Ekspor produk ramah lingkungan Indonesia menunjukkan pertumbuhan. Namun, pelaku usaha perlu memenuhi standar lingkungan dan membuktikan klaim keberlanjutan untuk memperluas pasar internasional.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, menyampaikan hal tersebut dalam forum bisnis Unlocking Green Export Opportunities: Optimalisasi Produk Environmental Goods untuk Pasar Internasional di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Sabtu, 17 Oktober 2026. Forum ini merupakan bagian dari Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41.
Tommy mengatakan perdagangan global semakin menuntut keberlanjutan, ketertelusuran rantai pasok, dan efisiensi sumber daya.
“Melalui forum ini, Kemendag ingin memperkuat pemahaman pelaku usaha terhadap perkembangan perdagangan global sekaligus mendorong optimalisasi peluang ekspor produk ramah lingkungan,” kata Tommy.
Data Trade Map yang diolah Kemendag menunjukkan ekspor produk kategori environmental goods mencapai US$ 6,65 miliar pada Januari–Agustus 2025. Angka ini naik sekitar 59,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Sepanjang 2024, ekspor kategori tersebut mencapai US$ 8,03 miliar, meningkat dari US$ 7,03 miliar pada 2023.
Produk penyumbang ekspor meliputi komponen kendaraan bermotor, tungku dan oven listrik untuk industri, serta komponen mesin dan peralatan listrik.
Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian, Dewi Muliana, mengatakan pengembangan industri hijau memerlukan standardisasi, pengurangan emisi, dan penguatan ekonomi sirkular. Pemerintah juga mendorong pembiayaan serta insentif bagi pelaku usaha.
Sementara itu, dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Sri Mulatsih, menilai Indonesia memiliki potensi ekspor komoditas seperti kopi, kakao, kelapa, karet, dan rempah-rempah. Namun, potensi tersebut perlu didukung kesiapan memenuhi standar pasar internasional.
Atase Perdagangan RI di Brussels, Lusyana Halmiati, mengatakan persyaratan lingkungan semakin penting di Uni Eropa.
“Calon eksportir harus memenuhi regulasi dan preferensi pasar karena buyer makin banyak meminta bukti bahwa produksi tidak berdampak buruk pada lingkungan,” ujarnya.
Sustainability Director Cargill Indonesia, Yunita Widiastuti, menekankan bahwa klaim keberlanjutan harus dapat dibuktikan.
“Tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat produk berkelanjutan, tetapi apakah klaim tersebut dapat diverifikasi, dapat ditelusuri, dapat dibuktikan dengan data, dan terlihat dampaknya di lapangan,” kata Yunita.
Menurutnya, kesiapan ekspor mencakup seluruh proses usaha, mulai dari sumber bahan baku dan legalitas hingga produksi serta dokumentasi. Transparansi tersebut penting untuk membangun kepercayaan pembeli dan memenuhi ketentuan pasar tujuan.




