• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Design

Desainer London Sulap Loteng Jadi Ruang Anti-Tren, Pilih Gaya Timeless yang Bertahan Puluhan Tahun

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
May 20, 2026
in Design, How to Do, Inspiration
0
Desainer London Sulap Loteng Jadi Ruang Anti-Tren, Pilih Gaya Timeless yang Bertahan Puluhan Tahun

Image credit: Alexandria Hall. Design: De La Warr Design

0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah derasnya arus tren desain interior yang terus berubah dan dominasi estetika media sosial, desainer interior asal London Katie Edmondson justru memilih jalan berbeda. Saat merenovasi loteng rumahnya sendiri di kawasan Walthamstow, London Timur, pendiri De La Warr Design itu memutuskan menciptakan ruang tidur bergaya sederhana dan tak lekang waktu, alih-alih mengikuti tren sesaat.

Loteng yang sebelumnya hanya menjadi ruang penyimpanan itu diubah menjadi kamar utama lengkap dengan balkon pribadi dan kamar mandi dalam. Alih-alih tampil mencolok, Edmondson memilih pendekatan desain yang tenang dengan palet warna netral, material alami, dan pencahayaan yang melimpah.

“Bekerja di dunia interior membuat saya terus-menerus terekspos tren. Tetapi saya ingin ruang ini tetap terasa relevan bahkan 10 tahun mendatang,” kata Edmondson dalam wawancara dengan media desain Livingetc.

Sebagai desainer interior, Edmondson terbiasa menciptakan ruang berdasarkan karakter dan kebutuhan klien. Namun ketika harus merancang rumah sendiri, ia justru memilih kembali pada prinsip dasar desain yang sederhana dan fungsional.

Menurut dia, tantangan terbesar bukan mencari inspirasi, melainkan menyaring begitu banyak referensi desain yang muncul setiap hari. Dari situ, Edmondson justru menemukan ketertarikan pada pendekatan yang lebih tenang dan minim ornamen.

“Saya terus kembali pada sesuatu yang lebih sederhana, palet warna lembut, tekstur material, dan permainan cahaya,” ujarnya.

Kamar loteng tersebut dirancang sebagai ruang istirahat yang menenangkan di tengah kehidupan London yang sibuk. Edmondson mengaku ingin menciptakan ruang privat yang nyaman untuk dirinya dan keluarganya, terutama setelah memiliki dua anak kecil.

“Saya ingin tempat untuk beristirahat sejenak, bahkan hanya beberapa menit dalam sehari,” katanya.

Image credit: Alexandria Hall. Design: De La Warr Design

Desain ruang itu juga dibangun berdasarkan pengalaman hidup yang ingin dirasakan, bukan sekadar gaya visual. Tempat tidur sengaja diarahkan menghadap jendela agar ia bisa menikmati pemandangan pepohonan sambil minum teh di pagi hari.

Meski berada di lantai paling atas rumah bergaya Victoria tersebut, Edmondson tetap menjaga kesinambungan desain dengan area rumah lainnya. Ia menggunakan kombinasi warna merah bata, krem, biru lembut, dan warna karat yang ternyata tanpa sadar menyerupai palet warna merek desain miliknya sendiri.

Sebagai spesialis desain kamar mandi, Edmondson memberi perhatian khusus pada area ensuite bathroom. Menurut dia, kamar mandi kecil harus tetap memenuhi fungsi utama seperti penyimpanan, kenyamanan, pencahayaan, serta kemudahan perawatan.

“Dengan ruang yang sangat kecil, tidak ada ruang untuk kesalahan,” katanya.

Kamar mandi itu hanya memiliki lebar sekitar 1,4 meter. Untuk menghemat ruang, Edmondson menggunakan pintu geser, toilet gantung, serta sistem pemanas tersembunyi di dinding untuk mengeringkan handuk. Ia juga memilih material zellige tile buatan tangan yang memiliki tekstur tidak sempurna untuk memberi karakter alami pada ruangan.

Edmondson mengaku banyak terinspirasi studio desain Australia Arent&Pyke yang dikenal menggunakan warna lembut dan material natural dengan pendekatan modern.

Selain itu, latar belakang keluarganya di dunia pertukangan turut memengaruhi pemilihan material kayu oak dan detail pengerjaan furnitur custom yang dibuat langsung di lokasi proyek bersama George Busch Carpentry.

Salah satu elemen yang paling disukainya adalah walk-in shower dengan pencahayaan alami besar yang membuat kamar mandi terasa lebih luas. Untuk mengurangi kesan sempit, ia menggunakan partisi setengah dinding dengan kaca di bagian atas, bukan panel kaca penuh.

Image credit: Alexandria Hall. Design: De La Warr Design

“Sebagai orang yang mendesain kamar mandi setiap hari, saya mungkin lebih sulit dipuaskan dibanding klien lain. Jadi ketika saya benar-benar menikmati ruang itu setiap pagi, bagi saya itu ujian sesungguhnya,” ujarnya.

Desain loteng Edmondson mencerminkan kecenderungan baru dalam dunia interior global yang mulai bergerak menjauhi tren cepat dan estetika seragam. Di tengah dominasi desain instan dan pengaruh kecerdasan buatan, banyak desainer kini kembali menekankan nilai ruang yang personal, fungsional, dan memiliki hubungan emosional dengan penghuninya.

Bagi Edmondson, rumah bukan sekadar ruang visual, tetapi tempat yang harus tetap terasa nyaman dan relevan dalam jangka panjang. “Saya ingin ruang yang tidak cepat terasa usang,” katanya.

Tags: De La Warr DesigninteriorKatie Edmondsontren desain
Previous Post

Menteri UMKM Apresiasi KURDA Bunga Nol Persen di Sragen, Dinilai Perluas Akses Pembiayaan Rakyat

Next Post

Produk Kriya Indonesia Raup Peluang Ekspor di Hong Kong, Kemenperin Buka Akses Pasar Global

Next Post
Produk Kriya Indonesia Raup Peluang Ekspor di Hong Kong, Kemenperin Buka Akses Pasar Global

Produk Kriya Indonesia Raup Peluang Ekspor di Hong Kong, Kemenperin Buka Akses Pasar Global

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo