Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus memperluas peluang kemitraan antara pelaku usaha nasional dan perusahaan-perusahaan global guna meningkatkan daya saing serta membuka akses ke pasar internasional. Langkah ini dinilai penting agar UMKM Indonesia tidak hanya menjadi pemain di pasar domestik, tetapi juga mampu terhubung dengan rantai pasok regional dan global.
Komitmen tersebut disampaikan Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian UMKM, Sudaryano Rahmalifman Lamangkona, saat membuka lokakarya bertajuk Innovate to Scale: Mendorong Pertumbuhan UKM Indonesia dengan Inovasi Digital di Kabupaten Badung, Bali, Jumat, 5 Juni 2026.
Dalam forum yang diikuti sekitar 200 pelaku UMKM itu, Sudaryano mengapresiasi program pairing yang mempertemukan pengusaha UMKM dengan sejumlah perusahaan anggota US-ASEAN Business Council (USABC), termasuk Apple Developer Academy dan PepsiCo. Menurut dia, kemitraan semacam itu dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperluas jaringan bisnis.
“Yang kita butuhkan bukan hanya pelatihan, tetapi kolaborasi yang berkelanjutan. Kemitraan antara UMKM dan perusahaan besar dapat menjadi jembatan untuk memperkuat kapasitas usaha sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas,” ujar Sudaryano.
Melalui program tersebut, para pelaku UMKM memperoleh kesempatan untuk mengenal teknologi terbaru, memperluas jejaring usaha, serta menjajaki peluang kerja sama bisnis dengan perusahaan berskala internasional. Pemerintah berharap pola kolaborasi semacam ini dapat mempercepat transformasi UMKM agar lebih siap bersaing di tengah ekonomi digital yang berkembang pesat.
Sudaryano menilai transformasi digital menjadi fondasi utama dalam meningkatkan daya saing usaha mikro dan kecil. Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dinilai mampu membantu pelaku usaha meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan menciptakan nilai tambah bagi produk maupun layanan yang ditawarkan.
“Kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi salah satu kunci agar UMKM dapat tumbuh lebih cepat, lebih efisien, dan mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang,” katanya.
Selain mendorong kolaborasi dengan sektor swasta, Kementerian UMKM juga memperkuat layanan pendampingan melalui program SAPA UMKM. Program tersebut dirancang sebagai layanan terpadu yang memberikan akses lebih mudah bagi pelaku usaha untuk mendapatkan konsultasi bisnis, pelatihan, pengembangan kapasitas, kemitraan usaha, hingga akses pasar.
Pemerintah berharap pendekatan yang terintegrasi tersebut mampu mempercepat peningkatan kualitas UMKM sekaligus memperluas konektivitas mereka dengan berbagai ekosistem bisnis di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Sudaryano, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Namun, hal itu hanya dapat terwujud apabila pelaku UMKM mampu memanfaatkan teknologi, membangun inovasi, dan menjalin kolaborasi yang berkelanjutan dengan berbagai pihak.
“UMKM Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain penting dalam ekonomi digital ASEAN. Dengan inovasi, kolaborasi, dan transformasi digital yang inklusif, UMKM Indonesia dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus wajah daya saing Indonesia di pasar dunia,” ujarnya.




