Pemerintah melihat Kepulauan Tanimbar, Maluku, memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya, alam, dan kearifan lokal. Pengembangan itu dinilai perlu diarahkan bukan sekadar pada peningkatan produksi, melainkan pada penciptaan nilai tambah yang tetap menjaga lingkungan dan identitas budaya.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar membahas potensi tersebut bersama Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar Juliana Chatarina Ratuanak dalam pertemuan di Autograph Tower, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.
Kementerian Ekraf menilai sejumlah subsektor memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Tanimbar, antara lain wastra, kriya, seni budaya, kuliner, pariwisata berbasis alam, dan ekonomi kreatif digital. Maluku sendiri termasuk salah satu dari 15 lokasi prioritas pengembangan ekonomi kreatif.
Irene mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memetakan kekayaan ekonomi kreatif Tanimbar agar potensi yang besar tersebut dapat dikembangkan secara lebih terarah.
“Kita perlu menyederhanakan dan memetakan kekayaan potensi ekonomi kreatif yang ada di Tanimbar. Misalnya, dari 47 motif tenun bisa dipilih motif-motif yang paling unggul dan penting secara identitas budaya untuk diungkapkan melalui storytelling-nya sehingga bisa dikembangkan secara ekonomi,” ujar Irene.
Menurut dia, kurasi terhadap produk dan kekayaan budaya diperlukan agar tidak semua potensi diperlakukan dengan cara yang sama. Motif atau produk yang memiliki kekuatan identitas dapat dikembangkan melalui narasi budaya yang kuat, peningkatan kualitas, dan strategi pemasaran yang sesuai.
Dengan pendekatan itu, Irene berharap pelestarian budaya tidak berhadapan dengan kepentingan ekonomi. Keduanya justru dapat berjalan beriringan.
“Dengan begitu, pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif dapat berjalan bersama,” katanya.
Irene juga mengingatkan agar pengembangan pariwisata Tanimbar tidak semata mengejar jumlah kunjungan. Karakter alam dan budaya kepulauan tersebut, menurut dia, justru perlu dijaga sebagai bagian dari nilai jual destinasi.
“Kepulauan Tanimbar tidak harus mendatangkan orang sebanyak-banyaknya. Hal yang perlu dicari yaitu mereka yang bersedia membayar untuk mendapat pengalaman yang autentik dari alam dan budaya Kepulauan Tanimbar yang tetap terjaga,” ujar Irene.
Strategi tersebut, kata dia, perlu disertai kesiapan talenta lokal. Setelah sumber daya manusia siap, pemerintah dapat menghubungkan pelaku ekonomi kreatif dengan berbagai program peningkatan kapasitas, termasuk pemasaran digital melalui program seperti Emak-Emak Matic.
Bagi Irene, prinsip utama pengembangan ekonomi kreatif Tanimbar adalah menjaga kekayaan alam agar tetap lestari sekaligus memastikan manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat.
Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar Juliana Chatarina Ratuanak memaparkan potensi agrikultur, maritim, dan budaya daerahnya. Kekayaan tersebut mencakup bahasa, seni tari, musik, cerita rakyat, ukiran, anyaman, hingga tenun ikat.
Tenun ikat Tanimbar memiliki posisi penting karena menjadi bagian dari pakaian adat resmi Provinsi Maluku. Karena itu, pemerintah daerah mendorong proses hilirisasi agar keberadaan tenun tidak berhenti sebagai simbol budaya, tetapi memberikan dampak ekonomi kepada para perajin.
“Kami tidak ingin ekonomi kreatif Kepulauan Tanimbar hanya menjadi kekayaan budaya yang dilestarikan. Kami ingin menjadikan potensi lokal sebagai sumber nilai tambah, membuka lapangan pekerjaan, dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Juliana.
Namun, pengembangan ekonomi kreatif di Tanimbar masih menghadapi sejumlah persoalan. Akses pasar, konsistensi produksi dan desain, branding, kemasan, pembiayaan, serta konektivitas menjadi tantangan yang harus dihadapi karena karakter geografis Tanimbar sebagai wilayah kepulauan.
Pemerintah daerah kini melakukan pendataan pelaku ekonomi kreatif, pembinaan UMKM, fasilitasi kelompok dan komunitas, serta pengembangan promosi dan event budaya secara lebih terstruktur.
Juliana berharap kerja sama dengan Kementerian Ekraf dapat memperkuat sumber daya manusia sekaligus membuka akses pasar bagi produk lokal. Ia juga mendorong adanya peningkatan kapasitas UMKM agar pelaku usaha di Tanimbar dapat naik kelas.
“Harapan ke depan, tentu kita bisa kerja sama untuk mengembangkan bagaimana memperkuat sumber daya manusia, membuka jalur dan peluang supaya potensi lokal bisa diperdagangkan, dan seperti apa upgrade UMKM bisa naik kelas sehingga semuanya bermuara terhadap kesejahteraan masyarakat yang ada di Kepulauan Tanimbar,” ujar Juliana.
Bagi Tanimbar, pengembangan ekonomi kreatif bukan sekadar soal menjual produk budaya. Tantangannya adalah mengubah kekayaan yang diwariskan antargenerasi menjadi sumber penghidupan baru tanpa kehilangan identitas dan tanpa mengorbankan alam yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kepulauan.





