Presiden Prabowo Subianto meninjau sejumlah hasil riset dan inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelum bertemu sekitar 150 periset lembaga tersebut di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026. Berbagai teknologi yang diperlihatkan mencakup bidang energi, pertahanan, kedirgantaraan, kesehatan, pangan, hingga pengolahan air.
Peninjauan itu menjadi kesempatan bagi Prabowo melihat langsung perkembangan teknologi yang tengah dikembangkan BRIN untuk mendukung sejumlah agenda pembangunan nasional. Kepala BRIN Arif Satria mendampingi Presiden mengunjungi stan-stan inovasi dan menjelaskan potensi penerapan masing-masing teknologi.
Prabowo terlihat antusias sepanjang peninjauan. Ia beberapa kali mengajukan pertanyaan kepada para periset dan menyimak penjelasan mengenai teknologi yang mereka kembangkan.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian Presiden adalah unit pengolahan air darurat. Teknologi tersebut dapat mengolah air banjir, air payau, air tanah, hingga air sungai menjadi air siap minum.
Prabowo bahkan mencoba langsung air hasil pengolahan tersebut. Menurut BRIN, teknologi itu telah dimanfaatkan dalam sejumlah operasi penanganan bencana dan pemenuhan kebutuhan air bersih.
Dalam paparannya kepada Presiden, Arif Satria mengatakan berbagai inovasi yang ditampilkan merupakan bagian dari upaya membangun kapabilitas teknologi nasional di sektor-sektor strategis.
Di bidang energi, misalnya, BRIN mengembangkan teknologi penyimpanan gas alam bertekanan rendah berbasis Metal Organic Framework (MOF). Pengembangan tersebut dilakukan melalui kerja sama Sister Lab dengan peraih Nobel Kimia 2025, Susumu Kitagawa.
Arif mengatakan teknologi tersebut berpotensi menekan beban subsidi LPG. “Berdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar Rp26 triliun per tahun terhadap beban subsidi LPG,” kata Arif.
Di sektor kedirgantaraan, BRIN mengembangkan kemampuan teknologi mulai dari desain pesawat, wahana nirawak, hingga satelit penginderaan jauh.
Pesawat N219, menurut Arif, telah dilisensikan kepada PT Dirgantara Indonesia untuk diproduksi. Sementara satelit NEO-1 dijadwalkan meluncur pada awal 2027.
Satelit tersebut diproyeksikan mendukung kebutuhan data nasional untuk berbagai sektor, seperti pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, dan pengawasan maritim. Efisiensi biaya misinya disebut mencapai sekitar 71,9 persen dibandingkan misi sejenis.
BRIN juga mengembangkan teknologi pertahanan dan keamanan. Salah satunya Pesawat Udara Nirawak (Puna) Alap-Alap yang memiliki kemampuan terbang hingga enam jam dengan jangkauan sekitar 100 kilometer.
Menurut Arif, wahana tersebut dapat digunakan untuk pemantauan, survei, pemetaan, dan pengawasan wilayah.
Pengembangan teknologi juga menyasar sektor transportasi dan ketahanan pangan. BRIN mengembangkan kendaraan listrik, teknologi kapal, engine berbahan bakar fleksibel, serta berbagai inovasi pendukung Program Makan Bergizi Gratis.
Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah kapal nelayan bertenaga listrik. Teknologi itu diperkirakan dapat memangkas biaya operasional energi hingga 70 persen dibandingkan kapal yang menggunakan bahan bakar minyak.
Di bidang kesehatan, BRIN mengembangkan teknologi vaksin, diagnosis, radiofarmaka, dan alat kesehatan. Sementara di sektor industri, lembaga tersebut mengembangkan sepatu sekolah berbahan karet lokal dengan teknologi One Piece Injection Molding.
Sepatu itu ditargetkan memiliki biaya produksi di bawah Rp70 ribu. BRIN juga mengembangkan smart insole yang dapat digunakan untuk rehabilitasi medis, olahraga, hingga kebutuhan keselamatan kerja.
Pengembangan teknologi lainnya mencakup pengolahan mineral kritis, teknologi nuklir, sistem rumah modular, teknologi pelindung pantai untuk pembangunan Giant Sea Wall, pengelolaan sampah, hingga desalinasi air.
Arif menilai penguasaan teknologi strategis diperlukan agar Indonesia tidak terus bergantung pada teknologi dari negara lain.
“BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir dari sekarang, sehingga ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulainya sepenuhnya dari nol dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi,” ujar Arif.
Menurut dia, berbagai produk yang dipamerkan di hadapan Presiden bukan sekadar hasil penelitian di laboratorium. Produk-produk itu menunjukkan kemampuan Indonesia membangun fondasi kemandirian teknologi.
Tantangan berikutnya adalah membawa hasil riset tersebut keluar dari ruang penelitian dan mempertemukannya dengan kebutuhan pemerintah, industri, serta masyarakat. Dengan demikian, inovasi tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat digunakan secara luas.
Arif optimistis dukungan Presiden akan memperkuat peran riset dan inovasi dalam pembangunan nasional. “Dengan arahan dan dukungan Bapak Presiden, riset dan inovasi Indonesia akan semakin mampu mendukung pelaksanaan Asta Cita, mempercepat pencapaian prioritas nasional sebagai fondasi Indonesia Emas 2045,” kata Arif.




