Batik tak berhenti pada kain bermotif tradisional. Perada Batik mencoba membawa teknik batik tulis dan cap ke wilayah desain kontemporer, eksplorasi material, dan pasar global. Jenama asal Pekalongan itu hadir dalam INACRAFT October 2026 yang berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Perada Batik dapat ditemui di Hall A, stan nomor 82.
Kehadiran Perada Batik sejalan dengan tema INACRAFT October 2026, “Youthpreneur Technocraft”, yang menempatkan generasi muda, teknologi, inovasi, dan pengembangan produk sebagai bagian dari masa depan industri kriya. Batik menjadi salah satu contoh bagaimana pengetahuan tradisional dapat berhadapan langsung dengan teknologi dan tuntutan pasar tanpa harus kehilangan proses dasarnya.
Di Pekalongan, batik merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Namun Perada Batik justru lahir dari keluarga yang sempat mengalami jeda tiga generasi dalam tradisi membatik. Usaha ini mulai dirintis kembali pada tahun 2012. Pengetahuan tentang batik kemudian dipelajari kembali, mulai dari material, motif, teknik hingga filosofi.
Pemilik Perada Batik, Syamsul Huda, mengatakan proses menjadi bagian penting dari identitas jenamanya. Perada mempertahankan teknik batik tulis dan cap dengan lilin panas, menggunakan canting dan cap tembaga. Setiap kain melalui tahapan pemberian lilin, pewarnaan, pelorodan, hingga penguncian warna.
Namun, Perada tetap bereksperimen dengan material, termasuk menggunakan bahan berbasis kertas semen yang dirancang tahan perebusan suhu tinggi. Eksperimen ini mempertemukan keterampilan membatik dengan teknologi, tanpa menggantikan peran keterampilan tangan.
Dalam pewarnaan, Perada memakai pewarna alam untuk karya pameran dan koleksi tertentu, sementara produksi reguler menggunakan pewarna sintetis rendah logam berat dengan teknik steam untuk menjaga kualitas warna. Palet warnanya pun lebih berani, tak terpaku pada cokelat sogan, untuk menjangkau konsumen milenial dan Gen Z serta menempatkan batik sebagai busana sehari-hari.
Motif yang dikembangkan juga tidak terpaku pada pakem visual Jawa. Inspirasi datang dari figur perempuan, flora, serta motif berbagai budaya, termasuk Sumba, Nusa Tenggara dan bahkan sampai Aztec Amerika. Elemen tersebut tidak sekadar dipindahkan ke kain, melainkan diterjemahkan kembali melalui bahasa batik.
Dari Pekalongan ke Panggung Global
Perada juga membaca perkembangan tren fesyen global. Selain rutin mengikuti INACRAFT Trade Fair, jenama ini pernah mengikuti pameran tekstil internasional seperti Ambiente Frankfurt dan Heimtextil. Tren warna, tekstur, dan pola dari pasar global menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan koleksi.
Perada Batik mencatat sejumlah kiprah internasional sepanjang 2025. Jenama ini tampil dalam Fashion Oper Air di Berlin, Jerman, serta Transilvania Fashion Festival 2025. Perada juga mengikuti Mediterranean Fashion Week di Italia dan memperoleh International Award dari Mad Mood Milano 2025.
Perjalanan tersebut berlanjut ke Asia Tengah melalui Aspara Fashion Week di Kazakhstan. Jejaring FNL Network turut membuka peluang kolaborasi dan eksposur bagi karya Perada di pasar internasional.
Hubungan dengan pasar luar negeri sebenarnya telah dibangun sejak awal perjalanan Perada. Jepang menjadi salah satu pasar pertama ketika produk yang ditawarkan masih berupa kain. Seiring waktu, karya tersebut berkembang menjadi bagian dari busana dan tampil dalam peragaan mode. Perada juga menjalin kolaborasi dengan desainer dari Australia dan Singapura.
Sebelum pandemi Covid-19, sekitar 90 persen penjualan Perada Batik terserap pasar ekspor. Setelah pandemi, pasar domestik menjadi penopang utama. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha batik tidak hanya bergantung pada pasar internasional, tetapi juga pada konsumen dalam negeri.
Bagi Huda, tantangan Perada kini bukan lagi sekadar memperkenalkan jenama, melainkan mempertahankan karakter yang telah dibangun. “Branding itu komitmen. Kita harus berani punya ciri khas,” Tutup Huda.





