Seni rupa tidak selalu harus hadir di dalam galeri atau museum. Di tengah taman, jalur pejalan kaki, dan ruang perjumpaan warga, seni dapat menjadi medium untuk membaca kota sekaligus memahami kehidupan masyarakat di dalamnya. Gagasan itu menjadi landasan penyelenggaraan Pameran Seni Rupa Ruang Publik 2026 bertajuk Pekaloka di Taman Suropati, Jakarta Pusat.
Digagas Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta, pameran ini mempertemukan seni, desain, dan riset perkotaan. Melalui beragam gagasan, pengalaman, dan praktik artistik, Pekaloka mengajak masyarakat melihat kembali fungsi ruang publik. Kota tidak semata-mata menjadi tempat untuk dilalui, tetapi juga ruang untuk mengalami, berjumpa, dan membangun kehidupan bersama.
Pameran ini menghadirkan karya dari Artodog, Awahab, Dahana Rupa (Interior Design Lab BINUS Jakarta), Cikini Art Stage, Tactogram, Jimmy Silaen, Jongmerdeka, Kilau Art Studio (Saepul, Rengga, Rieza), RajutKejut, Ranti Ekaputri, Saut Mangihut Marpaung, Sri Hardana, The Barkomuns, Trotoart, dan Vy Patiah. Kurasi pameran dilakukan PLAYO yang terdiri atas Adil Alba dan Genie Anggita.
Salah satu panitia pameran, Daniella Praptono, mengatakan proses dalam berkarya menjadi unsur penting yang membuat seni memiliki daya ekspansif. Kekuatan seni tidak hanya terlihat pada hasil akhir karya, tetapi juga pada proses pemikiran dan interaksi yang melatarbelakanginya. Dari proses tersebut, seni dapat berkembang melampaui batas ruang personal dan membentuk jejaring di berbagai tempat.
“Saat itulah seni nampak berkembang memasuki ruang-ruang publik. Kota bisa dibaca dari ruang-ruang publiknya—dari cara kita singgah, melintas, bertemu, dan hidup bersama di dalamnya,” ujar Daniella.
Pameran Pekaloka dibuka pada Selasa, 3 November 2026, pukul 15.00 WIB. Pameran berlangsung pada 4–10 November 2026, setiap hari pukul 14.00–21.00 WIB. Selain pameran, penyelenggara juga menyiapkan program publik dan lokakarya pada 7–8 November 2026 di lokasi yang sama, Taman Suropati, Jakarta Pusat. *** (FA)




