Ekonomi kreatif berbasis komunitas mulai dilirik sebagai jalan memperluas pasar fesyen dan kriya Indonesia ke kawasan Asia Tenggara. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar mendorong Folkacommunal memperkuat kolaborasi lintas negara dalam mengembangkan ekosistem tersebut.
Dorongan itu disampaikan Irene saat menerima audiensi Folkacommunal, platform yang mempertemukan jenama lokal dan pelaku ekonomi kreatif dengan konsumen melalui berbagai pengalaman, baik secara online maupun offline, di Kementerian Ekraf, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.
Folkacommunal berencana menggelar tiga kegiatan fesyen berbasis komunitas di tiga negara. Rangkaian tersebut diawali Pesta Folka di Jakarta pada 29–30 Agustus, kemudian Pesta Folka di Singapura pada 23–25 Oktober dan Sukaria Market di Malaysia pada tanggal yang sama.
Menurut Irene, ekspansi kegiatan ke Malaysia dan Singapura membutuhkan jejaring yang lebih luas. Ia mendorong Folkacommunal menggandeng Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), media, pelajar, serta komunitas lokal di kedua negara.
“Tentu ini perlu kolaborasi, dengan KBRI di sana (Malaysia-Singapura), media, pelajar, komunitas yang sudah ada. Kuncinya kerja sama,” ujar Irene.
Ia mengatakan penguatan kolaborasi diperlukan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap jenama dan produk kreatif Indonesia. Dengan demikian, pasar yang dibidik tidak berhenti di dalam negeri.
“Kita meningkatkan public awareness sehingga market kita tidak hanya Indonesia tetapi Singapura dan Malaysia,” kata dia.
Irene juga mengingatkan Folkacommunal agar tidak hanya menjual produk dalam setiap kegiatan. Menurut dia, penyelenggara perlu membangun dan menceritakan intellectual property atau IP yang menjadi identitas sebuah event maupun produk yang dihadirkan.
Pesta Folka, misalnya, mengangkat semangat dan budaya Nusantara dengan kemasan yang lebih segar bagi generasi muda. Adapun Sukaria Market memadukan jenama lokal, aktivitas kreatif, dan pengalaman tematik yang menyasar generasi muda, terutama Generasi Z.
Irene menilai kekuatan komunitas dapat menjadi pembeda dalam membangun sebuah acara fesyen. Ia mencontohkan bagaimana budaya populer dari negara lain berkembang melalui komunitas dan identitas yang kuat.
“Kalau cosplay itu dari Jepang, kita bikin misalnya Kebaya Play atau apa namanya silakan. Ceritakan kebayanya seperti apa,” ujar Irene.
Menurut dia, pendekatan tersebut dapat membuat busana tradisional tidak berhenti sebagai produk budaya, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup dan aktivitas komunitas generasi muda.
“Ini bagus karena memberikan ruang orang yang ingin dress up menjadi sebuah community based, orang butuh itu. Kalau komunitasnya sudah kuat itu nilai penting untuk sebuah event,” katanya.
CEO sekaligus Founder PT Folkacommunal Kreasi Sukaria, Sara Tobing, mengatakan Folkacommunal ingin membuka peluang baru bagi jenama lokal melalui kolaborasi lintas negara, perluasan pasar, dan kemitraan strategis.
Ia mengatakan setiap acara Folkacommunal dirancang memiliki karakter dan pengalaman yang berbeda. Perusahaan tersebut mengembangkan tiga prinsip, yakni feel, experience, dan connection, dengan tiga IP yang menjadi identitas kegiatan: Sukaria Market, Pesta Folka, dan Trinkieland.
“Setiap bikin event kita pasti ada pembedanya. Karena kita ingin orang datang dengan rasa yang baru,” kata Sara.
Salah satu fokus Folkacommunal adalah memperkenalkan wastra Indonesia, termasuk kebaya, kepada generasi Z. Pendekatan yang digunakan tidak hanya mengenalkan sejarah dan bentuk busana, tetapi juga membantu anak muda menemukan gaya yang sesuai dengan karakter mereka.
“Kita juga ingin memperkenalkan wastra Indonesia seperti kebaya kepada Gen Z. Membantu mereka juga mencarikan style yang cocok seperti apa. Kita ingin mereka pede menggunakan wastra Indonesia,” ujar Sara.
Langkah membawa kegiatan ke Malaysia dan Singapura menjadi upaya Folkacommunal menguji penerimaan konsep tersebut di pasar regional. Tahun ini, kata Sara, perusahaan mulai mencoba membawa ekosistem yang dibangun di Indonesia ke panggung internasional.
“Dan tahun ini kita mencoba go internasional,” katanya.
Audiensi tersebut turut dihadiri Direktur Arsitektur dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Sabar Norma Megawati Panjaitan.





