Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak UMKM Nusa Tenggara Barat memanfaatkan program pendampingan dan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri untuk memperluas pasar. Sepanjang Januari–September 2026, program UMKM BISA Ekspor mencatat potensi transaksi US$ 361,5 juta.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Barat (NTB) meningkatkan kualitas produk dan memperluas jangkauan pemasaran. Kementerian Perdagangan menawarkan pendampingan usaha, fasilitasi promosi, hingga akses ke pembeli internasional untuk memperkuat daya saing produk lokal.
Ajakan itu disampaikan Budi saat berdialog dengan pelaku UMKM dalam kegiatan Bincang UMKM di Lapangan BaleKITA, Mataram, Kamis, 5 November 2026. Ia mengatakan Kemendag menyediakan sejumlah program untuk membantu UMKM menembus pasar domestik maupun ekspor.
Salah satunya melalui program Pilihan Busan yang memfasilitasi pemasaran produk lokal melalui jaringan ritel modern. Produk yang lolos kurasi juga berpeluang mengikuti pameran perdagangan internasional, termasuk Trade Expo Indonesia (TEI).
Budi menyebut TEI ke-41 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 mencatat potensi transaksi US$ 22,94 miliar. Dari jumlah tersebut, UMKM menyumbang sekitar US$ 510 juta.
Untuk memperluas akses ekspor, Kemendag juga menjalankan program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor). Program ini mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli internasional melalui penjajakan bisnis secara daring.
Kemendag mengoptimalkan jaringan Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara. Sepanjang Januari–September 2026, program tersebut mencatat potensi transaksi US$ 361,5 juta, meningkat dibandingkan capaian US$ 134,87 juta sepanjang 2025.
“Kami membantu UMKM yang bisa memproduksi, tetapi kebanyakan tidak bisa berjualan. Akan kami carikan pasarnya di luar negeri melalui perwakilan perdagangan RI,” kata Budi.
Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri mengapresiasi dukungan Kemendag terhadap pengembangan UMKM daerah. Menurut dia, kekayaan budaya dan produk unggulan NTB memiliki peluang untuk menembus pasar internasional. Ia berharap kerja sama pemerintah pusat dan daerah dapat memperluas pemasaran produk lokal.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan manfaat program Kemendag adalah Irma Firmana, pemilik Widah Berkah Sejahtera yang memproduksi Coklat Anakrela. Setelah lolos kurasi program Pilihan Busan, produknya berkesempatan mengikuti TEI 2026 dan memperoleh prospek bisnis dari Malaysia, Jepang, serta Arab Saudi.
“Alhamdulillah, kami mendapat banyak prospek dari beberapa negara. Di antaranya ada Malaysia, Jepang, Arab Saudi, dan beberapa buyer lokal,” ujar Irma.





