Maroko memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan industri kerajinan untuk pasar global. Salah satu lembaga yang berperan dalam penguatan sektor tersebut adalah La Maison de l’Artisan, institusi publik yang berdiri sejak 1957 untuk mempromosikan produk kerajinan Maroko.
La Maison de l’Artisan menjalankan peran dalam promosi, pengembangan produk, pendampingan pelaku usaha, serta perluasan jaringan pasar. Lembaga ini dibentuk untuk memperkuat posisi kerajinan sebagai bagian dari ekonomi nasional, sekaligus membantu pengrajin menghadapi kebutuhan pasar yang terus berubah.
Hind Biali, Head of the Commercial Department at the Maison de l’Artisan, mengatakan industri kerajinan Maroko memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja. Sektor ini mempekerjakan sekitar 20 persen populasi, menyumbang sekitar 7 persen terhadap produk domestik bruto, dan mencatat pertumbuhan ekspor ke pasar internasional sebesar 7,6 persen. Hal itu diungkapkan dalam pertemuan business to business (B2B) antara Maison de l’Artisan dengan ASEPHI, di Kedutaan besar Maroko, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Sektor tersebut juga berkontribusi sekitar 10 persen terhadap penerimaan devisa pariwisata. Perempuan mencakup 54 persen tenaga kerja di sektor kerajinan, sementara tingkat integrasi lulusan pelatihan vokasi ke dunia kerja mencapai 85 persen.
Nilai ekspor kerajinan Maroko meningkat dari 74 juta euro pada 2019 menjadi 117 juta euro pada 2025, dengan pertumbuhan rata-rata tahunan 7,6 persen. Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan kontribusi 49 persen, disusul Prancis 10 persen dan Asia 9 persen.
Produk keramik dan batu menyumbang 36 persen ekspor kerajinan Maroko. Karpet berkontribusi 18 persen, sedangkan pakaian tradisional mencapai 17 persen. Komposisi tersebut memperlihatkan pentingnya pengembangan produk yang memiliki identitas kuat sekaligus memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Pemerintah Maroko juga memperkuat kerangka pengembangan sektor melalui Undang-Undang 50-17. Regulasi tersebut mencakup 13 bidang dan 172 aktivitas kerajinan, terdiri atas 116 kegiatan produksi dan seni kerajinan serta 56 kegiatan jasa. Pendaftaran pengrajin dalam National Artisan Register menjadi bagian dari upaya pendataan dan penguatan sektor.
La Maison de l’Artisan menjalankan sejumlah program untuk memperluas akses pasar, antara lain partisipasi dalam pameran, misi bisnis antarpelaku usaha, promosi, dan kerja sama internasional. Lembaga ini juga menyediakan dukungan teknis dan finansial melalui program Excellence, Export Package, dan Aggregator Package.
Penguatan mutu menjadi bagian penting dari strategi tersebut. La Maison de l’Artisan telah mendukung lebih dari 2.500 unit produksi bersertifikat, 69 merek kolektif, dan 344 spesifikasi produk. Upaya itu ditujukan untuk meningkatkan konsistensi kualitas dan memperkuat kepercayaan pembeli.
Hasil pengembangan produk dan promosi juga tercermin dalam tingkat kepuasan pelanggan internasional yang mencapai 93 persen. Aspek desain menyumbang 24 persen dalam capaian yang dilaporkan lembaga tersebut. Pada AMEC Awards 2025, dua produk Maroko meraih penghargaan perak.
Pengalaman Maroko memiliki kaitan dengan INACRAFT, pameran kerajinan yang menjadi salah satu pintu bagi produk Indonesia menjangkau pasar internasional. Dalam sejarah INACRAFT, Kerajaan Maroko tercatat sebagai Country of Honor pertama pada edisi ke-21 tahun 2019. Kehadiran Maroko sebagai negara kehormatan menjadi salah satu jejak hubungan antara pameran tersebut dan industri kerajinan Maroko.





