Tren produk kerajinan dunia bergerak ke arah yang semakin personal, berkelanjutan, dan bernilai budaya. Di tengah kejenuhan pasar terhadap produk massal, konsumen global kini lebih tertarik pada barang handmade yang memiliki cerita, sentuhan manusia, dan identitas lokal yang kuat.
Laporan pasar global dari IMARC Group menyebut nilai pasar kerajinan dunia diproyeksikan mencapai US$ 2 triliun pada 2034. Pertumbuhan itu didorong meningkatnya permintaan terhadap produk rumah tangga, aksesori, tekstil etnik, hingga dekorasi berbasis kriya yang dinilai lebih autentik dibanding produk pabrikan.
Kategori dekorasi rumah disebut masih menjadi produk kerajinan paling dominan di pasar global. Produk seperti keramik artistik, dekorasi kayu, anyaman, wall art, lilin aromaterapi, hingga furnitur handmade mengalami peningkatan permintaan terutama di pasar Amerika Utara dan Eropa.
Laporan Craft Industry Alliance mencatat konsumen saat ini cenderung meninggalkan konsep interior seragam dan beralih pada dekorasi rumah yang terasa personal serta memiliki unsur artisan. Produk berbahan alami seperti kayu, linen, tanah liat, batu alam, dan logam handmade menjadi pilihan utama karena dianggap menghadirkan karakter serta kehangatan ruang.
Selain dekorasi rumah, perhiasan handmade juga menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat. Konsumen global mulai mencari produk yang memiliki nilai emosional, desain unik, dan diproduksi secara etis. Tren perhiasan vintage dan handmade bahkan mengalami lonjakan signifikan dalam dua tahun terakhir.
Media mode internasional Vogue menyoroti meningkatnya minat generasi muda terhadap perhiasan berbasis kerajinan tangan karena dinilai lebih personal dan tidak seragam seperti produk fast fashion. Produk berbahan daur ulang, perak, batu alam, hingga desain etnik kini semakin diminati pasar premium.
Di sektor fesyen, produk berbasis tekstil etnik dan sustainable fashion juga menjadi primadona baru. Konsumen dunia mulai memperhatikan asal bahan, proses produksi, serta dampak lingkungan dari produk yang mereka gunakan. Produk fesyen handmade seperti tenun, bordir tradisional, tas anyaman, dan aksesori berbahan alami mengalami pertumbuhan di berbagai marketplace global.
Global Fashion Summit 2026 di Copenhagen bahkan menempatkan isu keberlanjutan dan kolaborasi dengan pengrajin lokal sebagai salah satu agenda utama industri mode dunia. Industri fesyen global kini mulai bergerak menuju model produksi yang lebih lambat, terbatas, namun memiliki nilai budaya tinggi.
Pelaku industri kerajinan dunia menilai perubahan perilaku konsumen global tidak lagi hanya didorong faktor harga, melainkan nilai autentisitas produk. Desainer dan kurator kriya asal Inggris, Richard Goldsworthy, dalam ajang London Craft Week 2026 mengatakan produk handmade kini menjadi simbol perlawanan terhadap budaya serba instan dan homogen.
“Orang mulai mencari benda yang punya cerita dan jejak manusia,” ujar Goldsworthy dalam laporan London Craft Week 2026.
Sementara itu, sejumlah pelaku usaha kriya di platform Etsy menyebut produk yang paling cepat berkembang saat ini adalah dekorasi rumah artistik, aksesori personal, perhiasan handmade, hingga produk custom yang dibuat terbatas. Komunitas pengrajin global juga menilai konsumen semakin menghargai proses produksi manual dan kualitas karya dibanding produk massal murah.
Laporan pasar Alibaba Insight bahkan menyebut tiga kategori dengan pertumbuhan penjualan tertinggi saat ini adalah personalized gifts, artisan jewelry, dan intentional home decor. Produk-produk tersebut memiliki tingkat pembelian ulang tinggi karena dianggap memiliki nilai emosional sekaligus fungsi yang jelas.
Ketua Umum ASEPHI Muchsin Ridjan menilai perubahan tren pasar global tersebut menjadi momentum penting bagi industri kerajinan Indonesia untuk memperkuat posisi di pasar ekspor. Menurut dia, kekuatan utama produk kriya Indonesia terletak pada keberagaman budaya, keterampilan tangan para perajin, serta penggunaan material alami yang kini justru menjadi nilai tambah di pasar internasional.
“Pasar dunia sekarang mencari produk yang punya identitas, bukan sekadar barang produksi massal. Indonesia memiliki kekayaan kriya yang sangat kuat, mulai dari tenun, anyaman, ukiran, keramik, sampai perhiasan etnik. Ini peluang besar yang harus dijaga melalui kualitas, inovasi desain, dan kesinambungan produksi,” kata Muchsin Ridjan.
Muchsin menambahkan, tren global terhadap produk ramah lingkungan dan handmade juga sejalan dengan karakter industri kerajinan nasional yang sebagian besar masih diproduksi berbasis komunitas dan usaha kecil menengah. Menurut dia, penguatan ekosistem digital, akses pembiayaan, hingga regenerasi perajin menjadi faktor penting agar produk kriya Indonesia mampu bersaing lebih kuat di pasar global.
“Kerajinan Indonesia sebenarnya sangat kompetitif karena dibuat dengan sentuhan budaya dan keterampilan tangan yang tidak bisa digantikan mesin. Tinggal bagaimana kita memperkuat branding, memperluas akses pasar, dan memastikan generasi muda ikut masuk ke industri kreatif berbasis kriya,” ujarnya.
Fenomena tren ini membuka peluang besar bagi industri kerajinan Indonesia yang kaya akan produk berbasis budaya lokal. Produk seperti tenun, batik, ukiran kayu, keramik, anyaman, perhiasan perak, hingga dekorasi rumah berbahan alami dinilai memiliki posisi kuat di pasar global selama mampu menjaga kualitas, desain, dan konsistensi produksi.





