Presiden Prabowo Subianto memanggil jajaran Dewan Ekonomi Nasional (DEN) ke Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026, untuk membahas perkembangan ekonomi terkini dan langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian dunia. Dalam pertemuan tersebut, Presiden menerima laporan mengenai kondisi fundamental ekonomi nasional, potensi risiko eksternal, serta sejumlah rekomendasi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
Anggota DEN, Chatib Basri, mengatakan salah satu isu yang menjadi perhatian adalah potensi kenaikan harga barang akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Menurut dia, tekanan terhadap kurs dapat berdampak pada biaya impor dan pada akhirnya memengaruhi harga sejumlah kebutuhan masyarakat.
“Satu isu penting yang harus diperhatikan adalah kemungkinan risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari kelemahan rupiah,” kata Chatib kepada wartawan usai pertemuan.
Selain risiko inflasi, DEN juga menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Chatib menilai berbagai langkah pemerintah, termasuk efisiensi anggaran dan optimalisasi program prioritas nasional, dapat menjadi instrumen untuk memperkuat keyakinan publik terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Menurut dia, upaya membangun kepercayaan menjadi faktor penting agar aktivitas ekonomi tetap bergerak dan investasi terus tumbuh meski tekanan eksternal masih berlangsung.
Sementara itu, anggota DEN Firman Hidayat menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis ekonomi 1998. Ia menyebut sejumlah indikator makroekonomi masih menunjukkan kinerja yang positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang terjaga hingga tingkat inflasi yang relatif stabil.
Firman juga menyoroti kondisi sektor korporasi dan perbankan yang dinilai sehat. Menurutnya, kekuatan neraca perusahaan menjadi salah satu faktor penting yang menopang ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
“Selain indikator-indikator makro seperti pertumbuhan yang masih tinggi dan inflasi yang stabil, salah satu yang kami soroti adalah neraca korporasi yang berada dalam posisi sangat sehat,” ujar Firman.
Meski demikian, DEN mengingatkan pemerintah agar tetap waspada terhadap sejumlah risiko global, termasuk konflik geopolitik yang berkepanjangan dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kedua faktor tersebut dinilai dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi sehingga berpotensi memicu kenaikan harga di dalam negeri.
“Dampak perang ini tampaknya lebih besar dan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Ditambah lagi ada faktor pelemahan rupiah yang perlu diantisipasi,” kata Firman.
Dalam pertemuan tersebut, DEN juga menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat posisi eksternal Indonesia. Salah satunya adalah meningkatkan remitansi dari pekerja migran Indonesia yang memiliki keterampilan tinggi serta mendorong pertumbuhan jumlah wisatawan mancanegara guna menambah pasokan devisa.
Menurut Firman, sektor pariwisata dapat menjadi salah satu sumber devisa yang relatif cepat untuk diperkuat. “Kalau kita bisa meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara lebih tinggi ke depan, tentu ini akan membantu meningkatkan devisa kita,” ujarnya.
Pemerintah berharap berbagai langkah antisipatif yang tengah disiapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat ketahanan Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.





