Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai kekayaan budaya Indonesia berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus instrumen diplomasi internasional. Menurut dia, kebudayaan tidak semestinya dipandang sebagai beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang yang dapat menghasilkan nilai ekonomi.
“Dalam pemajuan budaya menuju ekonomi budaya, kebudayaan itu bukan liability atau cost center, melainkan sebuah investasi yang sustainable,” kata Fadli saat memberikan Kuliah Umum Media Indonesia bertema “Indonesia sebagai Megadiversity Kebudayaan” di Oakwood Hotel TMII, Jakarta.
Fadli mengatakan Indonesia memiliki modal budaya yang besar, mencakup 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, serta beragam objek pemajuan kebudayaan yang tersebar di seluruh wilayah. Keragaman tersebut, menurut dia, bukan hanya menjadi perekat persatuan, tetapi juga dapat memperkuat identitas nasional dan menggerakkan industri kreatif.
Ia menyebut gastronomi lokal, wastra Nusantara seperti batik dan tenun, seni rupa, musik, hingga film memiliki peluang untuk bersaing di pasar global. Karena itu, pengembangan kebudayaan perlu diarahkan agar memberi manfaat ekonomi tanpa mengabaikan pelestarian nilai dan tradisi.
Dalam paparannya, Fadli menguraikan empat pilar pemajuan kebudayaan, yakni menjaga persatuan bangsa, membentuk identitas nasional, memperkuat industri budaya dan kreatif, serta mengembangkan diplomasi internasional. Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi talenta melalui Manajemen Talenta Nasional di bidang film, musik, sastra, seni rupa, dan seni pertunjukan.
Menurut data yang disampaikan Fadli, film Indonesia menguasai 67 persen pangsa pasar bioskop nasional, sedangkan konsumsi musik lokal mencapai 80 persen. Ia menilai capaian tersebut menunjukkan besarnya ruang bagi karya lokal untuk berkembang di pasar domestik.
Selain mengembangkan industri kreatif, Kementerian Kebudayaan menjalankan program revitalisasi museum dan cagar budaya. Pemerintah juga memperkuat upaya pengembalian benda bersejarah yang dibawa ke luar negeri pada masa kolonial atau repatriasi artefak.
Sepanjang 2024 hingga 2026, kata Fadli, sejumlah artefak telah dikembalikan ke Indonesia, termasuk fosil Java Man atau manusia Jawa yang terkait dengan penemuan Eugène Dubois, serta berbagai keris dan pusaka Nusantara. Pemerintah juga mempersiapkan pemulangan Berlian Banjar dan Al-Qur’an Teuku Umar dari Belanda.
Fadli menyampaikan pandangan tersebut dalam rangkaian peringatan Hari Kebudayaan yang diperingati setiap 17 Oktober. Ia mengaitkan momentum itu dengan upaya menjalankan amanat Pasal 32 ayat 1 UUD 1945 tentang pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.
Direktur Utama Media Indonesia Arief Suditomo mengatakan kebudayaan berperan penting dalam membentuk karakter dan identitas bangsa. Ia menilai kolaborasi antara media dan pemerintah diperlukan untuk memperluas pemahaman publik mengenai pentingnya pelestarian budaya.
Bagi Fadli, pengembangan kebudayaan juga merupakan strategi jangka panjang menghadapi keterbatasan sumber daya alam. “Sumber daya alam seperti batu bara, minyak, dan nikel suatu saat pasti akan habis, tetapi budaya tidak akan pernah habis selama manusia itu ada,” ujarnya.
Tantangannya adalah memastikan potensi ekonomi budaya dapat dinikmati oleh seniman, komunitas adat, perajin, dan pelaku industri kreatif, bukan hanya tercermin dalam angka pertumbuhan pasar. Pemanfaatan budaya untuk kepentingan ekonomi juga perlu berjalan seiring dengan perlindungan warisan budaya dan keberlanjutan tradisi.




