Survei IKEA terhadap lebih dari 30 ribu orang di berbagai negara menunjukkan penghuni rumah kini lebih memilih ruang yang terasa hidup daripada interior serba rapi. Barang sentimental, dekorasi personal, dan kebiasaan menyimpan barang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 59 persen responden survei IKEA Store and Organize Report memilih rumah dengan tampilan yang terasa dihuni ketimbang ruang minimalis dengan permukaan bersih dan perabot terbatas. Survei terhadap lebih dari 30 ribu orang di berbagai negara itu menunjukkan perubahan cara masyarakat mengelola barang dan memandang rumah.
Hanya 9 persen responden mengaku sebagai penganut maksimalisme, sementara 20 persen lainnya menyatakan sudah menyerah mengendalikan kekacauan barang di rumah.
Barang-barang yang tersimpan juga memiliki nilai emosional. Sebanyak 82 persen responden mempertahankan benda sentimental, seperti hadiah dan barang warisan. Sekitar 26 persen bahkan menyimpan benda yang mengingatkan mereka pada mantan pasangan.
Generasi Z menjadi kelompok yang paling sering memajang barang sentimental di rumah. Benda-benda tersebut bukan sekadar memenuhi ruang, tetapi juga menyimpan kenangan dan bagian dari kehidupan pemiliknya.
Kebiasaan menyimpan barang tanpa tempat khusus ternyata terjadi di berbagai negara. Sebanyak 68 persen responden mengaku memiliki laci atau kotak berisi barang-barang acak yang tidak memiliki tempat penyimpanan tetap.
Di Amerika Serikat, angka itu mencapai 75 persen. Laci semacam ini menjadi tempat menyimpan berbagai benda yang belum sempat dirapikan atau dianggap masih mungkin berguna suatu saat.
Masyarakat di sejumlah negara juga memiliki cara kreatif untuk mengelola barang. Responden Swedia menggunakan stoples untuk menyimpan perlengkapan dapur, sedangkan warga Finlandia memilih keranjang dekoratif.
Di Inggris, koper menjadi tempat menyimpan barang berlebih ketika tidak digunakan bepergian. Sementara itu, masyarakat Cina memanfaatkan kembali furnitur lama sebagai tempat penyimpanan.
Cara yang paling tidak biasa ditemukan di Korea Selatan. Sebanyak 21 persen responden mengaku menggunakan oven sebagai ruang penyimpanan tambahan.
Kondisi rumah juga memengaruhi hubungan sosial. Sebanyak 10 persen responden pernah membatalkan acara berkumpul karena rumah mereka dianggap belum siap menerima tamu.
Sebanyak 34 persen memilih menyembunyikan barang-barang berantakan di tempat yang tidak terlihat agar rumah tampak lebih rapi.
Kebiasaan itu paling banyak ditemukan di Inggris. Hampir separuh responden Inggris mengaku menyimpan barang berantakan di suatu tempat sebelum tamu datang dan mengeluarkannya kembali setelah acara selesai.
Barang yang disimpan di rumah tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mencerminkan identitas dan aspirasi penghuninya.
Sebanyak 21 persen responden generasi Z memiliki barang yang dapat mengejutkan orang-orang terdekat mereka. Sementara itu, 17 persen mengaku menyembunyikan makanan ringan dari diri sendiri.
Survei juga menemukan 21 persen responden masih menyimpan perlengkapan untuk hobi yang pernah mereka minati, tetapi belum sempat dilakukan.
Temuan IKEA memperlihatkan bahwa kebiasaan menyimpan barang tidak selalu berkaitan dengan keinginan mempertahankan benda semata. Barang-barang tersebut juga menjadi bagian dari kenangan, identitas, dan harapan seseorang.
Rumah pun tidak selalu harus menjadi ruang yang kosong dan seragam. Bagi banyak orang, rumah justru terasa lebih nyaman ketika mencerminkan kehidupan, pengalaman, dan kepribadian penghuninya.





