Produk fesyen dan kriya tidak lagi cukup mengandalkan kualitas barang untuk memenangkan pasar. Industri kecil dan menengah atau IKM di sektor ini dituntut mampu membangun merek, memahami perilaku konsumen dan memanfaatkan kanal digital untuk mempertahankan hubungan dengan pembeli.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan transformasi digital menjadi salah satu kunci bagi IKM fesyen dan kriya untuk memperluas pasar. Media sosial dan berbagai platform digital, kata dia, tidak sekadar digunakan untuk berjualan, tetapi juga membangun identitas merek dan menyampaikan cerita di balik produk.
“Pelaku IKM saat ini harus memanfaatkan berbagai kanal digital, termasuk sektor IKM fesyen dan kriya yang perlu membangun identitas merek, menciptakan narasi untuk meningkatkan nilai produknya, memahami karakter konsumen, serta menentukan strategi dan jenis konten yang sesuai dengan bisnisnya,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Dorongan tersebut datang ketika industri fesyen dan kriya menunjukkan pertumbuhan. Kementerian Perindustrian mencatat pertumbuhan industri fesyen dan kriya nasional meningkat dari 2,43 persen pada 2024 menjadi 4,93 persen pada 2025.
Kemenperin menilai pertumbuhan tersebut perlu diikuti dengan kemampuan pelaku IKM membaca perubahan pasar. Teknologi digital menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk memperluas jangkauan sekaligus membangun kedekatan dengan konsumen.
Melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya atau BPIFK di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Kemenperin mengembangkan program Creative Business Incubator. Salah satu kegiatannya adalah Creative Talk, yang mempertemukan pelaku usaha dengan praktisi dan akademisi.
Pada 13 Agustus 2026, BPIFK menggelar Creative Talk di Gedung Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung, Bali. Forum tersebut membahas pemilihan platform digital, pembangunan identitas merek dan strategi memahami perjalanan konsumen.
Pendiri jenama Kominela, Komang Meilia, dan pemilik Tanteri Ceramic, I Putu Oka Mahendra, berbagi pengalaman dalam membangun merek. Salah satu pembahasan berfokus pada customer journey, yakni perjalanan konsumen sejak mengenal produk, mempertimbangkan pembelian, melakukan transaksi hingga kembali menjadi pelanggan.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Reni Yanita mengatakan pemilihan kanal digital tidak dapat dilakukan secara seragam. Setiap platform memiliki karakter pengguna dan pola komunikasi yang berbeda.
“Menjaga hubungan dengan konsumen merupakan bagian penting dalam perjalanan tersebut. Artinya, komunikasi dengan konsumen tidak berhenti setelah transaksi dilakukan,” kata Reni.
Menurut dia, hubungan setelah transaksi justru dapat menentukan loyalitas pelanggan. Karena itu, pelaku IKM perlu memetakan titik pertemuan dengan konsumen dan memastikan pengalaman yang diberikan tetap konsisten.
Kepala BPIFK Dickie Sulistya mengatakan perubahan di kanal digital berlangsung cepat. Pelaku IKM perlu terus menyesuaikan strategi pemasaran dengan kondisi pasar, karakter konsumen dan perkembangan bisnis.
Pada hari yang sama, BPIFK juga menggelar Creative Talk secara daring dengan tema strategi membangun bisnis berdaya saing. Kegiatan itu diikuti 94 peserta yang terdiri atas pelaku IKM, mahasiswa, desainer dan masyarakat umum.
Mentor Creative Business Incubator Isti Budhi Setiawati dan pendiri Robries, Tita Sabrina, menjadi narasumber. Robries dikenal mengembangkan produk berbahan plastik daur ulang.
Dickie mengatakan pelaku IKM perlu menentukan arah bisnis sebelum memilih strategi pemasaran. Pemahaman mengenai visi, target pasar dan posisi merek menjadi dasar untuk menentukan cara bersaing.
Persaingan juga tidak selalu dimenangkan dengan menciptakan produk yang sepenuhnya baru. Desain, kualitas, cerita, pelayanan dan pengalaman konsumen dapat menjadi pembeda.
“Keunggulan dalam bersaing tidak selalu harus dibangun dengan menciptakan produk yang sepenuhnya baru,” ujar Dickie.
Bagi IKM fesyen dan kriya, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena konsumen tidak hanya membeli fungsi sebuah produk. Mereka juga membeli identitas, cerita dan nilai yang melekat pada produk.
Kemenperin mendorong pelaku IKM memanfaatkan riset pasar, teknologi digital dan kolaborasi untuk memperkuat posisi tersebut. Dengan strategi yang lebih terukur, produk fesyen dan kriya Indonesia diharapkan tidak berhenti menjadi komoditas lokal, tetapi memiliki merek yang mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.





