Memasuki penyelenggaraan keempat, festival ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang meliputi pameran seni rupa, artist talk, diskusi buku, pembacaan karya, hingga bazar buku. Tema yang diangkat tahun ini, Terang Terbayang, Bayang Bercerita. Terang Tuhan Terbit Atasmu, merujuk pada Yesaya 60:1, sebuah refleksi tentang terang sebagai simbol harapan, pembaruan, dan arah hidup dalam iman Kristiani.
Sebanyak 51 seniman dari berbagai daerah, mulai dari Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Lombok, Sulawesi Utara, hingga Kalimantan Timur, terlibat dalam pameran ini. Mereka merespons tema dengan pendekatan personal, menghadirkan ragam tafsir tentang terang dalam pengalaman spiritual masing masing.
Pameran ini juga memberi ruang bagi keberagaman, termasuk menampilkan karya dua seniman berkebutuhan khusus, Frandhie Kireina Adining dan Dwi Putro Mulyono Jati yang akrab disapa Pak Wi. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperluas inklusivitas dalam praktik seni rupa kontemporer.
Pembukaan festival dilakukan oleh Rahayu Saraswati. Dalam konteks ini, festival tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga ruang perjumpaan lintas pengalaman iman.
Sinari, pengorganisir festival, menyebut SaPa Kristiani sebagai upaya mengembangkan keimanan melalui medium seni. Ia melihat kerja kolektif ini sebagai proses bersama untuk menempatkan nilai nilai keagamaan sebagai dasar gerakan kultural.
Sementara itu, Setiyoko, seniman sekaligus penyelenggara, menekankan bahwa seni dan religiusitas memiliki relasi yang cair. Ia menyebut inspirasi dapat datang dari berbagai pengalaman kehidupan, termasuk dari religi, dengan pendekatan yang berbeda beda berdasarkan pengalaman personal.
Festival ini tidak sekadar memamerkan karya, melainkan mengajak publik mengalami iman sebagai sesuatu yang hidup, terasa, terlihat, dan terus ditafsirkan ulang. (FA)





