Kementerian Perindustrian menekankan pentingnya keterhubungan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia industri untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan siap kerja. Selain keterampilan teknis, mahasiswa dan siswa juga perlu mengembangkan kemampuan nonteknis atau soft skill agar mampu bersaing di dunia kerja.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi sejumlah unit pendidikan dan instansi di bawah Kementerian Perindustrian di Makassar, Sabtu, 17 Oktober 2026. Kunjungan itu mencakup Politeknik ATI Makassar, SMK-SMAK Makassar, serta Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Hasil Perkebunan, Mineral Logam, dan Maritim Makassar.
Saat berdialog dengan mahasiswa Politeknik ATI Makassar, Sarmuji mengingatkan mereka agar tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis yang diperoleh selama kuliah. Pengalaman berorganisasi, menurut dia, dapat membantu mahasiswa membangun keterampilan interpersonal yang dibutuhkan di lingkungan kerja.
“Bangun soft skill melalui lembaga kemahasiswaan karena hard skill sudah diberikan di perkuliahan,” kata Sarmuji.
Di kampus tersebut, Sarmuji juga meninjau pelatihan dan sertifikasi calon karyawan PT Masmindo Dwi Area yang diselenggarakan melalui program pengabdian masyarakat industri Politeknik ATI Makassar. Program ini dirancang untuk menyiapkan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan perusahaan.
Sarmuji mengapresiasi kerja sama tersebut karena dinilai mencerminkan konsep link and match antara lembaga pendidikan vokasi dan industri. Perguruan tinggi menyiapkan sumber daya manusia sesuai kompetensi yang dibutuhkan, sedangkan perusahaan memperoleh calon tenaga kerja yang telah menjalani pelatihan.
Persoalan kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri juga menjadi perhatian saat Sarmuji mengunjungi SMK-SMAK Makassar. Ia berdialog mengenai jumlah siswa dan tingkat penyerapan lulusan di sektor industri.
Sekolah yang berfokus pada pendidikan analis kimia itu memadukan pembelajaran teori dengan praktik laboratorium untuk menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja, terutama di kawasan Indonesia Timur.
Selain pendidikan vokasi, Sarmuji meninjau Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Hasil Perkebunan, Mineral Logam, dan Maritim Makassar. Lembaga ini menyediakan layanan teknis, pengujian, kalibrasi, dan standardisasi bagi industri berbasis hasil perkebunan, mineral logam, serta sektor maritim.
Layanan tersebut berperan dalam menjaga mutu produk industri agar memenuhi standar yang dipersyaratkan dan mampu bersaing di pasar. Dengan demikian, penguatan kompetensi tenaga kerja dan penjaminan mutu produk menjadi dua aspek yang saling melengkapi dalam pengembangan industri manufaktur nasional.
Kunjungan ke sejumlah institusi tersebut memperlihatkan dua fokus pengembangan industri, yakni penyiapan tenaga kerja melalui pendidikan vokasi dan peningkatan kualitas produk melalui layanan standardisasi. Tantangannya adalah memastikan kompetensi yang diajarkan di lembaga pendidikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan, sementara layanan industri mampu membantu pelaku usaha memenuhi standar pasar yang terus berkembang.





