YOGYAKARTA – Keikutsertaan perajin asal Sumatera Utara dalam INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 menjadi momentum memperkenalkan kembali warisan tenun Nias kepada pasar nasional dan internasional. Melalui pameran yang berlangsung pada 15–19 Juli 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, pelaku usaha kriya dari Pulau Nias berupaya mengangkat kembali tradisi tenun kuno yang nyaris punah sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Sekretaris Badan Pengurus Daerah (BPD) ASEPHI Sumatera Utara, Vitalestari Nasution, mengatakan kehadiran Sumatera Utara dalam festival tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk terus mempromosikan kerajinan daerah. Saat ini BPD ASEPHI Sumatera Utara memiliki 67 anggota, dengan 47 anggota telah memiliki kartu tanda anggota dan sekitar 40 pelaku usaha aktif mengikuti berbagai pameran, termasuk INACRAFT di Jakarta.
Pada penyelenggaraan perdana INACRAFT Festival di Yogyakarta, partisipasi Sumatera Utara diwakili Tuwu Nukhada, brand yang mengangkat tenun dan budaya Pulau Nias.
Menurut Vitalestari, keikutsertaan Tuwu Nukhada menjadi bukti komitmen pelaku usaha daerah untuk terus melestarikan budaya sekaligus memperkenalkan identitas Nias kepada masyarakat luas. “Banyak orang belum mengenal Nias sebagai bagian dari Sumatera Utara. Melalui tenun dan budaya, kami ingin memperkenalkan kekayaan daerah kami kepada pengunjung dari dalam maupun luar negeri,” katanya.
Pendiri Tuwu Nukhada, Raminalai Dakhi yang akrab disapa Mina, mengatakan gagasan menghidupkan kembali tenun Nias bermula dari pengalaman pribadinya saat banyak orang tidak mengetahui letak Pulau Nias.
“Banyak yang mengira Nias itu di Sulawesi. Dari situ hati saya tergerak. Cukup saya yang mengalami, anak-cucu jangan sampai tidak mengenali identitas mereka sendiri,” ujarnya.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Mina bersama kedua putrinya melakukan riset mengenai tradisi tenun kuno Nias yang dikenal sebagai Fanoso. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa tradisi tersebut nyaris hilang dan hanya tersisa sebagai koleksi museum tanpa adanya regenerasi penenun.
Melalui Tuwu Nukhada, ia kemudian menginisiasi upaya menghidupkan kembali Fanoso sekaligus memperkenalkan budaya Nias kepada masyarakat. Nama Tuwu Nukhada diambil dari filosofi Lawa-Lawa, jendela bagian atas rumah adat Nias yang melambangkan cahaya dan harapan.
“Harapannya, Tuwu Nukhada menjadi cahaya yang memperkenalkan seni, budaya, dan peradaban leluhur Nias ke tingkat nasional maupun internasional,” kata Minai.
Perjalanan tersebut tidak mudah. Selama hampir tiga tahun, tim Tuwu Nukhada melakukan berbagai percobaan untuk menerjemahkan ornamen rumah adat, perhiasan, dan artefak kuno Nias ke dalam motif tenun modern. Tantangan terbesar adalah menciptakan motif geometris yang simetris tanpa menghilangkan nilai filosofinya.
Kini berbagai motif khas berhasil direkonstruksi, di antaranya Nukha Hombo Batu yang melambangkan keberanian, Nukha Omo Sebua sebagai simbol persaudaraan dan gotong royong, Nukha Dalam Mbagi yang merepresentasikan kehormatan, serta Nukha Rai Ni Wali-Wali yang dimaknai sebagai kekuatan doa perempuan dalam menjaga keluarga.
Mina juga mengembangkan strategi agar wastra Nias lebih mudah diterima pasar. Kain tenun tidak hanya dipasarkan dalam bentuk lembaran, tetapi diolah menjadi busana siap pakai seperti blazer, outer, hingga kemeja kasual yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.
Menurutnya, inovasi desain menjadi salah satu cara agar wastra tradisional tidak hanya digunakan pada acara seremonial, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Keikutsertaan Tuwu Nukhada dalam INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperluas pasar produk kriya Indonesia. Mina berharap semakin banyak masyarakat mengenal Nias melalui karya tenun yang mengangkat nilai sejarah dan budaya leluhur.
Ke depan, ia bercita-cita membangun sentra tenun di berbagai desa di Pulau Nias agar tradisi Fanoso kembali hidup dan menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Saya ingin setiap desa di Nias memiliki pojok tenun sendiri. Masyarakat bisa memproduksi tenun langsung dari tanah Nias,” ujarnya.
Bagi Mina, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumentasi, tetapi harus diwujudkan menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi. Dengan cara itu, generasi muda akan melihat budaya sebagai identitas sekaligus peluang usaha.
“Jangan malu mempromosikan budaya leluhur kita. Nilai tradisi ini sangat kaya dan bisa menjadi profesi yang menghasilkan. Sudah saatnya Nias dikenal dunia,” pungkasnya.





