Usaha kerajinan tangan kembali dilirik sebagai pintu masuk pelaku usaha pemula. Di tengah geliat ekonomi kreatif, sektor ini dinilai relatif mudah dimulai dengan modal terbatas, namun menyimpan potensi pasar yang terus tumbuh, baik di dalam negeri maupun global.
Data terbaru menunjukkan tren positif. Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor produk kerajinan Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$806,63 juta atau tumbuh lebih dari 15 persen dibanding tahun sebelumnya.
Secara lebih luas, subsektor kriya bersama fesyen menjadi tulang punggung ekonomi kreatif nasional. Sepanjang Januari–November 2025, nilai ekspor gabungan kedua subsektor ini menembus US$28,4 miliar, dengan kontribusi kriya sekitar US$12,03 miliar. Sementara pada awal 2026, ekspor produk kerajinan dari pelaku industri kecil menengah masih terus berjalan ke pasar Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia, menandakan keberlanjutan permintaan global.
Momentum ini turut diperkuat oleh aktivitas pameran. Di dalam negeri, ajang seperti INACRAFT 2026 menjadi etalase utama produk kriya nasional sekaligus sarana transaksi dan promosi ke buyer internasional.
Di tingkat global, sejumlah pameran desain dan kriya kelas dunia tetap menjadi rujukan tren dan pasar, seperti Maison & Objet di Paris dan Salone del Mobile di Milan. Kehadiran pelaku Indonesia dalam forum tersebut menjadi jalur penting untuk memperluas akses ekspor sekaligus membaca arah selera pasar global.
Di tengah peluang tersebut, ragam produk kerajinan terus berkembang. Aksesoris berbahan sederhana seperti kayu dan manik-manik tetap menjadi pintu masuk yang mudah bagi pemula. Kerajinan anyaman berbasis bambu dan rotan juga menunjukkan daya tahan di pasar ekspor karena kekuatan nilai tradisi dan keberlanjutan.
Segmen dekorasi rumah dan produk gaya hidup seperti lilin aromaterapi hingga rajutan juga mencatat permintaan yang meningkat, seiring perubahan gaya hidup konsumen yang lebih personal dan estetik. Produk handmade kini tidak hanya dibeli sebagai barang pakai, tetapi juga sebagai representasi identitas dan selera.
Namun, peluang itu datang bersama tantangan. Pelaku usaha harus menghadapi tekanan dari produk impor yang lebih murah serta fluktuasi harga bahan baku. Inovasi desain, kualitas produksi, dan kemampuan membaca tren menjadi faktor pembeda utama.
Selain itu, kehadiran pameran internasional dan platform digital membuka peluang baru, tetapi juga menuntut kesiapan dari sisi standar produk dan kapasitas produksi. Tanpa itu, peluang ekspor kerap sulit dimaksimalkan.
Di titik ini, strategi menjadi krusial. Pelaku usaha dituntut tidak hanya kreatif, tetapi juga adaptif dengan cara menggabungkan kekuatan lokal dengan selera global. Produk yang memiliki cerita, berbasis budaya, dan ramah lingkungan cenderung lebih mudah menembus pasar.
Di tengah perubahan pola konsumsi global, kerajinan tangan justru menemukan momentumnya. Dari skala rumahan, usaha ini bisa tumbuh menjadi bisnis bernilai ekspor selama pelakunya mampu membaca arah pasar dan menjaga kualitas.




