• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft Yogyakarta 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Cover Story

ndonesia Kembali ke Venice Biennale 2026, Usung Diplomasi Budaya Lewat “Printing the Unprinted”

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
May 10, 2026
in Cover Story
0
ndonesia Kembali ke Venice Biennale 2026, Usung Diplomasi Budaya Lewat “Printing the Unprinted”

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 Bawa Imajinasi Nusantara ke Panggung Seni Dunia. (Dok: Kementerian Kebudayaan)

0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia kembali menghadirkan Paviliun Indonesia pada Venice Biennale 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia di panggung seni internasional. Mengusung tajuk Printing the Unprinted, paviliun tahun ini menampilkan praktik seni grafis sebagai medium untuk membaca ulang sejarah, identitas, dan imajinasi Nusantara.

Paviliun Indonesia diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, dengan dukungan Danantara Indonesia Trust Fund serta kolaborasi bersama Scuola Internazionale di Grafica, Negeri Elok, Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, dan Venice Art Factory.

Pameran berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Cannaregio 1798, Venesia, dengan hari pratinjau pada 7 Mei 2026 dan masa pameran berlangsung pada 9 Mei hingga 22 November 2026.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan partisipasi Indonesia di Venice Biennale tahun ini memiliki arti penting karena menjadi kehadiran pertama di bawah Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri.

“Kami meyakini bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga fondasi bagi masa depan. Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni,” kata Fadli dalam pembukaan paviliun di Venesia, Kamis, 7 Mei 2026.

Menurut Fadli, Indonesia memiliki modal besar sebagai negara megadiversitas dengan lebih dari 17 ribu pulau, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah. Kekayaan budaya itu, kata dia, menjadi fondasi penting bagi pengembangan seni dan industri kreatif nasional.

“Indonesia memiliki salah satu ekosistem budaya paling dinamis di dunia,” ujarnya.

Tema Printing the Unprinted dipilih untuk menyoroti kekuatan imajinasi dalam menghadirkan narasi-narasi yang belum tercatat dalam sejarah arus utama. Menurut Fadli, karya-karya dalam paviliun ini mencoba menghadirkan suara yang terlupakan, memori yang tersisih, serta kemungkinan masa depan yang belum pernah dibayangkan.

Paviliun Indonesia tahun ini dikuratori Aminudin TH Siregar. Dalam pendekatan kuratorialnya, ia memilih Scuola Internazionale di Grafica karena memiliki kedekatan historis dengan praktik seni cetak dan produksi artistik berbasis proses.

Pendekatan tersebut membuat proses penciptaan karya tidak berhenti di Indonesia, melainkan berkembang melalui residensi, dialog, dan kolaborasi langsung di Venesia.

Pameran ini menghadirkan tujuh seniman lintas generasi, yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Melalui medium seni grafis, para seniman mengeksplorasi proses penciptaan sebagai ruang pertukaran gagasan dan pembacaan ulang terhadap relasi Asia-Eropa.

Secara konseptual, pameran berangkat dari narasi fiksi tentang pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi manuskrip imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra. Narasi tersebut menjadi medium untuk mempertanyakan perspektif sejarah global yang selama ini banyak dibangun melalui sudut pandang kolonialisme dan penemuan.

Selain pameran utama, Paviliun Indonesia juga menghadirkan program residensi, diskusi seni, lokakarya, dan simposium untuk memperkuat pertukaran pengetahuan serta jejaring seni internasional.

Sebagai bagian dari pengembangan talenta seni budaya, Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya menggandeng Negeri Elok untuk melibatkan tujuh talenta muda Indonesia dalam proses kolaborasi bersama para seniman paviliun.

Kolaborasi itu menggunakan pendekatan art therapy yang menempatkan seni sebagai medium membangun empati, merawat memori, hingga memperkuat ketahanan personal dan kolektif.

Fadli menilai penguatan budaya tidak bisa dilakukan secara terpisah, melainkan membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk industri kreatif dan mitra internasional.

“Budaya adalah sumber identitas, nilai, dan imajinasi, sementara ekonomi kreatif menjadi kekuatan yang mengubah budaya menjadi inovasi dan pengaruh global,” kata dia.

Ia juga menegaskan Indonesia terus membuka peluang kerja sama budaya internasional melalui berbagai program, termasuk Dana Indonesiaraya dan residensi global.

Dalam pembukaan paviliun, turut hadir Menteri Kebudayaan, Komunitas, dan Pemuda Singapura David Neo, Duta Besar Indonesia untuk Italia Junimart Girsang, serta Duta Besar Indonesia untuk Portugal Susi Marleny Bachsin.

Melalui Printing the Unprinted, Indonesia tidak hanya menghadirkan karya seni di Venice Biennale, tetapi juga menawarkan perspektif baru tentang sejarah, identitas, dan masa depan kebudayaan Nusantara di ruang percakapan global.

Tags: Aminudin TH SiregaFadli ZonKementerian KebudayaanPrinting the UnprintedScuola InternazionaleVenice Art FactoryVenice Biennale
Previous Post

“Seribu Tableau”, Eksplorasi Teatrikal Diyanto di Atas Kanvas

Next Post

“Metal in Flux”, Menafsir Ulang Logam dalam Seni Kriya Kontemporer

Next Post
“Metal in Flux”, Menafsir Ulang Logam dalam Seni Kriya Kontemporer

“Metal in Flux”, Menafsir Ulang Logam dalam Seni Kriya Kontemporer

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo