Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta akan menjadi ruang perjumpaan para seniman lintas generasi dalam gelaran O, – Nol Koma #1 bertajuk Ruang Awal, Ruang Bersama pada 10 Juli 2026. Acara yang digagas komunitas Malioboro Classical Jogja ini hadir sebagai upaya merawat ingatan kolektif sekaligus menghidupkan kembali semangat Malioboro sebagai ruang budaya yang terbuka bagi siapa saja.
Bagi banyak kalangan seni dan budaya, Malioboro bukan sekadar kawasan wisata. Selama puluhan tahun, kawasan ini dikenal sebagai ruang tumbuh yang melahirkan penyair, musisi, pelukis, budayawan, wirausahawan, akademisi, politisi, hingga pemikir yang memberi warna bagi perjalanan kebudayaan Indonesia.
Malioboro memiliki sejarah panjang sebagai ruang publik yang melahirkan banyak gagasan, karya seni, dan tokoh penting di bidang seni budaya. Karena itu, gelaran O, – Nol Koma #1 dirancang sebagai pengingat bahwa Malioboro tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan warisan sosial dan budaya yang perlu terus dirawat.
Semangat tersebut berangkat dari posisi Jalan Malioboro yang merupakan bagian penting dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2023. Namun, kekuatan utama Malioboro tidak hanya terletak pada aspek fisik dan sejarah kawasan, melainkan pada tradisi perjumpaan, dialog, dan proses kreatif yang tumbuh di dalamnya.
Malioboro bahkan kerap disebut sebagai “kampus jalanan”, tempat siapa saja dapat belajar tanpa batas latar belakang sosial maupun pendidikan formal. Dari ruang terbuka itu lahir berbagai pengalaman, jejaring, dan perspektif yang membentuk perjalanan banyak pelaku seni dan budaya.
Melalui O, – Nol Koma #1, Malioboro Classical Jogja menghadirkan kembali ruang ekspresi yang mempertemukan pengalaman para seniman senior dengan energi generasi muda. Acara ini tidak hanya menjadi panggung apresiasi seni, tetapi juga ruang regenerasi kebudayaan.
Sejumlah musisi yang akan tampil dalam gelaran tersebut, antara lain Sirkus Barock, Akrosh, Alceena Inside, Beauty Disaster, Diar Sahudi & Friends, Kukuh Kudamai, Jagger, Frida, Lia Yures, Aan Stones, Partikelir, Tjongpick, hingga Kelompok Penyanyi Jalanan Malioboro (KPJM).
Selain pertunjukan musik, acara ini juga menghadirkan pembacaan puisi dan sastra oleh Doni Haryo, Sekartaji Ayuwangi, Luwi Darto, Dinar Roos & Pak Yan, Ahmad Jalidu, Piwulang Sastra, Silvia Anggreni Purba, Dewi Wapah, Menik Sithik, dan Daniel Godan. Aktivitas seni rupa juga akan ditampilkan dan melibatkan berbagai komunitas dan seniman kolaborator.
Salah satu agenda utama dalam pembukaan O, – Nol Koma #1 nanti adalah peresmian simbolik Monumen Umbu Landu Paranggi oleh Wali Kota Yogyakarta. Sosok yang dikenal sebagai “Presiden Malioboro” itu dipilih sebagai tokoh pertama dalam program memorial budaya yang digagas penyelenggara. Adapun monumen real-nya dijadwalkan akan didirikan pada penyelenggaraan O, – Nol Koma #2 yang akan mengusung tema Merawat Jejak, Merajut Waktu.
Monumen tersebut dirancang sebagai media dokumentasi dan pengenalan tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan seni, budaya, dan kehidupan intelektual Yogyakarta.
Selain memuat informasi dasar mengenai tokoh, monumen akan dilengkapi kode QR yang menghubungkan pengunjung dengan arsip digital berisi dokumentasi, karya, serta referensi terkait perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi.
Ke depan, program memorial budaya ini akan menghadirkan tokoh-tokoh lain yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah dan perkembangan kebudayaan Yogyakarta.
Nama O, – Nol Koma dipilih untuk menggambarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu berawal dari titik kecil. Acara ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya generasi baru pelaku seni dan budaya.
Gelaran O, – Nol Koma #1 diharapkan dapat menjadi titik awal tumbuhnya kembali ruang dialog, ruang apresiasi, dan ruang kreatif yang selama ini menjadi denyut kehidupan Malioboro. Sebab, seni tidak hanya membutuhkan panggung, tetapi juga ekosistem yang memungkinkan gagasan, karya, dan manusia bertumbuh bersama.





