• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Ekonomi dan Bisnis

Mengubah Limbah Keramik Menjadi Produk Ekspor

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
September 8, 2026
in Ekonomi dan Bisnis
0
Mengubah Limbah Keramik Menjadi Produk Ekspor
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri melihat peluang besar produk keramik Indonesia untuk menembus pasar global. Salah satu yang dinilai memiliki prospek adalah Lumosh Living, UMKM produsen alat makan keramik berorientasi ekspor asal Surabaya, Jawa Timur.

Roro mengunjungi Lumosh Living pada Ahad, 6 September 2026. Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya Kementerian Perdagangan mendorong UMKM lokal meningkatkan kapasitas dan daya saing agar mampu memperluas pasar internasional.

Menurut Roro, potensi ekspor produk keramik perlu terus dikembangkan melalui penguatan akses pasar dan pertemuan langsung dengan calon pembeli. Kementerian Perdagangan memiliki perwakilan perdagangan di berbagai negara yang dapat menjadi penghubung antara pelaku usaha dan buyer.

“Kami memiliki perwadag yang tersebar di banyak negara dan mereka berfungsi sebagai mediator untuk mempertemukan UMKM dengan buyer yang sesuai,” kata Roro. Ia mendorong pelaku usaha lebih proaktif memanfaatkan business matching dan business pitching yang difasilitasi perwakilan perdagangan.

Lumosh Living menarik perhatian Roro bukan hanya karena produk keramiknya. Perusahaan yang berdiri sejak 2016 itu juga menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam proses produksinya sekaligus melibatkan nilai pemberdayaan masyarakat.

Menurut Roro, kombinasi inovasi produk, pendekatan pemasaran yang personal, dan nilai sosial dapat menjadi keunggulan ketika produk lokal berhadapan dengan pasar internasional.

“Lumosh Living layak menjadi contoh inspiratif bagaimana suatu UMKM dapat sukses ketika mereka tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga mengaplikasikan metode pemasaran yang lebih personal serta mengusung nilai-nilai sosial yang mendalam,” ujar Roro.

Salah satu inovasi Lumosh Living adalah lini reclay tableware. Produk ini dibuat dari pecahan keramik yang berasal dari retur konsumen, produk retak, serta keramik yang gagal dalam proses pembakaran. Material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah itu diolah kembali menjadi tatakan, gelas, mangkuk, dan piring.

Co-founder Lumosh Living, Raymon Tjiadi, mengatakan produk reclay tersebut menggunakan sekitar 40 persen limbah keramik dan 10 persen pasir besi. Komposisi itu, menurut dia, memungkinkan perusahaan mengurangi penggunaan bahan baku murni hingga 50 persen.

Raymon mengklaim inovasi tersebut mampu meningkatkan kepadatan dan ketahanan produk hingga 20 persen serta mengurangi emisi karbon sekitar 30 persen. Produk itu juga diklaim bebas timbal dan kadmium dengan tingkat kualitas yang disebut mencapai 99 persen setara dengan keramik baru.

“Konsep ini menjadi pembeda Lumosh dari keramik yang diproduksi secara massal,” kata Raymon.

Inovasi juga dilakukan Lumosh dalam merespons perubahan selera konsumen. Roro menyoroti produk mangkuk matcha yang dibuat dengan karakter berbeda satu sama lain. Produk tersebut mendapat respons pasar yang tinggi melalui penjualan daring, seiring meningkatnya popularitas budaya minum teh hijau di kalangan generasi muda.

Bagi Lumosh, desain bukan sekadar persoalan bentuk. Perusahaan juga menggunakan storytelling untuk membangun hubungan dengan konsumen. Melalui pendekatan tersebut, pembeli diajak mengenal orang-orang yang terlibat dalam proses produksi sekaligus memahami dampak sosial dari setiap pembelian.

Strategi tersebut berjalan beriringan dengan upaya memperluas pasar ekspor. Produk Lumosh Living kini telah menembus Belanda dan Spanyol. Pada 2025, perusahaan tersebut juga meraih Good Design Award Jepang.

Raymon mengatakan dukungan Kementerian Perdagangan melalui perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri turut membantu memperkenalkan produk Lumosh kepada pasar internasional. Produk alat makan yang diproduksi di Probolinggo, Jawa Timur, kini dipajang di sejumlah rak display produk Indonesia di luar negeri, salah satunya di Indonesian Trade Promotion Center atau ITPC Jeddah.

Lumosh juga mengembangkan strategi kolaborasi untuk memperluas jangkauan pasar. Setelah pandemi, perusahaan pernah membuat edisi khusus bersama pemengaruh di bidang kuliner. Kini Lumosh tengah menyiapkan pop-up store di Bali bersama Korte, UMKM yang memproduksi cokelat premium.

“Strategi kolaboratif secara intensional terus kami terapkan,” ujar Raymon.

Pengalaman mengikuti Trade Expo Indonesia atau TEI 2025 menjadi modal bagi Lumosh untuk kembali ambil bagian dalam TEI 2026. Perusahaan berharap pameran perdagangan tersebut dapat membuka akses ke pasar baru sekaligus memperkuat posisi Lumosh sebagai produsen produk home living.

Untuk TEI 2026, Lumosh membidik pasar Rusia dan ingin memperkuat citra produknya di Jepang. Raymon juga berharap pemerintah mempertahankan dukungan terhadap UMKM melalui keikutsertaan dalam berbagai pameran dagang internasional.

Roro mengatakan pemerintah akan terus mendorong UMKM berorientasi ekspor melalui akses ke pasar internasional. Selain pameran, fasilitasi promosi melalui perwakilan perdagangan dan penguatan kemitraan menjadi bagian dari strategi tersebut.

“Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus mendampingi dan mendorong UMKM berorientasi ekspor seperti Lumosh Living melalui penyediaan akses pameran internasional, fasilitasi promosi ekspor perwadag, serta penguatan kemitraan guna memperkokoh daya saing produk Indonesia di pasar global,” kata Roro.

Tags: Dyah Roro Esti Widya PutriLumosh Living
Previous Post

Melongok Kriya Australia, Menimbang Masa Depan Kerajinan Indonesia

Next Post

Perluas Inklusi Keuangan, Pemerintah Siapkan Rekening untuk Seluruh Warga

Next Post
Perluas Inklusi Keuangan, Pemerintah Siapkan Rekening untuk Seluruh Warga

Perluas Inklusi Keuangan, Pemerintah Siapkan Rekening untuk Seluruh Warga

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo