• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft Yogyakarta 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Art

Noken Papua: Warisan Dunia yang Terancam Hilang

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
April 22, 2026
in Art, Cover Story, Product, Travel
0
Noken Papua: Warisan Dunia yang Terancam Hilang
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Tas anyaman tradisional dari Papua, noken, telah diakui dunia sebagai warisan budaya takbenda. Pada 4 Desember 2012, UNESCO menetapkan noken dalam daftar Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding dalam sidang di Paris, Prancis. Status ini menegaskan nilai budaya noken sekaligus menunjukkan ancaman serius terhadap keberlanjutannya.

Bagi masyarakat Papua, noken bukan sekadar tas. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus simbol identitas kolektif. Terbuat dari serat kayu atau daun yang dianyam dengan tangan, noken digunakan untuk membawa hasil kebun, tangkapan laut, kayu bakar, hingga menggendong bayi. Dalam berbagai tradisi, noken juga hadir sebagai simbol perdamaian dan bagian dari ritual adat.

Proses pembuatannya panjang dan rumit. Serat diambil dari kulit atau batang pohon, dipanaskan, direndam, lalu dikeringkan sebelum dipintal menjadi benang. Benang tersebut kemudian dianyam dengan tangan menjadi kantong jaring dengan beragam ukuran dan pola. Keterampilan ini tidak hanya membutuhkan ketelitian, tetapi juga diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat.

Namun, tradisi tersebut kini menghadapi tantangan. Jumlah perajin terus menurun, sementara minat generasi muda untuk mempelajari teknik pembuatan noken kian berkurang. Di saat yang sama, kehadiran tas pabrikan yang lebih murah dan praktis turut menggeser penggunaan noken dalam kehidupan sehari-hari.

Tekanan juga datang dari sisi bahan baku. Akses terhadap sumber serat alami semakin terbatas, sementara perubahan nilai sosial membuat noken tak lagi menjadi kebutuhan utama di sebagian kalangan. Situasi ini yang mendorong UNESCO memasukkan noken dalam kategori warisan budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak.

Padahal, dalam kehidupan masyarakat Papua, noken memiliki fungsi yang luas. Ia digunakan sebagai wadah serbaguna mulai dari menyimpan barang, membawa kebutuhan sehari-hari, hingga menjadi bagian dari perlengkapan adat. Dalam berbagai upacara, seperti pernikahan, inisiasi anak, hingga penyelesaian konflik, noken menjadi simbol ikatan sosial dan perdamaian.

Secara kultural, noken juga merepresentasikan nilai-nilai yang lebih dalam. Ia melambangkan solidaritas di antara ratusan suku di Papua, sekaligus menjadi penanda kedewasaan perempuan. Kemampuan membuat noken kerap dikaitkan dengan peran sosial dan tanggung jawab dalam komunitas.

Selain itu, noken mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Penggunaan bahan alami menunjukkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan lingkungan, sekaligus menegaskan pentingnya keberlanjutan sumber daya.

Pengakuan internasional terhadap noken membuka ruang bagi penguatan identitas budaya Papua di tingkat global. Namun, pengakuan itu juga menjadi pengingat bahwa tradisi ini berada dalam titik rawan.

Upaya pelestarian noken, karena itu, tidak hanya soal mempertahankan kerajinan tangan. Ia menyangkut upaya menjaga nilai, identitas, dan warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad di tengah masyarakat Papua. Tanpa langkah nyata, noken berisiko hanya sebagai simbol tanpa praktik yang menyertainya.

Tags: NokenNoken Papuaunesco
Previous Post

Pemerintah Pastikan Industri Tekstil Nasional Tetap Terkendali di Tengah Dinamika Global

Next Post

Prabowo Minta Regulasi Dipangkas demi Jaga Iklim Investasi

Next Post
Prabowo Minta Regulasi Dipangkas demi Jaga Iklim Investasi

Prabowo Minta Regulasi Dipangkas demi Jaga Iklim Investasi

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

smile haartransplantation kosten istanbul

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo