Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus memperluas akses pasar bagi pelaku ekonomi kreatif daerah melalui penyelenggaraan IDE.IND 2026. Program yang menjadi bagian dari kampanye Creative by Indonesia itu digelar di Plaza Malioboro, Yogyakarta, dan diharapkan menjadi ruang kolaborasi sekaligus wadah promosi bagi produk kreatif lokal agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat terhadap penyelenggaraan IDE.IND 2026. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang pameran produk kreatif, tetapi juga sarana mempertemukan pelaku usaha, komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
“Melalui IDE.IND, kami ingin memastikan bahwa karya dan produk kreatif lokal tidak hanya dikenal di daerah asalnya, tetapi juga memiliki peluang untuk tumbuh menjadi produk nasional bahkan menembus pasar global,” kata Teuku Riefky saat membuka kegiatan di Plaza Malioboro, Sabtu, 12 Juni 2026.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, Kementerian Ekraf menghadirkan 20 stan yang menampilkan berbagai jenama lokal dari 11 subsektor ekonomi kreatif. Produk yang dipamerkan mencakup sektor kriya, fesyen, kuliner, gim, animasi, hingga berbagai produk kreatif berbasis inovasi dan budaya lokal.
Selain pameran produk, IDE.IND 2026 juga diisi dengan berbagai kegiatan seperti talkshow, promosi produk kreatif, aktivasi komunitas, serta kolaborasi lintas subsektor ekonomi kreatif. Kegiatan tersebut dirancang untuk membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat jejaring bisnis para pelaku ekonomi kreatif.
Menurut Teuku Riefky, penyelenggaraan IDE.IND tahun ini melibatkan berbagai unit di lingkungan Kementerian Ekraf sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif secara berkelanjutan.
“Harapan kami sederhana, semakin banyak ruang bagi pelaku kreatif untuk tumbuh, semakin kuat pula ekonomi kreatif Indonesia sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Yogyakarta dipilih sebagai lokasi pertama penyelenggaraan IDE.IND 2026 karena dinilai memiliki posisi strategis dalam perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Selain dikenal sebagai kota budaya, Yogyakarta juga menjadi tempat tumbuhnya berbagai komunitas kreatif, pelaku usaha kreatif, dan ruang kolaborasi yang berkembang secara organik.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan ekonomi kreatif membutuhkan dukungan yang terintegrasi mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, perlindungan kekayaan intelektual, hingga perluasan akses pasar.
Menurut dia, subsektor kuliner, fesyen, dan kriya telah menjadi bagian penting dari identitas Yogyakarta sekaligus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
“Subsektor kuliner, fesyen, dan kriya bukan sekadar kategori industri. Ketiganya merupakan cara Yogyakarta mengekspresikan identitasnya kepada dunia sekaligus membuktikan bahwa identitas budaya dan daya saing ekonomi dapat berjalan beriringan,” kata Ni Made.
Ia menilai IDE.IND menjadi ruang yang mempertemukan kreativitas, inovasi, dan peluang ekonomi dalam satu platform yang mampu memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha kreatif.
Kementerian Ekraf berharap penyelenggaraan IDE.IND 2026 di Yogyakarta dapat menjadi titik awal penguatan ekosistem ekonomi kreatif nasional. Program tersebut juga diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan potensi kreatif berbasis budaya, inovasi, dan teknologi yang dimiliki masing-masing wilayah.
Melalui penguatan akses pasar dan kolaborasi lintas sektor, pemerintah optimistis ekonomi kreatif akan semakin berperan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja yang lebih luas di berbagai daerah.




