Di tengah derasnya arus tren desain interior yang terus berubah dan dominasi estetika media sosial, desainer interior asal London Katie Edmondson justru memilih jalan berbeda. Saat merenovasi loteng rumahnya sendiri di kawasan Walthamstow, London Timur, pendiri De La Warr Design itu memutuskan menciptakan ruang tidur bergaya sederhana dan tak lekang waktu, alih-alih mengikuti tren sesaat.
Loteng yang sebelumnya hanya menjadi ruang penyimpanan itu diubah menjadi kamar utama lengkap dengan balkon pribadi dan kamar mandi dalam. Alih-alih tampil mencolok, Edmondson memilih pendekatan desain yang tenang dengan palet warna netral, material alami, dan pencahayaan yang melimpah.
“Bekerja di dunia interior membuat saya terus-menerus terekspos tren. Tetapi saya ingin ruang ini tetap terasa relevan bahkan 10 tahun mendatang,” kata Edmondson dalam wawancara dengan media desain Livingetc.
Sebagai desainer interior, Edmondson terbiasa menciptakan ruang berdasarkan karakter dan kebutuhan klien. Namun ketika harus merancang rumah sendiri, ia justru memilih kembali pada prinsip dasar desain yang sederhana dan fungsional.
Menurut dia, tantangan terbesar bukan mencari inspirasi, melainkan menyaring begitu banyak referensi desain yang muncul setiap hari. Dari situ, Edmondson justru menemukan ketertarikan pada pendekatan yang lebih tenang dan minim ornamen.
“Saya terus kembali pada sesuatu yang lebih sederhana, palet warna lembut, tekstur material, dan permainan cahaya,” ujarnya.
Kamar loteng tersebut dirancang sebagai ruang istirahat yang menenangkan di tengah kehidupan London yang sibuk. Edmondson mengaku ingin menciptakan ruang privat yang nyaman untuk dirinya dan keluarganya, terutama setelah memiliki dua anak kecil.
“Saya ingin tempat untuk beristirahat sejenak, bahkan hanya beberapa menit dalam sehari,” katanya.

Desain ruang itu juga dibangun berdasarkan pengalaman hidup yang ingin dirasakan, bukan sekadar gaya visual. Tempat tidur sengaja diarahkan menghadap jendela agar ia bisa menikmati pemandangan pepohonan sambil minum teh di pagi hari.
Meski berada di lantai paling atas rumah bergaya Victoria tersebut, Edmondson tetap menjaga kesinambungan desain dengan area rumah lainnya. Ia menggunakan kombinasi warna merah bata, krem, biru lembut, dan warna karat yang ternyata tanpa sadar menyerupai palet warna merek desain miliknya sendiri.
Sebagai spesialis desain kamar mandi, Edmondson memberi perhatian khusus pada area ensuite bathroom. Menurut dia, kamar mandi kecil harus tetap memenuhi fungsi utama seperti penyimpanan, kenyamanan, pencahayaan, serta kemudahan perawatan.
“Dengan ruang yang sangat kecil, tidak ada ruang untuk kesalahan,” katanya.
Kamar mandi itu hanya memiliki lebar sekitar 1,4 meter. Untuk menghemat ruang, Edmondson menggunakan pintu geser, toilet gantung, serta sistem pemanas tersembunyi di dinding untuk mengeringkan handuk. Ia juga memilih material zellige tile buatan tangan yang memiliki tekstur tidak sempurna untuk memberi karakter alami pada ruangan.
Edmondson mengaku banyak terinspirasi studio desain Australia Arent&Pyke yang dikenal menggunakan warna lembut dan material natural dengan pendekatan modern.
Selain itu, latar belakang keluarganya di dunia pertukangan turut memengaruhi pemilihan material kayu oak dan detail pengerjaan furnitur custom yang dibuat langsung di lokasi proyek bersama George Busch Carpentry.
Salah satu elemen yang paling disukainya adalah walk-in shower dengan pencahayaan alami besar yang membuat kamar mandi terasa lebih luas. Untuk mengurangi kesan sempit, ia menggunakan partisi setengah dinding dengan kaca di bagian atas, bukan panel kaca penuh.

“Sebagai orang yang mendesain kamar mandi setiap hari, saya mungkin lebih sulit dipuaskan dibanding klien lain. Jadi ketika saya benar-benar menikmati ruang itu setiap pagi, bagi saya itu ujian sesungguhnya,” ujarnya.
Desain loteng Edmondson mencerminkan kecenderungan baru dalam dunia interior global yang mulai bergerak menjauhi tren cepat dan estetika seragam. Di tengah dominasi desain instan dan pengaruh kecerdasan buatan, banyak desainer kini kembali menekankan nilai ruang yang personal, fungsional, dan memiliki hubungan emosional dengan penghuninya.
Bagi Edmondson, rumah bukan sekadar ruang visual, tetapi tempat yang harus tetap terasa nyaman dan relevan dalam jangka panjang. “Saya ingin ruang yang tidak cepat terasa usang,” katanya.





