Jakarta — Kementerian Perindustrian memperluas upaya memasukkan industri kecil dan menengah (IKM) ke dalam rantai pasok industri nasional. Salah satunya dengan mempertemukan IKM logam potensial dengan perusahaan industri besar untuk membuka peluang kemitraan bisnis yang berkelanjutan.
Program tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dan memperdalam struktur industri manufaktur nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan IKM memiliki peran penting dalam perekonomian, terutama dalam menciptakan lapangan kerja. Karena itu, hubungan antara IKM dan industri besar perlu diperkuat agar kapasitas produksi, kualitas, dan daya saing pelaku IKM meningkat.
“IKM berperan besar dalam menggerakkan perekonomian serta penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, penguatan kemitraan antara IKM dan industri besar menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kinerja IKM sekaligus memperkuat ketahanan industri manufaktur nasional,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Ahad, 9 Agustus 2026.
Industri logam menjadi salah satu sektor yang dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan. Produk dan komponen logam dibutuhkan berbagai sektor, mulai dari otomotif, alat berat, alat kesehatan, konstruksi, hingga permesinan.
Menurut Agus, keterlibatan IKM sebagai pemasok industri besar, baik badan usaha milik negara maupun swasta, dapat meningkatkan kemampuan produksi sekaligus kompetensi usaha. Program vendor development dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi IKM untuk memenuhi kebutuhan industri dengan standar yang lebih tinggi.
“Ketika IKM mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri besar, baik BUMN maupun swasta, sekaligus terlibat dalam program vendor development, peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kompetensi akan semakin besar,” ujar Agus.
Jawa Barat Jadi Titik Temu
Untuk membuka akses tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian menggelar Fasilitasi Kemitraan IKM Logam dengan Industri Besar di Jawa Barat pada 29-30 Juli 2026.
Kegiatan itu bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang (APEK). Jawa Barat dipilih karena menjadi salah satu basis manufaktur terbesar di Indonesia dengan keberadaan perusahaan nasional maupun multinasional.
Kebutuhan industri di kawasan tersebut mencakup bahan baku, komponen, hingga jasa pendukung. Kondisi itu membuka peluang bagi IKM lokal untuk masuk ke rantai pasok perusahaan besar.
Selain industri di Jawa Barat, IKM logam juga diarahkan untuk membidik peluang kemitraan dengan perusahaan dari daerah lain, terutama di sektor alat kesehatan dan komponen permesinan.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Reni Yanita mengatakan kemampuan IKM logam tidak terbatas pada produksi komponen. Pelaku usaha juga dapat dikembangkan sebagai penyedia layanan perawatan, perbaikan, dan rekayasa mesin maupun peralatan produksi.
“Pelaksanaan temu bisnis ini merupakan salah satu upaya untuk mempertemukan IKM dengan industri besar dalam rangka membangun kemitraan yang saling menguatkan,” kata Reni.
Menurut dia, pertemuan langsung memberikan kesempatan kepada IKM untuk memahami kebutuhan calon mitra, mulai dari spesifikasi produk hingga standar kualitas yang harus dipenuhi. Ia berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai pertemuan bisnis, tetapi menghasilkan kerja sama komersial.
“Kami berharap kegiatan ini menghasilkan tindak lanjut kemitraan yang nyata dan berkelanjutan sehingga dapat memperkuat ekosistem industri nasional,” ujar Reni.
Industri Besar Menjajaki Kapasitas IKM
Rangkaian program diawali dengan kunjungan ke sejumlah IKM logam di Kabupaten Karawang dan Bekasi. Calon mitra dari industri besar melihat langsung proses produksi, kualitas produk, kapasitas, serta kesiapan IKM memenuhi kebutuhan industri.
Sejumlah perusahaan mengikuti kunjungan tersebut, di antaranya PT Perkebunan Nusantara, PT Yogya Presisi Teknikatama Industri, PT Hitachi Construction Machinery Indonesia, dan PT Sarandi Karya Nugraha.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Temu Bisnis IKM Logam dengan Industri Besar di Karawang pada 30 Juli 2026. Forum itu mempertemukan IKM dan calon mitra untuk membahas kebutuhan industri, spesifikasi produk, standar kualitas, serta peluang kerja sama.
Plt. Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Budi Setiawan mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana bagi IKM membaca kebutuhan pasar dan standar industri.
Sejumlah perusahaan dan asosiasi menjadi narasumber, antara lain PT Perkebunan Nusantara, Himpunan Pengembangan Ekosistem Alat Kesehatan Indonesia (HIPELKI), PT Sarandi Karya Nugraha, PT Yogya Presisi Teknikatama Industri, Perkumpulan Alat Besar Indonesia (HINABI), PT Hitachi Construction Machinery Indonesia, serta PT United Tractors Pandu Engineering.
Sebanyak 30 IKM logam dari Karawang dan Bekasi ikut dalam kegiatan tersebut. Mereka memiliki kompetensi yang beragam, seperti fabrikasi logam, machining, pembuatan komponen, hingga jasa pendukung industri.
Bagi Kemenperin, keberagaman kompetensi itu menjadi modal untuk memperluas kemitraan. IKM yang mampu memenuhi spesifikasi dan kapasitas produksi industri besar berpeluang berkembang dari pemasok lokal menjadi bagian dari rantai pasok manufaktur nasional.
Kemenperin berharap kemitraan tersebut dapat meningkatkan skala dan kapasitas usaha IKM sekaligus memperkuat struktur industri dalam negeri.
“Kami berharap melalui kegiatan fasilitasi kemitraan ini dapat terjalin hubungan bisnis yang berkelanjutan serta semakin memperkuat keterlibatan IKM dalam rantai pasok industri nasional,” kata Budi.




