Kepala Museum Nasional Indonesia, Indira Estiyanti Nurjadin, menegaskan upaya transformasi pengelolaan museum melalui pendekatan layanan publik yang lebih terbuka dan profesional. Hal itu disampaikan dalam kegiatan media gathering di Museum Nasional, Jakarta (24/4) yang digelar dalam rangka persiapan peringatan 248 tahun lembaga tersebut.
Berbeda dari perayaan seremonial, kegiatan ini justru mengajak wartawan melihat proses di balik persiapan pameran. Dua pameran baru yang akan dibuka pada akhir April diperkenalkan lebih awal melalui soft launching, meski penataan ruang masih berlangsung.

“Kami ingin menunjukkan bagaimana sebuah pameran disiapkan, mulai dari kurasi, penulisan teks, hingga penyusunan label untuk anak-anak,” kata Indira.
Museum Nasional saat ini berada di bawah Badan Layanan Umum (BLU) Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan. Lembaga ini mengelola 19 museum dan 28 situs cagar budaya di Indonesia, dengan rentang koleksi dari seni kontemporer hingga temuan prasejarah.
Sepanjang 2025, jumlah pengunjung Museum Nasional mencapai sekitar 700.000 orang. Indira menyebut capaian ini menjadi dasar pengembangan layanan, termasuk penyediaan ruang imersif, teater, serta fasilitas publik yang lebih inklusif. Salah satunya adalah kafe yang dikelola oleh penyandang disabilitas sejak 2024.
Museum juga menaruh perhatian pada pengembalian koleksi dari luar negeri. Pada Desember 2025, empat fosil Homo erectus yang sebelumnya disimpan di Belanda telah dikembalikan ke Indonesia setelah lebih dari satu abad. Pemerintah menargetkan pemulangan puluhan ribu koleksi lain secara bertahap.
“Ke depan, kita harus aktif menelusuri dan mengembalikan koleksi yang berasal dari Indonesia,” ujar Indira.
Menyoroti posisi kelembagaan Museum Nasional yang dinilai belum setara dengan praktik di sejumlah negara, di mana museum nasional dipimpin oleh direktur. Menanggapi hal itu, Indira mengakui perlunya penguatan kelembagaan, meski saat ini museum masih berada dalam skema BLU terpadu.
Menurut dia, model BLU memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan dan membuka peluang kolaborasi dengan pihak swasta. Museum tidak hanya bergantung pada anggaran negara, tetapi juga didorong untuk mengembangkan sumber pendapatan lain seperti tiket, penyewaan ruang, dan kerja sama.
Tahun ini, BLU Museum dan Cagar Budaya ditargetkan memperoleh pendapatan sekitar Rp62 miliar. “Skema ini memungkinkan respons yang lebih cepat terhadap kebutuhan operasional, termasuk perbaikan fasilitas,” kata Indira.
Dari sisi pengelolaan pameran, Museum Nasional mulai mengadopsi praktik internasional, terutama dalam tata cahaya dan penyajian informasi. Penggunaan lampu khusus yang fokus pada objek serta penyediaan label edukatif untuk anak menjadi bagian dari pembaruan tersebut. Upaya inklusivitas juga dilakukan melalui pengembangan label braille bagi pengunjung disabilitas.
Museum turut memaksimalkan koleksi yang selama ini tersimpan di gudang. Melalui pameran tematik, seperti numismatik dan lampu kuno, publik dapat mengakses lebih banyak artefak yang sebelumnya tidak dipamerkan.
Namun, keterbatasan ruang masih menjadi kendala. Kebakaran pada 2023 menyebabkan hilangnya sekitar 1.600 meter persegi area pamer. Hingga kini, ruang tersebut belum sepenuhnya dipulihkan.
“Kami berupaya memaksimalkan ruang yang ada sambil menunggu pembangunan kembali area terdampak,” ujar Indira.

Dalam rangka Hari Museum Internasional pada 18 Mei, Museum Nasional juga mengadakan program partisipatif berupa lomba menulis surat cinta untuk museum menggunakan kartu pos khusus. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan publik, terutama generasi muda.
Indira menekankan, museum tidak lagi sekadar ruang penyimpanan benda bersejarah, melainkan ruang interaksi yang hidup. “Kami ingin museum menjadi tempat belajar yang inklusif dan relevan bagi masyarakat luas,” katanya.





