Kepergian mendadak Nasirun pada 1 Agustus 2026 menyisakan kehilangan bagi dunia seni rupa Indonesia. Perupa kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, itu dikenal lewat karya yang mempertemukan tradisi, spiritualitas, wayang, dan tafsir personal atas kehidupan.
Kurang dari dua bulan setelah kepergiannya, Galeri Nasional Indonesia menghadirkan pameran “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru”. Pameran ini bukan sekadar mengenang Nasirun, tetapi juga mewujudkan salah satu keinginannya: berpameran bersama para seniman yang ia anggap sebagai gurunya.
Pameran dibuka Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Sabtu, 12 September 2026. Pameran berlangsung 13 September hingga 11 Oktober 2026 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, dan tutup setiap Senin.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, mengatakan pameran tersebut dirancang untuk menjaga gagasan, perjalanan, dan warisan Nasirun tetap hadir dalam percakapan seni rupa Indonesia.
“Pameran ini bukan semata-mata untuk mengenang Nasirun sebagai seniman penting dan berpengaruh, tetapi juga untuk menjaga agar gagasan, perjalanan, dan warisannya terus hadir dalam percakapan seni rupa Indonesia hari ini,” kata Indira.
Fadli Zon mengenang Nasirun sebagai seniman yang ceria, pantang mengeluh, dan memiliki dedikasi terhadap dunia seni rupa Indonesia. Ia menyebut pameran tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus perwujudan impian Nasirun untuk mempertemukan karyanya dengan karya para gurunya.
Pembukaan pameran turut dihadiri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan ulama sekaligus budayawan KH D. Zawawi Imron.

Bersimpuh dan Belajar
Pameran ini dikurasi Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia, yakni Aminudin TH Siregar, Agung Hujatnikajennong, Citra Smara Dewi, dan Dio Pamola Chandra.
Bagi para kurator, kata “bersimpuh” dalam judul pameran tidak dimaknai sebagai kepatuhan tanpa berpikir. Bersimpuh merupakan sikap untuk belajar dan mengakui bahwa seorang seniman tidak lahir hanya dari dirinya sendiri.
Nasirun menyebut sejumlah seniman sebagai “para guru”. Mereka bukan hanya pengajar dalam pendidikan formal, tetapi siapa pun yang memengaruhi cara pandangnya terhadap seni dan kehidupan.
Aminudin mengatakan relasi guru dan murid juga tidak pernah bersifat tetap. Seseorang yang belajar hari ini dapat menjadi tempat orang lain belajar pada masa mendatang. Karena itu, bersimpuh juga berarti mengingat asal pengetahuan sekaligus menyadari kewajiban untuk meneruskannya.
“Di sinilah makna paling dalam dari ‘bersimpuh’, yaitu kesediaan untuk terus mengingat dari mana pengetahuan itu berasal. Pada saat yang sama, ada kesadaran bahwa suatu hari pengetahuan itu harus diteruskan,” kata Aminudin.
Pameran menghadirkan karya sejumlah seniman yang menjadi bagian dari perjalanan artistik Nasirun. Mereka antara lain Abas Alibasyah, Affandi, Ahmad Sadali, Amang Rachman Jubair, Amri Yahya, Bagong Kussudiardja, Djoko Pekik, Edhi Soenarso, Fadjar Sidik, Harijadi Sumadidjaja, Hendra Gunawan, Jeihan Sukmantoro, Kusnadi, Oesman Effendi, S. Sudjojono, Widayat, dan Zaini.
Karya yang ditampilkan tidak hanya berupa lukisan dan patung, tetapi juga kopiah serta sejumlah memorabilia Nasirun. Perjumpaan karya tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan artistik berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya: diterima, ditafsirkan, dipertanyakan, diubah, lalu dilahirkan kembali dalam bentuk yang berbeda.
Pameran itu pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang Nasirun sebagai seniman. Ia juga mengajak pengunjung melihat hubungan antarseniman sebagai bagian dari perjalanan pengetahuan dan pembentukan ekosistem seni rupa Indonesia.
Dari Wayang hingga Spiritualitas
Nasirun dikenal sebagai perupa yang mengolah tradisi dan spiritualitas ke dalam bahasa seni kontemporer. Wayang dan dongeng mistik yang diwariskan ibunya berpadu dengan nilai tasawuf Islam yang dikenalnya melalui ayahnya.
Lulusan Seni Kriya Batik dan Seni Murni ASRI/ISI Yogyakarta pada 1994 itu aktif berpameran di dalam dan luar negeri. Pameran tunggalnya antara lain “Uwuh Seni” di Galeri Salihara, Jakarta, pada 2012; Breath of Nasirun di Mizuma Gallery, Tokyo, pada 2014; “RUN–Embracing Diversity” di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 2016; “Wirid on Canvas” di Natan Galeri, Kotagede, pada 2018; dan “Metajagad Nasirun” di Soboman Art, Yogyakarta, pada 2021.
Pameran tunggal terakhirnya adalah “Perayaan Persahabatan” di Museum OHD, Magelang, pada Juli 2023.
Nasirun juga mengikuti berbagai pameran bersama di Indonesia dan mancanegara, antara lain Pathos of the Fringes di Jeonbuk Museum of Art, Korea Selatan, Shah Alam Biennale di Malaysia, Bridge of Colour di Thailand, serta sejumlah pameran di Galeri Nasional Indonesia.
Salah satu karyanya, “Persembahan untuk Bathara Guru” (1999), dihibahkan kepada Galeri Nasional Indonesia pada 2013 dan kini menjadi bagian dari koleksi negara.
Sepanjang kariernya, Nasirun menerima sejumlah penghargaan, antara lain penghargaan sketsa dan seni lukis terbaik ISI Yogyakarta, McDonald Award pada Lustrum ISI ke-X, Philip Morris Award pada 1997, serta rekor MURI pada 2016 untuk tiga karya seni yang dipamerkan di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Kini, melalui “Bersimpuh di Kaki Para Guru”, perjalanan Nasirun kembali dibaca. Bukan sebagai kisah seorang seniman yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari mata rantai panjang seni rupa Indonesia. Warisan itu diteruskan melalui karya, pengetahuan, dan hubungan antargenerasi yang selama hidupnya ia rawat.





