Industri desain interior global mulai menunjukkan arah baru pada 2026. Setelah bertahun-tahun didominasi tren cepat, estetika viral, dan gaya yang silih berganti dalam waktu singkat, pasar kini bergerak menuju pendekatan yang lebih tenang dan berjangka panjang. Fenomena itu disebut sejumlah pengamat desain sebagai era “anti-trend”.
Perubahan tersebut terlihat dari semakin banyaknya produk furnitur, dekorasi rumah, hingga lini fesyen dan kecantikan yang mengedepankan desain klasik, material berkualitas, dan konsep timeless dibanding sekadar mengikuti tren media sosial.
Stylist Design Lab by Livingetc menyebut 2026 sebagai titik balik ketika pasar retail mulai meninggalkan budaya desain “sekali pakai” dan beralih pada konsep quiet luxury atau kemewahan yang lebih subtil.
“Kini ada suasana yang lebih tenang dan percaya diri di toko-toko. Fokusnya bukan lagi pada kebaruan, tetapi pada desain yang memiliki umur panjang,” tulis Livingetc dalam ulasannya mengenai tren desain 2026.
Fenomena quiet luxury sebelumnya lebih banyak dikenal di dunia fesyen melalui penggunaan material premium dengan tampilan minimalis dan tanpa logo mencolok. Namun pada 2026, pendekatan tersebut mulai merambah sektor interior dan home living.
Konsumen dinilai semakin selektif dalam memilih produk rumah tangga dan furnitur. Alih-alih membeli barang berdasarkan tren viral sesaat, banyak orang kini mencari produk yang tetap relevan digunakan dalam jangka panjang.
“Orang mulai mencari produk yang bisa tumbuh bersama mereka, tidak cepat terasa usang, dan tetap relevan bahkan 10 tahun mendatang,” tulis Livingetc.
Perubahan perilaku konsumen itu juga dipengaruhi meningkatnya kesadaran terhadap isu keberlanjutan dan limbah industri dekorasi rumah. Produk berbasis desain cepat dan produksi massal dinilai semakin ditinggalkan karena dianggap mendorong budaya konsumsi berlebihan.
Sebaliknya, pasar mulai mengapresiasi desain yang lebih personal, tahan lama, dan memiliki kualitas material yang baik. Bentuk furnitur sederhana, warna-warna netral, tekstur alami, serta produk handmade kini semakin diminati.
Tren anti-trend juga terlihat dari meningkatnya popularitas material kayu alami, batu, linen, rotan, hingga tekstil artisan dalam berbagai koleksi interior global sepanjang tahun ini.
Sejumlah pelaku industri menilai pergeseran tersebut menjadi peluang besar bagi produk kerajinan dan desain berbasis craftsmanship, termasuk dari negara-negara Asia seperti Indonesia.
Produk handmade dengan nilai budaya dan proses produksi berkelanjutan dianggap memiliki posisi kuat di tengah kejenuhan pasar terhadap desain seragam dan produksi instan.
Pengamat desain menyebut gerakan anti-trend bukan berarti menolak inovasi atau perkembangan gaya baru. Sebaliknya, pendekatan ini lebih menekankan pada pemilihan desain yang mampu bertahan melewati perubahan tren.
“Gerakan anti-trend bukan tentang menolak gaya, tetapi memilih desain yang mampu melampaui tren itu sendiri,” seperti dikutip dari Livingetc.
Perubahan arah industri tersebut diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan, terutama seiring meningkatnya minat konsumen terhadap rumah yang lebih personal, nyaman, dan memiliki hubungan emosional dengan penghuninya.





