Derasnya arus informasi dan perkembangan tren digital membuat isu originalitas dalam berkarya kembali menjadi sorotan.
Fenomena ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) yang kerap dianggap sebagai jalan pintas dalam proses kreatif dinilai memunculkan tantangan baru bagi para seniman, yakni bagaimana mengolah inspirasi menjadi karya yang memiliki perspektif, nilai, dan identitas yang berbeda.
Persoalan itu mengemuka dalam diskusi bertajuk Komentar Sosial dan Eksperimental yang menjadi bagian dari rangkaian pameran Provoke di Taman Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 22 Juli 2026.
Diskusi menghadirkan Baron Basuning, Agung Frigidanto, Oscar Matuloh, dan Jay Subyakto sebagai pembicara dengan moderator Asikin Hasan. Forum tersebut mengajak publik membahas sejauh mana seni mampu menjadi kritik sosial, ruang refleksi, sekaligus medium untuk membaca perubahan zaman.
Menurut Jay Subyakto, praktik ATM yang kini banyak dijadikan acuan dalam proses kreatif membuat karya-karya seni semakin memiliki kemiripan satu sama lain. Ia menilai kecenderungan tersebut berbeda dengan perkembangan seni pada masa lalu yang justru melahirkan lompatan-lompatan kreativitas dan gaya baru.
“Melalui ATM, Amati, Tiru, dan Modifikasi, perkembangan seni rupa tidak menunjukkan kreativitas atau perbedaan-perbedaan yang tajam,” kata Jay dalam diskusi.
Diskusi ini menjadi ruang yang mempertemukan seni, masyarakat, dan gagasan melalui perspektif seniman serta kurator.
Berbagai pertanyaan tentang bagaimana seni berbicara mengenai realitas dan bagaimana karya dapat menjadi kritik maupun eksperimen terhadap perubahan sosial menjadi pokok pembahasan sepanjang sesi.
Pameran Provoke sendiri menampilkan karya seni indoor dan outdoor di kawasan Taman Menteng hingga 26 Juli 2026.
Selain pameran, penyelenggara juga menghadirkan diskusi publik, percakapan dengan perupa dan kurator, workshop, serta panggung apresiasi seni yang digelar setiap hari. (FA)




