Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif memfasilitasi sejumlah jenama kuliner lokal untuk tampil dalam ajang internasional Food, Hotel & Tourism Bali 2026 yang berlangsung pada 28–30 April 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center. Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari strategi mendorong produk kreatif Indonesia masuk ke rantai pasok global.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan ajang tersebut membuka peluang promosi sekaligus kemitraan bagi pelaku usaha. “Melalui ajang ini, pelaku usaha mendapatkan akses untuk membangun kerja sama, membuka jalur ekspor, dan memperkuat posisi Indonesia dalam industri kuliner dunia,” ujarnya, Selasa, 28 April 2026.
Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-14 ini diikuti lebih dari 300 peserta dari berbagai negara. Dalam kesempatan itu, Kementerian Ekraf membawa lima jenama binaan program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK), yakni TERVE, Muntigunung Community, Sekatup Sari Indonesia, Imago Raw Honey, dan Roemah Koffie.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, mengatakan pihaknya juga menggandeng kekayaan intelektual lokal Punopals sebagai elemen visual promosi. Menurut dia, kolaborasi tersebut bertujuan memperkuat identitas produk sekaligus meningkatkan daya tarik di pasar global.
“Produk kuliner tidak hanya harus unggul dari sisi rasa, tetapi juga memiliki identitas dan tampilan yang kompetitif,” kata Yuke.
Kementerian menilai partisipasi dalam FHTB menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai nilai industri kuliner nasional. Prospek sektor makanan dan minuman dinilai terus meningkat, dengan proyeksi nilai pasar mencapai 4,346 miliar dolar AS pada 2025 dan pertumbuhan sekitar 10,79 persen.
Ajang FHTB sendiri menjadi ruang promosi sekaligus business matching, yang mempertemukan pelaku industri untuk memperluas jejaring dan bertukar pengetahuan. Momentum ini juga diperkuat oleh pemulihan sektor pariwisata.
Pada 2023, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tercatat mencapai 11,68 juta, dengan Bali sebagai destinasi utama yang menarik sekitar 5,25 juta kunjungan. Arus wisatawan tersebut dinilai menjadi pasar potensial bagi subsektor kuliner untuk meningkatkan eksposur dan memperluas jangkauan produk.
Melalui keikutsertaan dalam FHTB 2026, pemerintah menegaskan peran ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak pertumbuhan baru, dengan kuliner sebagai subsektor unggulan yang dinilai mampu membuka peluang ekspor dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.





