet itu yang diselenggarakan di Indonesia. Momentum ini bertepatan dengan peringatan Hari Kebudayaan Nasional Indonesia dan Hari Internasional Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Fadli menyebut Indonesia memiliki sekitar 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa daerah, serta beragam sistem tulisan tradisional. Selain aksara Bali dan Jawa, Nusantara mengenal aksara Sunda, Batak, Lontara, dan Pegon. Namun, keberadaan warisan tersebut menghadapi tantangan ketika penggunaan bahasa dan aksara semakin terbatas, termasuk di ruang digital.
Kementerian Kebudayaan merujuk data UNESCO yang menyebutkan bahwa dari sekitar 7.000 bahasa di dunia, baru sekitar 1.000 yang terwakili secara daring. Digitalisasi, menurut Fadli, perlu menjadi bagian dari strategi pelestarian agar bahasa dan aksara tradisional tetap dapat dipelajari serta digunakan oleh generasi berikutnya.
Ia mengaitkan upaya tersebut dengan Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Pengakuan teknis terhadap aksara dalam sistem nama domain internet, kata dia, perlu diikuti penggunaan aktif oleh masyarakat.
“Pengakuan teknis terhadap aksara kita merupakan tonggak penting. Namun, ambisi kita yang lebih besar adalah memastikan bahwa tradisi penulisan ini dapat dipelajari, diakses, dan digunakan secara aktif oleh masyarakat,” ujar Fadli.
Pemerintah mengapresiasi Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) atas riset dan upayanya membawa aksara Bali, Jawa, dan Pegon ke ekosistem internet global. PANDI juga disebut tengah melanjutkan upaya untuk aksara Sunda, Batak, dan Bugis.
Fadli menguraikan empat langkah untuk menekan risiko kepunahan bahasa dan aksara, yakni dokumentasi dan penelitian budaya, pendidikan serta partisipasi publik, peningkatan aksesibilitas dan interoperabilitas teknologi, serta kerja sama lintas sektor. Ia menilai upaya itu membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, dan pemangku pengetahuan tradisional.
Peluncuran domain berbasis aksara Nusantara tersebut menjadi langkah teknis untuk memperluas keberadaan tulisan tradisional di internet. Tantangan berikutnya adalah memastikan akses digital itu benar-benar mendorong masyarakat menggunakan, mempelajari, dan mewariskan aksara dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam acara tersebut hadir Gubernur Bali I Wayan Koster, Ketua PANDI Isnawan Aslam, delegasi ICANN, serta perwakilan pemerintah, organisasi internasional, akademisi, pakar teknologi, dan komunitas budaya.




