• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Agenda Asephi

ASEPHI Menata Ulang Peran, Perkuat Usaha Anggota

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
October 29, 2026
in Agenda Asephi, Figure, Focus ASEPHI
0
ASEPHI Menata Ulang Peran, Perkuat Usaha Anggota
0
SHARES
10
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ketua Umum ASEPHI Hatman mendorong penguatan peran asosiasi dalam memberikan manfaat nyata bagi anggotanya. Penguatan data industri, dukungan biaya pameran, konsolidasi ekspor, dan akses bahan baku menjadi sejumlah agenda untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha kerajinan.

Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) selama ini dikenal melalui INACRAFT, pameran kerajinan yang menjadi salah satu pintu masuk produk Indonesia ke pasar. Namun, Ketua Umum ASEPHI Hatman ingin memperluas peran organisasi itu. Baginya, asosiasi tidak cukup hanya mempertemukan perajin dan pembeli. ASEPHI juga harus membantu anggotanya mengatasi persoalan produksi, biaya usaha, dan akses pasar.

Gagasan itu berangkat dari satu pertanyaan: apa manfaat konkret yang diperoleh pelaku usaha dengan menjadi anggota asosiasi? Hatman ingin memastikan anggotanya merasakan manfaat dalam pengembangan usaha, bukan sekadar memperoleh kesempatan mengikuti kegiatan.

Peluang untuk memperluas peran tersebut terbuka seiring pertumbuhan industri kerajinan. Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor industri kerajinan mencapai US$ 223,1 juta pada kuartal II 2026, naik 28,59 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar US$ 173,5 juta.

Pertumbuhan ekspor itu menunjukkan adanya ruang bagi produk kerajinan Indonesia di pasar internasional. Namun, peluang tersebut tidak otomatis dapat dimanfaatkan seluruh pelaku usaha. Kapasitas produksi, ketersediaan bahan baku, biaya pengiriman, dan kemampuan memenuhi permintaan buyer masih menjadi faktor yang menentukan daya saing.

Hatman melihat ASEPHI perlu mengambil peran lebih besar dalam mengatasi hambatan tersebut. Salah satu langkah awalnya adalah membangun basis data anggota yang lebih terstruktur, mencakup jenis produk, kapasitas produksi, kebutuhan bahan baku, hingga kesiapan ekspor.

Data itu bukan sekadar administrasi organisasi. Dengan mengetahui kemampuan dan kebutuhan anggotanya, ASEPHI dapat mengidentifikasi pelaku usaha yang siap memasuki pasar ekspor, menyusun program pendampingan, dan mempertemukan produsen dengan calon mitra bisnis yang sesuai.

Penguatan data juga dapat menjadi dasar bagi asosiasi untuk menyusun program yang lebih terukur. Tanpa informasi mengenai kondisi anggota, kegiatan organisasi berisiko berjalan berdasarkan asumsi, bukan kebutuhan nyata pelaku usaha.

INACRAFT tetap menjadi salah satu kekuatan utama ASEPHI. Pameran ini menyediakan ruang bagi perajin untuk memperkenalkan produk, menjangkau pembeli, dan membangun hubungan bisnis. Namun, peningkatan jumlah pengunjung belum sepenuhnya diikuti pertumbuhan transaksi yang sebanding.

Pada INACRAFT October 2026, jumlah pengunjung mencapai 78.021 orang, naik 11,82 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Jumlah buyer meningkat 10,87 persen menjadi 102 orang.

Di sisi lain, nilai transaksi ritel tercatat Rp 83 miliar, tumbuh 1,07 persen. Transaksi Talam INACRAFT meningkat 11,35 persen menjadi Rp 2,1 miliar. Sementara jumlah exhibitor turun 5,68 persen menjadi 813 peserta.

Data tersebut memperlihatkan perbedaan antara pertumbuhan kunjungan dan pertumbuhan penjualan. Jumlah pengunjung bertambah lebih dari 11 persen, tetapi transaksi ritel hanya meningkat sekitar 1 persen. Artinya, tambahan kunjungan belum menghasilkan kenaikan omzet dengan laju yang sama.

Meski demikian, angka itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa efektivitas pameran menurun. Nilai transaksi ritel tidak mencakup seluruh kemungkinan transaksi lanjutan antara exhibitor dan buyer setelah pameran. Jumlah pengunjung juga tidak identik dengan jumlah calon pembeli yang memiliki kebutuhan dan daya beli sesuai produk yang ditawarkan.

Rasio agregat transaksi ritel terhadap jumlah pengunjung mencapai sekitar Rp 1,06 juta. Angka ini merupakan hasil pembagian total transaksi dengan jumlah pengunjung, bukan rata-rata belanja aktual setiap pengunjung. Indikator tersebut tetap berguna sebagai gambaran awal, tetapi belum menjelaskan berapa banyak pengunjung yang bertransaksi dan berapa nilai pembelian mereka.

Bagi Hatman, evaluasi semacam itu penting untuk memastikan pameran memberikan hasil yang sepadan dengan biaya keikutsertaan. Jika biaya keikutsertaan menjadi hambatan bagi pelaku usaha, asosiasi perlu mencari skema dukungan yang memungkinkan lebih banyak anggota berpartisipasi tanpa mengabaikan keberlanjutan keuangan organisasi.

Konsolidasi Ekspor dan Bahan Baku

Selain pameran, Hatman mendorong kerja sama antarasosiasi untuk memperkuat rantai pasok industri kerajinan. Ia melihat peluang kolaborasi dengan organisasi seperti HIMKI dan ASMINDO, terutama dalam pengadaan bahan baku, pengiriman, dan pengembangan pasar.

Salah satu persoalan yang dapat diatasi melalui kerja sama adalah biaya logistik. Pelaku usaha kecil kerap menghadapi biaya pengiriman yang relatif tinggi karena volume barang mereka terbatas. Konsolidasi pengiriman memungkinkan sejumlah produsen menggabungkan barang dalam satu pengangkutan sehingga biaya dapat dibagi.

Pengadaan bahan baku secara bersama juga berpotensi memperkuat posisi tawar anggota. Dengan menghimpun kebutuhan produsen, asosiasi dapat menjajaki pembelian dalam jumlah lebih besar dan memperoleh harga yang lebih kompetitif.

Namun, model tersebut membutuhkan koordinasi yang tidak sederhana. ASEPHI harus memastikan kesesuaian spesifikasi bahan, kualitas, jadwal pengadaan, dan mekanisme pembayaran. Tanpa pengelolaan yang jelas, pembelian bersama justru berisiko menimbulkan persoalan baru bagi anggota.

Konsolidasi ekspor juga membutuhkan kesiapan produksi. Pengiriman dalam jumlah besar hanya dapat dilakukan jika anggota mampu memenuhi standar kualitas, kapasitas, dan ketepatan waktu yang diminta buyer. Karena itu, pemetaan kapasitas anggota menjadi prasyarat bagi program kerja sama tersebut.

Hatman ingin ASEPHI berfungsi sebagai penghubung yang membantu pelaku usaha memenuhi kebutuhan pasar secara kolektif. Peran itu dapat mencakup pengorganisasian pengiriman, pencarian mitra dagang, dan penyediaan informasi mengenai peluang ekspor.

Data sebagai Dasar Kemitraan dengan Pemerintah

Hatman juga ingin hubungan ASEPHI dengan pemerintah bergerak dari kegiatan seremonial menuju kerja sama yang menghasilkan dampak ekonomi. Menurutnya, asosiasi memiliki jaringan pelaku usaha dan pengalaman penyelenggaraan pameran yang dapat menjadi modal untuk merancang program pengembangan industri.

Data mengenai kapasitas produksi, kebutuhan bahan baku, dan kemampuan ekspor dapat membantu ASEPHI mengidentifikasi persoalan anggotanya. Informasi itu juga dapat digunakan untuk menyusun usulan program yang lebih spesifik kepada pemerintah.

Insentif bagi pelaku usaha juga perlu mempertimbangkan hasil yang ingin dicapai. Peningkatan ekspor, perluasan pasar, dan penguatan kapasitas produksi dapat menjadi indikator untuk menilai efektivitas dukungan. Namun, pengukuran tersebut harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing usaha agar tidak hanya menguntungkan pelaku yang sudah besar.

ASEPHI perlu menyiapkan data dan argumentasi yang cukup kuat untuk menjelaskan kontribusi industri kerajinan serta kebutuhan anggotanya. Dengan begitu, asosiasi dapat menjadi mitra pemerintah dalam merancang kebijakan, bukan sekadar penerima program.

Kolaborasi dengan lembaga pembiayaan dan mitra bisnis juga dapat memperluas dukungan bagi anggota. Akses modal diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi, sedangkan kemitraan pemasaran dapat membantu produk kerajinan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Bagi Hatman, ASEPHI idealnya menjadi organisasi yang menghubungkan perajin dengan pasar, memperkuat rantai pasok, dan membantu anggotanya mengatasi hambatan bisnis. Ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa besar pameran yang diselenggarakan, melainkan seberapa jauh manfaat organisasi dapat dirasakan oleh pelaku usaha yang menjadi anggotanya.

 

Tags: asephiAsosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft IndonesiaHatmanINACRAFT October 2026Ketua Umum ASEPHI Hatman
Previous Post

Wamendag Roro Esti Minta UMKM Kuasai Tiga Keterampilan di Era Digital

Next Post

Indonesia Perkuat Kerja Sama Dagang dengan Amerika

Next Post
Indonesia Perkuat Kerja Sama Dagang dengan Amerika

Indonesia Perkuat Kerja Sama Dagang dengan Amerika

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo