Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong perguruan tinggi seni memperkuat pelestarian dan regenerasi kebudayaan Indonesia. Menurut dia, pendidikan formal menjadi salah satu jalur penting untuk mewariskan tradisi sekaligus mengembangkan seni sebagai kekuatan ekonomi nasional.
Hal itu disampaikan Fadli saat membuka Festival Kesenian Indonesia (FKI) XIII di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 20 Oktober.
Fadli mengatakan Indonesia memiliki keragaman budaya yang besar atau mega diversity. Kebudayaan, menurut dia, tidak sebatas karya seni yang dipertunjukkan di panggung, tetapi juga mencakup tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, hingga olahraga tradisional.
Ia mencontohkan Sumatera Barat yang memiliki tradisi lisan seperti tambo dan petatah-petitih. Tradisi tersebut, kata Fadli, merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.
“Kita ingin menjadikan seni ini bukan sekadar identitas, tapi harus juga menjadi satu investasi,” ujar Fadli.
Ia berharap kebudayaan dapat menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi atau new engine of economic growth. Dengan demikian, perekonomian Indonesia tidak hanya bergantung pada pemanfaatan sumber daya alam secara ekstraktif, tetapi juga bertumpu pada pengembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan.
Fadli juga melihat kebudayaan sebagai instrumen diplomasi lunak atau soft power. Melalui seni dan tradisi, Indonesia dinilai memiliki modal untuk memperkuat identitas nasional sekaligus memperluas pengaruhnya di tingkat internasional.
Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan kelembagaan. Fadli menilai perguruan tinggi seni memiliki peran strategis dalam mendokumentasikan, mengembangkan, dan mewariskan ekspresi budaya kepada generasi berikutnya.
Ia menekankan pentingnya memperluas keberadaan institusi pendidikan seni di berbagai daerah. Tanpa dukungan kelembagaan yang memadai, proses regenerasi pelaku seni dan pewarisan tradisi berisiko menghadapi hambatan.
“Apabila tidak ada institusionalisasi di dalam warisan budaya dan ekspresi budaya kita, tentu akan ada ketinggalan di dalam proses regenerasi ke depan,” kata Fadli.
Menurut dia, upaya memajukan kebudayaan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Perguruan tinggi, sektor swasta, dan komunitas seni perlu terlibat dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan.
Rektor ISI Padang Panjang, Febri Yulika, menyoroti peran seni di tengah perubahan zaman dan krisis lingkungan. Baginya, karya seni tidak cukup hanya menawarkan keindahan, tetapi juga perlu mendorong kepedulian dan menghasilkan dampak bagi masyarakat.
“Seni tidak hanya melahirkan karya yang indah, tetapi juga karya yang menggerakkan kepedulian dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Febri.
Pesan tersebut sejalan dengan tema FKI XIII, yakni Art, Folklore and Ecology atau Seni, Folklor, dan Ekologi. Festival yang diselenggarakan oleh konsorsium Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI) itu menghadirkan karya seniman akademisi, dosen, dan mahasiswa dari perguruan tinggi seni di Indonesia.
Perhelatan ini menjadi ruang pertemuan bagi karya seni yang menggabungkan kearifan lokal dan perkembangan modernitas. Lebih dari itu, festival tersebut menempatkan perguruan tinggi seni sebagai salah satu simpul penting dalam merawat tradisi sekaligus merespons persoalan sosial dan lingkungan.
Pembukaan FKI XIII turut dihadiri Wali Kota Padang Panjang Hendri Anis, Wakil Wali Kota Padang Panjang Alex Saputra, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis, serta jajaran pimpinan perguruan tinggi seni, seniman, komunitas seni, dan mahasiswa.
Fadli berharap festival tersebut tidak berhenti sebagai agenda pertemuan dan pameran karya. Ia ingin FKI menjadi bagian dari proses pembinaan yang melahirkan seniman muda dengan kemampuan dan daya saing di tingkat global.
“Mudah-mudahan, FKI XIII terus berkelanjutan dan bisa melahirkan seniman yang mumpuni dari mahasiswa, yang kemudian akan menjadi empu atau maestro yang membawa nama Indonesia ke peradaban dunia,” kata Fadli.





