ARTJOG memperluas program seni inklusif melalui pameran IN MEDIO di Bandung. Pameran ini menampilkan karya lima seniman disabilitas yang mengikuti residensi selama sepuluh hari di Yogyakarta.
ARTJOG memperluas jejaring seni inklusif ke luar Yogyakarta melalui pameran bertajuk IN MEDIO di Dia.Lo.Gue @dotHub Space, Bandung. Pameran yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 29 November 2026 ini menampilkan karya lima seniman yang sebelumnya mengikuti program residensi seni di Yogyakarta.
Pameran tersebut merupakan bagian dari program Love ARTJOG yang berkolaborasi dengan Tab Space dan dotHub Space. Kolaborasi ini menjadi upaya memperluas ruang berkarya sekaligus mendorong pengakuan terhadap seniman disabilitas sebagai praktisi profesional dalam ekosistem seni.
Program Love ARTJOG berawal dari pembentukan Pusat Layanan Disabilitas pada 2023. Pada tahap awal, program ini berfokus menyediakan fasilitas bagi pengunjung disabilitas selama penyelenggaraan ARTJOG. Seiring perkembangannya, inisiatif tersebut diperluas untuk membangun kesadaran publik dan membuka wacana mengenai hubungan seni dengan disabilitas.
Salah satu bentuk pengembangannya adalah program residensi seni. Tahun ini, Love ARTJOG menggandeng Tab Space, sebuah usaha sosial yang memfasilitasi seniman disabilitas agar dapat berkiprah secara profesional, serta dotHub Space, ruang kolaborasi yang mempertemukan seni, desain, dan budaya.
Dalam program residensi tersebut, ARTJOG melibatkan Ace House Collective, kolektif seni independen asal Yogyakarta, sebagai fasilitator. Lima seniman yang terlibat adalah Clara Vania dari Yogyakarta, Dewi Nurlaela dari Jakarta, Ilham Sadikin dari Bandung, Septa Anggitayuda dari Bogor, dan Zakka Nurul Giffani Hadi dari Yogyakarta.
Selama sepuluh hari, para seniman mengikuti rangkaian perjumpaan dengan seniman, kolektif seni, dan ruang-ruang seni independen di Yogyakarta. Proses tersebut dirancang untuk mendorong pertukaran pengetahuan, memperluas pengamatan, serta membuka kemungkinan eksperimentasi artistik.
Dalam pengantar kuratorialnya, Ace House Collective menjelaskan bahwa residensi menjadi ruang bagi seniman untuk menguji pendekatan dan memperdalam praktik berkarya melalui perjumpaan dengan lingkungan baru. Yogyakarta tidak sekadar menjadi lokasi kegiatan, tetapi juga konteks untuk meninjau kembali gagasan, mengeksplorasi medium, dan menemukan kemungkinan artistik.
Pengalaman selama residensi kemudian diterjemahkan ke dalam karya dengan pendekatan yang beragam. Ilham Sadikin, misalnya, merakit kembali fragmen arsitektur, transportasi, dan tradisi Yogyakarta menjadi figur robotik mekanis. Eksplorasi tersebut memiliki keterkaitan dengan karya Zakka Nurul Giffani Hadi yang mengangkat kesetaraan antara komunitas Tuli dan Dengar melalui simbol robot dan metamorfosis kupu-kupu.
Sementara itu, Clara Vania mengeksplorasi fotografi, bahasa isyarat, dan teknik melukis untuk merekonstruksi makna rumah sebagai ruang aman dan intim. Karyanya menempatkan pengalaman personal dan komunikasi sebagai bagian dari pembentukan ruang yang dapat dimaknai secara lebih luas.
Septa Anggitayuda mengangkat ingatan emosional tentang hubungan bapak dan anak melalui teknik cyanotype. Eksplorasi visual tersebut kemudian dikembangkan menjadi karya mural sepanjang enam meter.
Adapun Dewi Nurlaela mempertemukan teknik kolase fisik dengan citra digital. Melalui pendekatan tersebut, ia mengeksplorasi hubungan tubuh dan pikiran serta kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul dari perkembangan teknologi.
Melalui IN MEDIO, ARTJOG ingin menempatkan residensi bukan semata-mata sebagai proses menghasilkan karya seni. Program ini juga menjadi sarana distribusi pengetahuan dan pertukaran pengalaman yang memberikan ruang setara bagi seniman disabilitas untuk terlibat dalam praktik seni profesional.
Aspek aksesibilitas juga menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pameran. Ruang presentasi dirancang agar inklusif dan dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat.
Penyelenggaraan IN MEDIO di Bandung sekaligus menandai perluasan jejaring ARTJOG dalam membangun ekosistem seni yang lebih terbuka. Melalui kolaborasi lintas komunitas dan ruang seni, ARTJOG berupaya memperluas partisipasi seniman disabilitas sekaligus mendorong agar praktik seni inklusif tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi berkembang menjadi pengakuan atas kapasitas, gagasan, dan kontribusi artistik mereka.





