• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Art

The Journey of Civilization, Merekam Jejak Waktu di Atas Tanah Liat

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
June 20, 2026
in Art, Product
0
The Journey of Civilization, Merekam Jejak Waktu di Atas Tanah Liat
0
SHARES
16
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bagi Agus Imron, kreativitas bukanlah sesuatu yang lahir dari kemewahan. Kreativitas justru tumbuh dari kegelisahan paling mendasar: bagaimana menyambung hidup. Lelaki yang akrab disapa Dayak itu masih mengingat betul alasan mengapa ia memulai usaha kerajinan gerabah yang kini telah menembus pasar internasional.

“Saya membuka usaha ini karena saya lapar,” katanya. Kalimat yang sederhana itu bukan sekadar metafora, melainkan cerminan situasi yang dihadapinya lebih dari dua dekade lalu ketika memutuskan bertahan sebagai perantau di Yogyakarta.

Lahir dan besar di Kalimantan, Agus datang ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan. Ia mengenyam pendidikan seni di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta, lalu melanjutkan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Studi yang ditekuninya adalah teater dan film. Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa jalan hidupnya kelak justru membawanya menjadi pengusaha gerabah yang produknya dipasarkan ke berbagai negara.

Yogyakarta pada era 1990-an menjadi ruang belajar yang sesungguhnya bagi Agus. Selain kampus, Malioboro dan berbagai komunitas kesenian menjadi tempatnya bertumbuh. Ia bergaul dengan para pelukis, musisi, aktor, hingga pegiat budaya. Salah satu sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan kreatifnya adalah almarhum Ambar Polah, tokoh seni sekaligus mantan Ketua ASMINDO Yogyakarta. Bersama komunitas Tratag Budaya, Agus banyak belajar secara informal tentang cara melihat karya, memahami pasar, hingga membaca perilaku konsumen.

“Bagi saya itu ngaji visual,” ujarnya. Tidak ada ruang kelas maupun silabus. Namun dari pergaulan kreatif itulah ia menyerap banyak hal yang kelak menjadi fondasi dalam menjalankan usaha.

Sebelum menekuni kerajinan, Agus sempat mengelola toko buku di kawasan Sosrowijayan bersama seorang rekannya. Mereka menjual buku-buku berbahasa Inggris bagi wisatawan mancanegara yang banyak singgah di kawasan tersebut. Di samping toko buku, terdapat sebuah garasi kecil yang dimanfaatkan untuk memajang lukisan dan patung secara konsinyasi. Kehidupan berjalan sederhana hingga gempa besar yang melanda Yogyakarta pada 2006 mengubah segalanya.

Bangunan tempat mereka mencari nafkah rusak parah. Pemilik lahan memutuskan menjual lokasi tersebut sehingga usaha yang mereka jalankan tidak dapat dilanjutkan. Dalam situasi yang serba tidak pasti, Agus dan keluarganya dihadapkan pada persoalan yang paling mendasar. “Biaya hidup tetap harus jalan. Gempa atau tidak, urusan perut tidak bisa berhenti,” katanya.

Di tengah kondisi itu, Agus mulai menerima pekerjaan membuat display pameran. Kemampuannya menata ruang dan memahami komposisi membuat jasanya banyak digunakan. Namun ada satu hal yang selalu dilakukannya: membagikan semua ilmu yang dimiliki kepada orang-orang yang bekerja bersamanya. Akibatnya, para klien yang semula menggunakan jasanya lambat laun mampu berdiri sendiri dan tidak lagi membutuhkan bantuannya.

“Saya mengajari mereka sampai pintar. Setelah itu saya kehilangan pekerjaan lagi,” ujarnya sambil tertawa.

Suatu ketika, seorang sahabat meminta Agus membuat sampel produk kerajinan. Ia menolak karena merasa tidak memiliki kemampuan di bidang tersebut. Namun sahabatnya justru meyakinkannya. Jika Ambar Pola mempercayai kemampuan Agus sepenuhnya, tidak ada alasan baginya untuk meragukan ilmu yang telah dimiliki. Kalimat itu membuat Agus mulai percaya pada dirinya sendiri.

Dengan modal hanya Rp300 ribu, ia memulai usaha. Separuh uang yang diperolehnya dari pekerjaan sebelumnya diberikan kepada istrinya untuk kebutuhan rumah tangga. Sisanya digunakan untuk membuat produk pertama.

Pilihan jatuh pada gerabah. Menurutnya, dibandingkan kayu yang membutuhkan modal besar, gerabah memiliki risiko yang lebih kecil. Apalagi Yogyakarta memiliki sentra gerabah Kasongan yang telah lama dikenal.

Usaha yang dirintisnya kemudian diberi nama Nusantara Jalu Perkasa. Nama itu merupakan gabungan nama kedua anaknya, Jiwa Nusantara dan Dia Sahitya Panjalu. Di balik nama tersebut tersimpan doa agar keluarganya tumbuh kuat dan mampu bertahan menghadapi berbagai keadaan.

Meski memilih jalan sebagai pengusaha, Agus tidak pernah meninggalkan dunia teater. Justru sebaliknya, ia membawa seluruh disiplin yang dipelajarinya ke dalam dunia bisnis. Prinsip dramaturgi, kesadaran ruang, kesadaran bentuk, dan komposisi yang selama ini menjadi bagian dari dunia pertunjukan diterapkannya dalam menciptakan produk.

Baginya, sebuah karya kerajinan tidak sekadar benda mati. Produk harus memiliki karakter dan cerita. Ia memperlakukan proses penciptaan karya seperti membedah sebuah naskah teater. Setiap bentuk, tekstur, dan warna memiliki makna tersendiri.

Inspirasi terbesar bagi Agus justru berasal dari sesuatu yang kerap dianggap tidak menarik: dinding-dinding tua yang mengelupas. Dinding keraton, rumah-rumah tua, serta jejak-jejak waktu yang tertinggal di berbagai sudut kota menjadi sumber gagasannya. Dari sana lahir filosofi yang kemudian menjadi identitas karya-karyanya, The Journey of Civilization atau perjalanan peradaban.

“Kalau dinding itu bisa bicara, mungkin dua minggu tidak akan selesai menceritakan apa yang dilihatnya,” kata Agus.

Filosofi itu melahirkan berbagai seri produk seperti Coral, Vintage, Antique, and Melancholy. Permukaan produk dibuat seolah-olah telah mengalami perjalanan waktu yang panjang. Banyak pembeli luar negeri kemudian mengaitkan karya-karyanya dengan konsep wabi-sabi dari Jepang yang memandang ketidaksempurnaan sebagai bagian dari keindahan.

Perlahan, pasar internasional mulai mengenal produknya. Pembeli dari Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, Portugal, Yunani, Polandia, hingga Amerika Serikat mulai datang. Agus menerapkan prinsip yang disebutnya one country one buyer. Ia sengaja membatasi jumlah pembeli di satu negara agar para pelanggan merasa eksklusif dan tidak saling bersaing.

Menjelang Piala Dunia Qatar 2022, produk-produk Nusantara Jalu Perkasa dipesan untuk kebutuhan Qatar Airways. Sebanyak enam kontainer diberangkatkan menggunakan pesawat untuk memenuhi kebutuhan menjelang perhelatan sepak bola terbesar di dunia tersebut. Saat ini, karya-karyanya juga mengisi berbagai proyek hotel di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Namun bagi Agus, ukuran keberhasilan bukanlah besarnya omzet atau banyaknya negara tujuan ekspor. Hal yang paling ia syukuri adalah kemampuannya mempertahankan para pekerja di tengah berbagai krisis global, mulai pandemi Covid-19, perang Ukraina, hingga konflik di Timur Tengah.

“Alhamdulillah, saya tidak pernah merumahkan pegawai,” katanya.

Baginya, bisnis bukan semata persoalan keuntungan, melainkan bagaimana menjaga ekosistem. Para pemasok, perajin, pekerja, dan seluruh mata rantai produksi harus tumbuh bersama. Karena itulah ia tidak tergoda untuk memperbesar kapasitas secara berlebihan apabila kemampuan pembiayaan belum mencukupi.

Berangkat dari pandangannya mengenai pentingnya keterhubungan antara seni dan industri kreatif, Agus kemudian aktif di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Wakil Ketua Bidang Industri Kreatif.

Ia juga terlibat sebagai penasihat komunitas Malioboro Classical Jogja yang selama ini aktif menghidupkan ruang-ruang budaya di Yogyakarta. Menurut Agus, seni dan industri kreatif tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem yang sehat bagi masyarakat.

Agus Imron

Di usianya sekarang, Agus Imron masih menganggap dirinya sebagai seorang pembelajar. Ia menyebut aktivitasnya sebagai “ngaji visual”, sebuah proses tanpa akhir untuk memahami kehidupan melalui bentuk, warna, dan ruang. Dari seorang anak teater yang merantau dari Kalimantan, ia menemukan jalan hidupnya melalui gerabah. Dan dari rasa takut akan kelaparan, lahirlah karya-karyanya yang kini menjadi bagian dari perjalanan peradaban di berbagai belahan dunia.

Previous Post

Indonesia Melesat ke Posisi Kedua Destinasi Wisata Ramah Muslim Dunia

Next Post

Akan Ada Monumen Umbu Landu Paranggi di Malioboro

Next Post
Akan Ada Monumen Umbu Landu Paranggi di Malioboro

Akan Ada Monumen Umbu Landu Paranggi di Malioboro

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo